
Hari itu seperti biasanya, kesibukan diantara mengerjakan servisan, melayani pelanggan serta pesanan barang, datang seorang pelanggan muda yang sudah lama tidak bersua. Dia membawa sebuah PC yang berarti dia membawa rejeki sekaligus amanah bagiku. Salam hangat mengawali pertemuan kami hari itu.
“Assalamualaikum…” salamnya
“Walaikumsalam…ada apa nih ?” balasku
“Ini Mas PC kantor bermasalah, gak tau kenapa. Tiba-tiba bisa mati sendiri, tolong diperiksa apanya yang rusak.” secara singkat dia menjelaskan maksud kedatangannya.
“Oke deh saya periksa dulu ya. Wah kamu sudah kerja ya sekarang ? ujarku.
“Gak Mas, saya lagi PKL” “Oh…kirain kamu sudah kerja, oke deh ntar saya kabarin ya kalo sudah beres.”
“Iya Mas, SMS-in aj ntar, nomer saya gak ganti kok.”
“Sip deh kalo gitu, segera saya kabarin”
“Saya balik ke kantor dulu Mas, Assalamualaikum” , salamnya seraya pergi
“Walaikumsalam”, balasku.
Aku pun segera mengadakan pemeriksaan. Setelah aku coba beberapa kali serangkaian tes, aku pun menemukan masalah pada PC tersebut. Kecepatan putaran kipas prosessor menurun sehingga tidak mampu mendinginkan prosessor secara optimal, yang berakibat panas berlebih (overheat) dan akhirnya PC restart sendiri. Aku melepas kipas dan mencoba membersihkannya dari debu yang sudah menumpuk, aku berharap pekerjaan sederhana ini bisa menyelesaikan masalah. Tak lupa aku memberikan pelumas pada bagian rotor kipas, agar kecepatan putar kipas bisa beroperasi pada kecepatan maksimalnya. Kipas dipasang kembali dan PC pun dijalankan kembali. Aku memeriksa pada menu BIOS, ternyata kecepatan putaran kipas sangat rendah dan overheat kembali terjadi. Ternyata kipas prosessor ini sudah melewati masa produktifnya, dan solusinya harus diganti dengan yang baru. Melihat yang aku kerjakan, asistenku pun bertanya.
"Kok capek-capek dibersihkan sih Mas, kan tinggal bilang aj kipasnya sudah rusak, harus diganti yang baru biar bisa berjalan normal" protesnya
"Ya gak boleh gitu, kita harus mencoba dulu upaya terbaik untuk klien. Kalo memang masih bisa digunakan cuma dengan membersihkan, ya kita bersihkan" jelasku.
"Selain itu, pekerjaan yang kita terima bukan semata-mata pekerjaan, tetapi juga amanah buat kita" aku menambahkan.
"Maksudnya sebagai amanah itu bagaimana Mas ?" asistenku itu kini bertanya.
"Amanah itu berarti kita menerima dan memperlakukannya layaknya milik kita sendiri. Nah, bayangkan PC yang bermasalah ini adalah punyamu sendiri, tentu kamu akan mengupayakan yang terbaik kan...dan terbaik itu tidak hanya berarti efektif tetapi juga efisien" aku kembali menjelaskan.
"Iya Mas, saya paham sekarang. Mulai sekarang saya akan menerima semua servisan sebagai amanah terlebih dahulu dibanding sebuah proyek...hehehe" jawabnya sambil terkekeh.
"Wah kepahamanmu ditambah tawamu itu tampak meragukan...hahaha" balasku sedikit mengejeknya
"Gak kok Mas, saya paham sekarang. Sini Mas biar saya saja yang mengganti kipas barunya" tawarnya.
"Oke deh, tolong ya, biar saya SMS dia dulu" aku pun segera mengetik SMS pada ponselku.
- PC-nya sdh beres.fan procie rusak,ganti baru harga 70rb.tks -
SMS pun kukirim Sejenak kemudian, SMS balasan aku terima.
