Sunday, June 21, 2009

Ikhtiar Cintaku












Di penghujung lelahku
aku tetap tersenyum
keringatku sebagai saksi
betapa aku bersyukur
akan karunia-Mu...

Di penghujung letihku
aku tetap sabar
menyempurnakan ikhtiar
menyambut karunia-Mu
aliran rezeki-Mu...

Mudahkanlah segala urusanku
sungguh aku membutuhkan-Mu
mewujudkan ikhtiar cintaku
untuk menggapai ridho-Mu
sebagai dasar cintaku...

Monday, May 25, 2009

Liputan NIX 09 - Banjarmasin

Perjalanan...
Memenuhi undangan dari AMD Indonesia Region Kalimantan, aku berangkat ke Banjarmasin (KalSel) pada tanggal 7 Mei sore hari bersama teman. Berangkat dengan tergesa-gesa diantara kesibukan pekerjaan harian, Piala Champion dan CrazyKart benar-benar membuat persiapan perjalanan menjadi grasak-grusuk.

Ditemani seorang teman AMD Mania kami berangkat, diawali dengan menyeberangi Sungai Mahakam menggunakan kapal motor sederhana menuju terminal bus. Dari terminal kami berangkat sekitar jam 5 sore menuju Balikpapan yg memakan waktu sekitar 2 jam. Kemudian kami menunggu kapal fery penyeberangan dari Balikpapan ke Penajam ( Paser Utara ). Sewaktu diatas kapal ini gua sempat online bentar dan say hi ke GX.

Asyik juga online diatas kapal sembari menikmati pemandangan tenangnya laut dimalam hari. Kelap-kelip lampu-lampu didaratan sambil disela-sela angin laut malam adalah paduan suasana romantis sekaligus tragis pada akhirnya, kenapa?

Karena saking asyiknya diatas kapal dan kemudian sang teman perjalanan sibuk membuat dokumentasi perjalanan kami (baca : berfoto ria), kami lupa harus bersegera kembali ke bus. Saat kami terburu-buru kembali ke bus, bagian lantai dasar kapal sudah disesaki truk-truk besar dan kendaraan lain yang sudah tidak sabar untuk segera melompat dari kapal fery ini. Dengan tas ransel dipunggung, kami kesulitan menuju bus kami, karena jarak mobil-mobil tersebut sangat rapat. Akhirnya kami menunggu didekat tangga kapal sembari membiarkan mobil-mobil tersebut lewat dan keluar dari badan kapal.

Setelah itu kami pun berlari-lari kecil menuju bus kami. Tapi...hey, mana itu dia bus, tidak terlihat didepan kami satu bus pun. Kami terus berjalan menyusuri pelabuhan hingga menuju pelataran parkir, sama sekali tidak ada bus. WTF...bus tersebut meninggalkan kami, didaerah yang asing buat kami berdua dan pada jam 11 malam yg sangat sepi. Seketika kepanikan pun melanda kami. Seakan tidak percaya, kami terus berjalan dengan harapan bus tersebut ada didepan jalan. Teman seperjalanan pun berusaha menelpon armada bus tsb, tetapi tidak ada yg mengangkat telpon. Akhirnya aku pun mengajak untuk kembali ke pelabuhan, dengan harapan ada bus dari penyeberangan selanjutnya. Bayangan jadi gembel semalam pun sempat melintas. Toleh kiri-kanan tidak ada terlihat penginapan or something, alamat tidur dipelabuhan ini pikirku. Kami menanyakan di pos penjaga pelabuhan apakah ada bus lagi, pihak penjaga memberikan jawaban yg membuat kami pesimis. Akhirnya kami pun menunggu di pos penjaga tersebut. Tetapi angin optimis kembali berhembus, saat ada tukang ojek yg menghampiri kami dan menawarkan jasa mengejar bus tersebut. Tukang ojek tersebut memberitahukan bahwa biasanya bus tersebut akan berhenti di daerah Pal 3 (Kilo 3) untuk beristirahat sejenak. Syukurnya si Tukang ojek tidak memungut tarif "jasa luar biasa" untuk misi pengejaran tersebut. Bersama teman sesama tukang ojek, kami pun mengejar bus tersebut.

