Wednesday, December 09, 2009

Biarkan Notamu Tertulis Apa Adanya - Sebuah Cerpen


Hari itu seperti biasanya, kesibukan diantara mengerjakan servisan, melayani pelanggan serta pesanan barang, datang seorang pelanggan muda yang sudah lama tidak bersua. Dia membawa sebuah PC yang berarti dia membawa rejeki sekaligus amanah bagiku. Salam hangat mengawali pertemuan kami hari itu.

“Assalamualaikum…” salamnya

“Walaikumsalam…ada apa nih ?” balasku


“Ini Mas PC kantor bermasalah, gak tau kenapa. Tiba-tiba bisa mati sendiri, tolong diperiksa apanya yang rusak.” secara singkat dia menjelaskan maksud kedatangannya.


“Oke deh saya periksa dulu ya. Wah kamu sudah kerja ya sekarang ? ujarku.

“Gak Mas, saya lagi PKL”
“Oh…kirain kamu sudah kerja, oke deh ntar saya kabarin ya kalo sudah beres.”

“Iya Mas, SMS-in aj ntar, nomer saya gak ganti kok.”


“Sip deh kalo gitu, segera saya kabarin”


“Saya balik ke kantor dulu Mas, Assalamualaikum” , salamnya seraya pergi


“Walaikumsalam”, balasku.


Aku pun segera mengadakan pemeriksaan. Setelah aku coba beberapa kali serangkaian tes, aku pun menemukan masalah pada PC tersebut. Kecepatan putaran kipas prosessor menurun sehingga tidak mampu mendinginkan prosessor secara optimal, yang berakibat panas berlebih (overheat) dan akhirnya PC restart sendiri. Aku melepas kipas dan mencoba membersihkannya dari debu yang sudah menumpuk, aku berharap pekerjaan sederhana ini bisa menyelesaikan masalah. Tak lupa aku memberikan pelumas pada bagian rotor kipas, agar kecepatan putar kipas bisa beroperasi pada kecepatan maksimalnya. Kipas dipasang kembali dan PC pun dijalankan kembali. Aku memeriksa pada menu BIOS, ternyata kecepatan putaran kipas sangat rendah dan overheat kembali terjadi. Ternyata kipas prosessor ini sudah melewati masa produktifnya, dan solusinya harus diganti dengan yang baru. Melihat yang aku kerjakan, asistenku pun bertanya.

"Kok capek-capek dibersihkan sih Mas, kan tinggal bilang aj kipasnya sudah rusak, harus diganti yang baru biar bisa berjalan normal" protesnya


"Ya gak boleh gitu, kita harus mencoba dulu upaya terbaik untuk klien. Kalo memang masih bisa digunakan cuma dengan membersihkan, ya kita bersihkan" jelasku.


"Selain itu, pekerjaan yang kita terima bukan semata-mata pekerjaan, tetapi juga amanah buat kita" aku menambahkan.


"Maksudnya sebagai amanah itu bagaimana Mas ?" asistenku itu kini bertanya.


"Amanah itu berarti kita menerima dan memperlakukannya layaknya milik kita sendiri. Nah, bayangkan PC yang bermasalah ini adalah punyamu sendiri, tentu kamu akan mengupayakan yang terbaik kan...dan terbaik itu tidak hanya berarti efektif tetapi juga efisien" aku kembali menjelaskan.


"Iya Mas, saya paham sekarang. Mulai sekarang saya akan menerima semua servisan sebagai amanah terlebih dahulu dibanding sebuah proyek...hehehe" jawabnya sambil terkekeh.


"Wah kepahamanmu ditambah tawamu itu tampak meragukan...hahaha" balasku sedikit mengejeknya


"Gak kok Mas, saya paham sekarang. Sini Mas biar saya saja yang mengganti kipas barunya" tawarnya.


"Oke deh, tolong ya, biar saya SMS dia dulu" aku pun segera mengetik SMS pada ponselku.


- PC-nya sdh beres.fan procie rusak,ganti baru harga 70rb.tks -

SMS pun kukirim
Sejenak kemudian, SMS balasan aku terima.