- Oke mas ganti aj, ntar saya segera kesana.tks - begitu balasannya
Selang beberapa waktu, dia pun datang. PC sudah siap diserahkan, dan dia meminta aku untuk membuatkan nota atas penggantian kipas prosessor yang baru itu.
"Oya Mas, tulis aja dinotanya 120 ribu ya" pintanya.
Aku terdiam sesaat.
"Gak papa nih ?" tanyaku.
"Gak papa Mas, dah biasa kok. Rata-rata dikantor semua pada begitu" jawabnya santai. Aku tersenyum kecut.
"Kenapa Mas" tanyanya atas responku.
"Gak papa, kamu kecil-kecil sudah pinter mark-up ya" sentilku.
"Lumayan lah Mas buat tambahan" jawabnya menyeringai.
Aku menggeleng-geleng saja. Nota selesai aku buat sesuai permintaan, PC diserahkan dan dia segera kembali ke kantornya.
"Kenapa Mas tadi notanya?" asistenku kembali bertanya.
"Biasa lah, nguntungin...mark up" ujarku.
"Wah itu gak amanah namanya kan Mas?" sergahnya.
"Sudahlah...yang penting kita sudah menyelesaikan kewajiban kita"
"Dikasi tau donk Mas, jangan cuma saya yang dikasi tau" protesnya.
"Yah...ntar lah, mudahan nanti ada waktunya yang lebih tepat" jawabku seraya menarik napas.
Sesaat kemudian kami pun kembali sibuk mengerjakan servisan yang masih tersisa. Entah berapa lama persisnya, tiba-tiba pelanggan muda tadi datang kembali dengan PC yang dibawa sebelumnya. Kecemasan terlintas diwajahnya, sepertinya sesuatu yang tidak baik telah menimpa dirinya. Dia menyampaikan salam untuk kemudian menyerahkan lagi PC tersebut kepadaku.
"Ini Mas tolong diperiksa lagi" ujarnya singkat.
"Loh kenapa...masih mati sendiri ?" tanyaku.
"Bukan Mas, PC-nya terjatuh tadi dijalan. Saya barusan ditabrak lari orang tadi diperempatan" ujarnya seraya mengelus sikunya yang baru kuperhatikan ternyata lecet-lecet. Lututnya juga berdarah.
"Wah gimana ceritanya, kok bisa...?" ujarku kaget.
"Gak tau Mas, tiba-tiba dari arah kanan ada orang ngebut menabrak motor saya dari samping. Saya terjatuh terguling, orang itu langsung meninggalkan saya begitu saja" jelasnya.
"Tapi kamunya gak papa kan ?" tanyaku lagi.
"Ya ini Mas, dapat oleh-oleh lecet-lecet...tapi gak ada luka serius. Tapi motor saya ada beberapa bagian yang ringsek" aku kemudian melemparkan pandangan ke motornya. Memang benar, lampu seinnya pecah dan bagian fairingnya ringsek.
"Ini minum dulu, sekalian obati dulu lukamu. Sudah nyantai aja dulu disini" aku memberikan segelas air mineral. Kemudian asistenku mengambilkan Betadine. Dia menetesi luka-lukanya dengan Betadine, wajahnya tampak cemas. Dia pasti mengkhawatirkan kondisi PC kantor dan juga sepeda motornya. Sementara itu aku kembali memeriksa PC-nya. Karena terbanting, beberapa komponen ada yang terlepas tetapi tidak rusak. Kecuali kipas prosessor, selain terlepas ada beberapa bagian yang patah. Artinya kipas prosessor harus diganti lagi untuk kedua kalinya.
"Ini fan processornya rusak, kaki-kaki pengaitnya patah, harus diganti lagi dengan yang baru. Gimana ?" aku mengkonfirmasikan kepadanya.
"Waduh...mau untung malah buntung" keluhnya dan keruh wajahnya.
"Kok saya sial sekali hari ini ya..." dia melanjutkan keluhannya, dan diam sejenak seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Oh...jangan-jangan saya diingatkan ini gara-gara mark-up tadi ya Mas?" kini dia balik bertanya kepadaku.