Tiba di pal 3...LEGAAAAAAAA...bus tersebut dengan anggunnya parkir disebuah rumah makan sederhana. Beberapa penumpang yg melihat kami datang, baru sadar kalau kami tertinggal. Mereka bertanya, "pada kemana mas?" kujawab sekenanya "lagi jalan-jalan dikapal" setelah kami makan, kami pun bergegas masuk kembali kedalam bus. Sejenak didalam bus itu serasa sangat nyaman (padahal bus itu jauh dari rasa nyaman). Sebagai gambaran, bus ini berkapasitas sekitar 60 kursi penumpang dan terisi penuh, space tempat duduk sangat sempit, sehingga sangat berdesakan dengan barang bawaan sendiri, full AC dan full musik. Khusus full music ini, music sangat berdentum kencang sepanjang perjalanan, mulai dari house music, dangdut, dangdut remix, house remix, rhoma irama hingga rhoma irama remix...mp3 yg kubawa dan kucoba pasang dikuping, lagu-lagu instrumen Joe Satriani dan suara sexy Mulan Jameela pun terasa remix dikuping gara-gara sound bus tersebut. Benar-benar full hingga jam 4 pagi diperjalanan saat semua penumpang terlelap, musik remix pun tiada henti me-remix suasana. Mantap gan...alias bikin puyeng. Total lama perjalanan yang kutempuh adalah 18 Jam dengan 4 kali berhenti untuk beristirahat sejenak. Mantap bukan...

Hari Pertama

Hari pertama aku bersama saudara Roni (Perwakilan AMD) mengunjungi Benny Lodewijck (BL) di hotel Rattan In. Hotel ini kebetulan sangat dekat dengan lokasi dimana aku tinggal selama acara ini. Setelah bertemu, berkenalan dan bertegur sapa dgn BL, aku diperlihatkan persenjataan yg akan digunakan dalam acara nanti. Persenjataan tersebut adalah :


- AMD Phenom II X4 995 Black Edition (3.2 Ghz)
- AMD Phenom II X3 720 Black Edition (2.8 Ghz)
- Gigabyte Chipset 790FX AM3+ (2 unit)
- Team DDR3 2000Mhz (SEC) 2 x 1GB
- OCZ DDR3 Platinum Series 2 X 1GB (cadangan)
- Force3D HD4890 1GB (2 unit) ~ CF
- ENERMAX Revolution 85+ 1050W (buka bungkus)
- SSD G-Skill 128GB (2 unit)
- Cointainer (Bong) LN2
- Thermal paste, insulation paste, toilet tissu, dan beberapa perekat.

Setelah dicek, BL membutuhkan converter colokan PSU dan lilin mainan untuk kebutuhan insulasi mobo. Untuk itu kami berdua pun segera mencari 2 barang tsb. Mencari converter sangatlah mudah dan ternyata mencari lilin mainan yg 1 warna satu batang sangatlah susah. Berputar-putar diteriknya matahari, keluar masuk toko mainan anak-anak, toko alat tulis...hasilnya nihil. Akhirnya kami menemukan lilin mainan ini disebuh toko boneka.



Saat kami berkumpul di Duta Mall tempat acara berlangsung, kami berkumpul di booth Gigabyte. Perlu diketahui acara NIX 2009 ini adalah acara pameran komputer, jadi berbagai perwakilan vendor hadir diacara ini, seperti Toshiba, Forsa, ASUS, Acer dan berbagai vendor h/w lainnya. Acara sangat berlangsung meriah. Space yang akan kami gunakan sebelumnya digunakan sebagai tempat kompetisi game online DOTA. Sembari menunggu semi final DOTA selesai, aku bersama BL dan saudara Faisal (salah seorang OCers Kalsel kawakan, pernah menjuarai kompetisi OC di Surabaya) menyiapkan mobo Gigabyte dengan insulasinya. Pada proses insulasi inilah, lilin mainan yang setengah mati aku cari tadi dipakai.