- Oke mas ganti aj, ntar saya segera kesana.tks - begitu balasannya


Selang beberapa waktu, dia pun datang. PC sudah siap diserahkan, dan dia meminta aku untuk membuatkan nota atas penggantian kipas prosessor yang baru itu.

"Oya Mas, tulis aja dinotanya 120 ribu ya" pintanya.

Aku terdiam sesaat.

"Gak papa nih ?" tanyaku.

"Gak papa Mas, dah biasa kok. Rata-rata dikantor semua pada begitu" jawabnya santai.
Aku tersenyum kecut.

"Kenapa Mas" tanyanya atas responku.


"Gak papa, kamu kecil-kecil sudah pinter mark-up ya" sentilku.

"Lumayan lah Mas buat tambahan" jawabnya menyeringai.


Aku menggeleng-geleng saja. Nota selesai aku buat sesuai permintaan, PC diserahkan dan dia segera kembali ke kantornya.

"Kenapa Mas tadi notanya?" asistenku kembali bertanya.


"Biasa lah, nguntungin...mark up" ujarku.


"Wah itu gak amanah namanya kan Mas?" sergahnya.


"Sudahlah...yang penting kita sudah menyelesaikan kewajiban kita"


"Dikasi tau donk Mas, jangan cuma saya yang dikasi tau" protesnya.


"Yah...ntar lah, mudahan nanti ada waktunya yang lebih tepat" jawabku seraya menarik napas.

Sesaat kemudian kami pun kembali sibuk mengerjakan servisan yang masih tersisa. Entah berapa lama persisnya, tiba-tiba pelanggan muda tadi datang kembali dengan PC yang dibawa sebelumnya. Kecemasan terlintas diwajahnya, sepertinya sesuatu yang tidak baik telah menimpa dirinya. Dia menyampaikan salam untuk kemudian menyerahkan lagi PC tersebut kepadaku.

"Ini Mas tolong diperiksa lagi" ujarnya singkat.


"Loh kenapa...masih mati sendiri ?" tanyaku.


"Bukan Mas, PC-nya terjatuh tadi dijalan. Saya barusan ditabrak lari orang tadi diperempatan" ujarnya seraya mengelus sikunya yang baru kuperhatikan ternyata lecet-lecet. Lututnya juga berdarah.


"Wah gimana ceritanya, kok bisa...?" ujarku kaget.

"Gak tau Mas, tiba-tiba dari arah kanan ada orang ngebut menabrak motor saya dari samping. Saya terjatuh terguling, orang itu langsung meninggalkan saya begitu saja" jelasnya.


"Tapi kamunya gak papa kan ?" tanyaku lagi.

"Ya ini Mas, dapat oleh-oleh lecet-lecet...tapi gak ada luka serius. Tapi motor saya ada beberapa bagian yang ringsek" aku kemudian melemparkan pandangan ke motornya. Memang benar, lampu seinnya pecah dan bagian fairingnya ringsek.


"Ini minum dulu, sekalian obati dulu lukamu. Sudah nyantai aja dulu disini" aku memberikan segelas air mineral. Kemudian asistenku mengambilkan Betadine.
Dia menetesi luka-lukanya dengan Betadine, wajahnya tampak cemas. Dia pasti mengkhawatirkan kondisi PC kantor dan juga sepeda motornya. Sementara itu aku kembali memeriksa PC-nya. Karena terbanting, beberapa komponen ada yang terlepas tetapi tidak rusak. Kecuali kipas prosessor, selain terlepas ada beberapa bagian yang patah. Artinya kipas prosessor harus diganti lagi untuk kedua kalinya.

"Ini fan processornya rusak, kaki-kaki pengaitnya patah, harus diganti lagi dengan yang baru. Gimana ?" aku mengkonfirmasikan kepadanya.

"Waduh...mau untung malah buntung" keluhnya dan keruh wajahnya.

"Kok saya sial sekali hari ini ya..." dia melanjutkan keluhannya, dan diam sejenak seperti mengingat-ingat sesuatu.