Aku pun tersenyum melihat tingkahnya. "Bersyukurlah...karena kamu melihat musibah ini sebagai peringatan bagimu dan bersyukur lagi lah karena disegerakan datangnya. Sebenarnya tadi saya keberatan untuk membuatkan nota tersebut, tapi saya juga sungkan untuk menegur langsung, takut kamu tersinggung"
"Tapi kok bersyukur karena teguran ini disegerakan datangnya Mas" ia kembali bertanya.
"Ya jelas...coba kalau misalnya setelah sepuluh tahun lagi kamu baru mendapat teguran ini, disaat kamu sudah memiliki posisi penting dan mark-up kamu sudah milyaran rupiah, belum tentu kamu akan menganggap musibah ini adalah peringatan dari langit. Paling kamu menganggapnya hanya sebuah kesalahan dalam mengakali sistem. Dan tahukah kamu, disaat kamu melakukan mark-up tadi, sebenarnya kamu sudah merendahkan diri kamu sendiri dihadapan saya".
"Kenapa bisa begitu mas?"
"Kamu sudah mematok harga dirimu hanya sebesar nilai mark-up tadi, selisih antara 120 ribu rupiah dikurangi 70 ribu rupiah. Itulah harga dirimu, dirimu terjual hanya sebesar itu. Apakah kamu rela kepribadian dan nama baikmu hanya dihargai sekecil itu?" aku balik bertanya.
"Tentu tidak mas" ia menjawab seraya tertunduk...malu.
"Ingat nama baik diri kita adalah segalanya. Coba pikirkan begini, apa saya akan menerima kamu sebagai karyawan saya setelah mengetahui kualitas kepribadian kamu? terlebih merekomendasikan kepada pihak lain ?" aku bertanya lagi.
"Tentu tidak mas" jawabnya sama dan cemas.
"Oleh karena itu, bersyukurlah akan teguran kecil ini akan membesarkan dirimu apabila kamu menyambutnya dengan lapang dada. Bagaimana ?"
"Iya mas, saya bersyukur atas musibah kecil yang menimpa saya ini. Saya merasa terselamatkan, luka kecil dan kerugian beberapa rupiah ini tidak sebanding dengan nama baik saya sekarang dan yang akan datang".
"Jadi gimana notanya, apa perlu saya buatkan 2x 120 ribu rupiah?" pancingku dengan sedikit senyum selidik.
"Waaaah...mas ngejek saya nih" ia tertawa. "Gak perlu mas, tulis saja apa adanya. Bikin nota baru saja, yang tadi saya kembalikan ke mas aja. Gak perlu mark-up deh, malu-maluin" ia mentertawakan dirinya sendiri.
"Itu baru namanya calon orang sukses, berani menjaga nama baik juga dengan kebaikan. Nih sebagai bonus saya kasi hadiah game PC terbaru".
"Nah itu baru mantep namanya mas, makasih ya" ia tampak sangat puas sekali sekarang, mungkin rasa sakit dari lukanya sedikit terlupakan.
"Ya sudah, ini komputer juga sudah selesai dipasang fan yang baru. Hati-hati dijalan ya, tidak usah ngebut" aku mengingatkan.
"Insya Allah mas, saya pamit dulu...sekali lagi terima kasih mas" ia pun bergegas membawa PC dan kembali menuju kantornya. Asistenku yang sejak tadi diam, kini mendekat dan membuka pembicaraan lagi.
"Wah ternyata dapat juga waktu yang pas buat menegurnya ya mas" ujar asistenku
"Iya, saya juga gak nyangka kejadian ini. Bagus buat hikmah hari ini dan semoga kita termasuk orang-orang yang terhindar dari praktek-pratek dan pekerjaan yang merendahkan harga diri kita". Balasku
- S e l e s a i -
Cerpen ini ditulis untuk ikut mendukung gerakan dan hari Anti Korupsi Sedunia 9 Desember 2009
Mulailah dari diri sendiri, tunjukkan kita punya harga diri