"Oh...jangan-jangan saya diingatkan ini gara-gara mark-up tadi ya Mas?" kini dia balik bertanya kepadaku.


Aku pun tersenyum melihat tingkahnya.
"Bersyukurlah...karena kamu melihat musibah ini sebagai peringatan bagimu dan bersyukur lagi lah karena disegerakan datangnya. Sebenarnya tadi saya keberatan untuk membuatkan nota tersebut, tapi saya juga sungkan untuk menegur langsung, takut kamu tersinggung"

"Tapi kok bersyukur karena teguran ini disegerakan datangnya Mas" ia kembali bertanya.

"Ya jelas...coba kalau misalnya setelah sepuluh tahun lagi kamu baru mendapat teguran ini, disaat kamu sudah memiliki posisi penting dan mark-up kamu sudah milyaran rupiah, belum tentu kamu akan menganggap musibah ini adalah peringatan dari langit. Paling kamu menganggapnya hanya sebuah kesalahan dalam mengakali sistem.
Dan tahukah kamu, disaat kamu melakukan mark-up tadi, sebenarnya kamu sudah merendahkan diri kamu sendiri dihadapan saya".

"Kenapa bisa begitu mas?"


"Kamu sudah mematok harga dirimu hanya sebesar nilai mark-up tadi, selisih antara 120 ribu rupiah dikurangi 70 ribu rupiah. Itulah harga dirimu, dirimu terjual hanya sebesar itu. Apakah kamu rela kepribadian dan nama baikmu hanya dihargai sekecil itu?" aku balik bertanya.


"Tentu tidak mas" ia menjawab seraya tertunduk...malu.


"Ingat nama baik diri kita adalah segalanya. Coba pikirkan begini, apa saya akan menerima kamu sebagai karyawan saya setelah mengetahui kualitas kepribadian kamu? terlebih merekomendasikan kepada pihak lain ?" aku bertanya lagi.


"Tentu tidak mas" jawabnya sama dan cemas.


"Oleh karena itu, bersyukurlah akan teguran kecil ini akan membesarkan dirimu apabila kamu menyambutnya dengan lapang dada. Bagaimana ?"


"Iya mas, saya bersyukur atas musibah kecil yang menimpa saya ini. Saya merasa terselamatkan, luka kecil dan kerugian beberapa rupiah ini tidak sebanding dengan nama baik saya sekarang dan yang akan datang".


"Jadi gimana notanya, apa perlu saya buatkan 2x 120 ribu rupiah?" pancingku dengan sedikit senyum selidik.


"Waaaah...mas ngejek saya nih" ia tertawa. "Gak perlu mas, tulis saja apa adanya. Bikin nota baru saja, yang tadi saya kembalikan ke mas aja. Gak perlu mark-up deh, malu-maluin" ia mentertawakan dirinya sendiri.

"Itu baru namanya calon orang sukses, berani menjaga nama baik juga dengan kebaikan. Nih sebagai bonus saya kasi hadiah game PC terbaru".


"Nah itu baru mantep namanya mas, makasih ya" ia tampak sangat puas sekali sekarang, mungkin rasa sakit dari lukanya sedikit terlupakan.


"Ya sudah, ini komputer juga sudah selesai dipasang fan yang baru. Hati-hati dijalan ya, tidak usah ngebut" aku mengingatkan.

"Insya Allah mas, saya pamit dulu...sekali lagi terima kasih mas" ia pun bergegas membawa PC dan kembali menuju kantornya.
Asistenku yang sejak tadi diam, kini mendekat dan membuka pembicaraan lagi.

"Wah ternyata dapat juga waktu yang pas buat menegurnya ya mas" ujar asistenku

"Iya, saya juga gak nyangka kejadian ini. Bagus buat hikmah hari ini dan semoga kita termasuk orang-orang yang terhindar dari praktek-pratek dan pekerjaan yang merendahkan harga diri kita". Balasku


- S e l e s a i -

Cerpen ini ditulis untuk ikut mendukung gerakan dan hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember 2009
Mulailah dari diri sendiri, tunjukkan kita punya harga diri

Monday, November 23, 2009

Banggakan Yang Seharusnya dan Dapatkan Wibawanya


Adalah membanggakan memiliki Ayah yang hebat pencapaiannya
dan betapa menyenangkan menjadi anak dari Ibu yang penuh kasih sayang

Adalah seyogyanya memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada beliau


Namun adalah tugas kita untuk lepas dari bayang-bayang kehebatan mereka
untuk kemudian menjadi diri kita yang seutuhnya dengan segala potensi yang ada.


Namun adalah menjadi memalukan diri sendiri
saat kita membanggakan hasil jerih payah mereka

untuk kemudian kita jadikan "baju kebanggaan" pribadi,
terlebih untuk merendahkan orang lain
sedang kita tidak melakukan apa-apa...

semisal membanggakan WARISAN harta...yang sebenarnya bukan hasil jerih payah kita.

semisal membanggakan JABATAN...yang sebenarnya adalah amanah.


Bukankah Sang Pangeran Cinta mengatakan sebaik-baiknya warisan adalah ILMU yang bermanfaat ?

Banggakanlah yang seharusnya dan dapatkan wibawanya...

Tuesday, November 17, 2009

Kunci Keajaiban

Bukankah selama ini engkau mempercayai semuanya adalah keajaiban ?
Apabila engkau percaya semua ini adalah sebuah keajaiban yang dihadirkan-Nya untukmu,
mengapa engkau tak yakin akan keajaiban lain oleh-Nya, yang bisa dengan mudah dihadirkan-Nya kembali kepada engkau ?

Adalah sangat mungkin Dia sudah menyiapkan sebuah keajaiban berikutnya yang lebih indah

Hanya dengan sebuah syarat yang kadang memang tidak mudah


Karena Ia mensyaratkan ikhlas untuk keindahan skenario-Nya untuk kita

bukannya kepasrahan engkau...

Oleh karena itu ikhlaskanlah skenario itu dan juga ikhlaskanlah saat Ia berkehendak mengubah skenario itu

Walau kerap yang diganti itu tampak lebih indah dimatamu, tetapi bukankah Ia lebih tahu yang engkau butuhkan...dibanding yang engkau inginkan ?

Karena bukankah Ia sebaik-baiknya penulis skenario ?

Apabila demikian, apakah engkau keberatan apabila ikhlas yang paripurna
adalah kunci keajaiban dalam perjalanan hidup kita ?


Detak jantungmu yang setia bersenandung menghidupkan desah nafasmu
bukankah itu adalah keikhlasanmu untuk terus berjalan ?

Bersyukurlah...maka engkau akan ikhlas

Friday, September 25, 2009

Mengingatkan Dibalas dengan Pemutusan


Aku menyapamu karena aku memperhatikan statusmu

Disana ada keganjilan yang cukup menggangu

Dimana Tuhan kau sebut tanpa pemuliaan yang seharusnya

Karena pemuliaan itu kau perhatikan jika kau menulis untuk atasanmu

Lalu kenapa tidak kau perhatikan untuk Tuhanmu ?


Aku menyapamu dengan maksud mengingatkanmu

Bahwa kekhilafan adalah lazim terjadi
Kekhilafan dalam sebuah konsistensi

Hal itu mengatakan adanya jejak kebiasaan


Kawan-kawanmu membelamu

Bahkan ada yang menudingku

Seolah-olah aku adalah biang onar

Yang picik pikirannya karena mengutip pemikiran orang lain


Bagaimana mungkin menuding saudaranya yang mengingatkan

tetapi dia sendiri tidak melakukan apa yang dimaksudnya benar

Tantanganku untuk kebaikan pun tidak kau sambut dengan kebaikan

Malah kau libatkan amarahmu

Buat adikku mengapa tidak kau akui dengan sederhana
bahwa kebiasaanmu adalah sebuah kekhilafan

dukungan sahabatmu bukan berarti pembenaran

karena itu akan menjadi penilaian pribadi untukmu

Hikmah adalah milik kita bersama

Ambillah walau keluar dari mulut sang pendusta

Penampilan tidak akan menutup Iman

Jikalau dirimu hanya menilainya dari sana

Aku mengingatkanmu karena aku yakin kau baik hatinya

Tetapi kau membalasnya dengan memutuskan silaturahim

Lalu masihkah kau menilai dirimu selalu memuliakan Tuhan ?

Thursday, September 24, 2009

Tampilkanlah Segalanya dengan Indah


Kawanku perbaguslah tutur katamu, karena aku mendengarnya.
Rapikan serta indahkanlah tulisan dan tata bahasamu, karena aku membacanya.
Anggunkan dan pantaskanlah pakaianmu, karena aku melihatnya.

Aku menilaimu dari apa yang tampak darimu dan segala yang keluar darimu.

Bukan yang tersembunyi darimu, kecuali dari kepribadianmu.


Untuk yang tidak tampak, biarkan Tuhan yang menilainya.

Biar Tuhan yang menampilkannya dalam keindahan kepribadianmu.

Karena keindahan dan kehormatanmu adalah karena Tuhan menutupi aibmu.

Oleh karena itu, janganlah kita mengurangi pemuliaan Tuhan kepada kita dengan sifat pelupa kita.


Oleh karena aku pelupa, maka senantiasa ingatkanlah aku lebih dulu untuk menampilkan segalanya dengan indah.

Monday, September 14, 2009

Agustus dan 29 Tahun


Kembali bulan Agustus menyapaku, mengingatkanku bahwa 1 babak dalam kehidupan diakhiri dan dimulai lagi. Kembali mengingatkanku akan warna-warni sepanjang 1 tahun ini, pahit manis getir kehidupan. Mencoba menghitung-hitung rasa pahit, sakit dan kecewa yang ternyata walaupun banyak, tetap saja terkubur oleh nikmat dari-Nya yang justru tak terhitung jumlahnya. Sungguh dzalim diri ini jika tidak memanjatkan beribu syukur, Alhamdulillah.


Aku kembali menambahkan 1 tahun pada usiaku, yang berarti mendekati usia untuk menjalani kehidupan yang sesungguhnya seperti kata orang kebanyakan. Usia dimana variabel-variabel kehidupan akan bertambah beserta bobot variabel kehidupan lainnya. Seperti tanggung jawab, kemandirian, keyakinan dan variabel lainnya. Jika dirangkum maka semakin bertambah usia ini, maka tanggung jawab akan semakin besar, kesulitan dan tantangan akan lebih berdinamika. Untuk itu aku sadar, untuk tetap bisa menggapai semua cita-cita dan harapan terbaik, seorang diri akanlah berat. Untuk mengambil langkah besar diusia dimana kehidupan sebenarnya akan berlangsung untuk seorang laki-laki, maka aku membutuhkan seorang tandem pendukung, seorang mitra yang sekaligus mampu merangkap sebagai asisten pribadi, penghipur lara dikala duka, pendamping hidup, seorang yang aku bersamanya maka akan genaplah agamaku. Menikah adalah prioritas terbesarku saat ini, aku membutuhkan seorang istri.

Tidak hanya impian pribadi yang aku pikirkan di Agustus ini. Keprihatinanku kepada kampung kelahiranku ini, Samarinda...juga ikut menghiasi kontemplasiku. Bagaimana tidak, berbagai mega proyek pembangunan pemerintah semuanya berada di Pulau Jawa. Selalu pulau Jawa yang mendapatkan perhatian lebih. Bagaimana dengan daerahku, akankah kami yang didaerah ini akan selalu tertinggal kemajuannya dibanding saudara-saudaranya di Pulau Jawa sana. Sampai saat ini saja, transportasi antar propinsi Kalimantan belum lancar jika tidak ingin dikatakan tidak ada sarana transportasi darat. Belum ada jalan tol, misal Samarinda - Balikpapan, belum ada bandara yang mumpuni untuk sebuah ibukota, tidak ada jalur kereta api, masih saja listrik sering padam, air tidak selalu lancar 24 jam, bahaya banjir masih menghantui kami, jalan dikota selalu saja ada yang rusak. Yang mau mengecap pendidikan "berkualitas" masih saja harus berangkat ke Pulau Jawa, kualitas pendidikan masih njomplang. Padahal Kaltim katanya adalah penyumbang devisa terbesar negeri ini. Siapakah yang salah, pihak pusat ataukah pemimpin daerah ini ? ataukah kami sendiri yang selalu merasa puas dalam ketertinggalan ? Belum lagi kejengkelanku atas kelakuan para anggota dewan yang tidak ubahnya sekumpulan perampok. Bagaimana negeri ini tidak bangkrut atas kerakusan mereka. Apa gunanya mereka ini ?

Kemarahan ini tanpa sengaja membersitkan gejolak. Gejolak ingin berontak dengan keterbelakangan ini. Untuk itu aku harus menjadi pribadi yang tangguh, memiliki sumber daya yang kuat. Dengan kata lain aku harus menjadi seorang yang kaya, seorang yang kaya namun berani takwa. Dengan menjadi seorang yang kaya aku ingin berkontribusi besar atas kampung halamanku ini. Dengan takwa kekayaan akan aku kejar dengan cara yang elok. Keduanya dikejar untuk berkarya dan memberikan yang terbaik untuk sesama. Dengan kaya kekufuran akan jauh dan iman takkan mudah tergadai. Untuk itu aku berharap 10 tahun kedepan, disaat Agustus kembali menyapaku untuk kesebelas kalinya, rasa syukurnya mengembang seluas langit. Tubuh mungilku ini serasa tak kuat menampung semangat ini, untuk itu kubagikan semangat ini untukmu kawan. Mari kita berlomba-lomba menjadi pribadi yang kuat dan menyenangkan, semangat-menyemangati dalam kebaikan, dan tak pernah lelah menggapai impian terbaik kita.

Usia 29 Tahun, aku datang menggenapimu dengan sejuta semangatku...


Saturday, August 15, 2009

Hanzo - The Black Ninja


Pada tanggal 29 Mei 2009 salah satu impianku yang sudah lama mengendap di bank impianku akhirnya bisa diwujudkan. Keinginan yang terbit sejak kecil, kemudian bertambah kuat saat bisa mengendarai sepeda motor akhirnya tercapai. Sebuah penantian yang cukup panjang dan disertai dengan beberapa pertimbangan, karena alternatif pilihan justru muncul disaat keinginan itu ingin direalisasikan.

Inilah salah satu impianku itu kawan, sebuah motor sport. Mungkin buat beberapa kawan hal ini cukup berlebihan atau bahkan menggelikan, namun bagi orang sepertiku hal ini adalah sebuah pencapaian luar biasa. Betapa tidak setelah sekian lama menginginkan, memendam perasaan saat berlintasan dengan orang lain yang memakainya, belum lagi bujuk rayu kepada orang tua untuk berkenan menyisihkan tabungan mereka untuk keinginan egois anaknya ini padahal saudara-saudara lainnya punya kebutuhan yg lebih urgen untuk bisa dipenuhi. Bujuk rayu kepada orang tua pun tidak terhitung, begitu juga counter attack mereka dengan janji-janji mereka. Hingga suatu saat Abahku sudah kehabisan amunisi untuk menghalau bujuk rayu anaknya ini, Abah pun berkata “nanti motor itu akan kamu beli dengan uangmu sendiri”, dan arti kalimat tersebut sangat jelas, orang tuaku tidak akan membelikannya. Karena bagi keluargaku yang hanya pedagang kelontongan, jelas terlalu berlebihan untuk membeli sebuah motor sport untuk hanya dipakai seorang anak.

Impian tersebut tidaklah padam begitu saja, 6 tahun berkelut di tanah rantau untuk menuntut ilmu tidaklah membuat surut. Begitupun setelahnya saat Aku memutuskan untuk berwirausaha. Kesibukan dan kesulitan dalam membangun usaha, disela-sela lelahnya menjemput rejeki, ditengah himpitan ngantuknya begadang saban malam dalam menunaikan kepercayaan pelanggan, impian itu tak pernah lupa untuk menyapa semangatku. Mengingatkanku bahkan kadang mengejekku, dan akupun membalasnya dengan semangat bahwa orang yang lupa atau malu bermimpi adalah orang setengah mati, dan matilah orang yang mengubur impiannya. Aku yakin saatnya akan tiba dan hal itu membuatku hidup kawan.

Hingga pada bulan Mei kemarin, aku merasa saatnya untuk mewujudkannya. Pemicunya adalah saat aku menyaksikan seorang pemuda yang mengendarai sebuah motor sport yang jatuh dihadapanku. Aku membantunya bangun dan mendirikan motornya. Motor apa ini pikirku, keren sekali, lebih gagah dari motor sport incaranku Honda CBR 150R. Aku pun mulai menggali informasi via internet, berbagai situs otomotif aku sambangi. Hingga aku menemukan Kawasaki Ninja 250R, “Hei…ini motor yang dipakai orang jatuh kemarin”gumanku dalam hati. Aku pun terus mencari ulasan dan segala informasi yang berkaitan dengan Ninja bermesin 4 tak ini. Setelah mendapatkan cukup banyak informasi, hatiku semakin mantap untuk bisa menjemput sang Ninja ini. Orang-orang terdekat pun dimintai saran, bahkan hingga pemilihan warna. Pilihan pun jatuh pada warna hitam, karena kesannya yang elegan dan mewah. Dari warna ini sebuah nama pun terbesit, Hanzo…si Ninja Hitam.

Esoknya aku pun ke dealer Kawasaki. Begitu memasuki ruangan utama, 2 motor idaman sudah berjejer rapi minta dijemput. Warna hitam pun tersedia begitu juga warna hijau, warna kebangsaan Kawasaki. Sekilas Ninja 4 tak ini sangat besar sekali. Jadi ragu apakah aku bisa mengendalikannya dengan baik karena secara ukuran sangat jauh berbeda dengan Honda CBR 150R yang lebih ramping. Setelah bertanya-tanya dengan salesmannya, aku meminta test drive. Dengan dibantu sang salesman, aku pun menaiki sang Ninja hitam. Begitu menaikinya, tanganku segera menggenggam kedua grip pada stang, paha mengapit sisi tangki, dudukannya aku rasakan begitu pas, badan sedikit aku bungkukkan, dan sejenak aku diam merasakan. Comfortable…aku tersenyum, ternyata ulasan yang selama ini aku baca benar, Ninja 4 tak ini biar berbadan besar tetapi bersahabat dengan rider berbadan mungil seperti diriku, ergonomisnya mantap. Aku turun dan menepuk-nepuk joknya dan mengatakan kepada salesnya, simpankan ini buat saya.

Jumat, aku pikir ini adalah hari yang baik untuk menjemput sang impian. Segera setelah menunaikan sholat Jumat, aku ke dealer Kawasaki. Setelah menyelesaikan proses admininstrasi, pemeriksaan rutin, disetting sana-sini, motor pun siap dibawa. Karena mobil pick-up dealer sedang bermasalah, maka motor pun langsung aku bawa pulang sendiri. Rasanya senang sekali saat mengendarainya pulang, apalagi saat jalan lurus aku pun memacunya. Ada perasaan yang meluap-luap, bagaimana tidak, kini aku mengendarai salah satu impianku. Syukur kepada yang mahakuasa pun meluncur dari lisan dan hatiku, segera saja teringat almarhum Abah, kata-katanya dulu “nanti motor itu akan kamu beli dengan uangmu sendiri” kini menjadi kenyataan, mataku tiba-tiba kelilipan walau saat itu aku mengenakan helm balap. Aku merindukannya, merindukannya ia menantiku didepan rumah, menyambutku dengan senyum bangganya, walau tanpa kata, tatapannya akan sangat membahagiakanku. Harusnya dirimu melihat anak laki-lakimu ini datang membawa impiannya dan akan selalu membawa impian-impiannya yang lain.