Insulasi ini selain memakai lilin mainan tadi juga sebelumnya menggunakan pasta insulasi, tisu toilet dan beberapa perekat. Perlu diketahui proses insulasi ini bertujuan agar saat Nitrogen cair (LN2) digunakan serta terjadi Kondensasi (pengembunan), air tidak akan men-short komponen pada mobo. Setelah itu cointainer atau bong dipasang. Pada bong tersebut diselipkan sensor suhu thermometer digital. Setelah beberapa saat, mobo pun siap...

Pada booth yg disediakan aku dan tim OC Kalsel menyiapkan peralatan yg dibutuhkan serta menuang LN2 ke thermos yg berukuran lebih kecil supaya mudah menuangkannya kedalam bong. Pada saat proses instalasi selesai, kendala pertama yg ditemui adalah lonjakan listrik di Mall. Beberapa kali PSU Enermax Revolution yg digunakan menolak untuk beroperasi karena hal tsb. PSU ini benar-benar sensitif dgn lonjakan listrik. Karena waktu semakin mepet, akhirnya BL memutuskan untuk mendemonstrasikan OC dengan Fan + heatsink standard dulu. PSU yang digunakan adalah Gigabyte 800W.

Acara dimulai...
Acara dimulai dengan sambutan pihak penyelenggara NIX dan perwakilan pihak AMD. Memasuki acara utama, BL langsung mendemonstrasikan easy OC Phenom X3 720 dengan fan + heatsink standard. Dari clock 2.8 Ghz, BL menggenjotnya stabil di clock 3.8 Ghz.

Sesi 2 dimulai dengan menggunakan LN2. Untungnya setelah utak atik sana sini, serta menggunakan sebuah stavolt motor, PSU Enermax Revolution memberikan lampu hijau, bahwa sistem bisa ON. Maka LN2 pun dituangkan ke bong supaya suhu minus segera terjadi. Konfigurasi CrossFire HD4890 pun digunakan pada sesi ini. Suhu ekstrim yg bisa dicapai saat itu adalah pada kisaran minus 165-an derajat celsius. Setelah beberapa tahap OC, Phenom II X4 995 BE yg default berjalan pada clock 3.2 Ghz mampu diajak berlari stabil pada 6.2 Ghz. Sebenarnya pada sesi terakhir mampu menginjak di clock 6.3 Ghz, sayangnya pada saat validasi CPU-Z terjadi corrupt. Karena keterbatasan waktu, utility yg digunakan SuperP1 dan 3DMark 05, 06 dan Vantage.

Sebenarnya BL mengejar clock stabil pada 6.5 Ghz untuk memecahkan rekor, sayangnya kualitas LN2 yg kami dapatkan kurang memadai untuk mencapai hal tsb. Hal ini dikarenakan suhu LN2 yg diharapkan mampu mencapai minus 180-an derajat celsius, kenyataannya hanya pada kisaran -165-an. BL berharap hari ke-2 bisa mencapai hal tsb.

Bersambung...

Wednesday, April 01, 2009

Selamat Ulang Tahun Mimo

Berawal dari pertama mengenal dunia internet di medio 1998. Warnet-warnet di jogja kerap disambangi hanya untuk sekedar browsing sana-sini dan mengecek email, mengenal chatting, web design hingga jualan di internet. Walau uang kiriman bulanan terbatas tetapi uang untuk nge-net ini selalu mendapat perhatian khusus di manajemen keuangan pribadi, alias memiliki post sendiri. Belum genap setahun kenal internet, terhubung ke dunia maya ini sudah menjadi kebutuhan atau lebih tepatnya kecanduan internet.

Sering dulu setiap memasuki sebuah warnet, yang terlintas dibenak adalah “kapan ya bisa punya warnet sendiri?” atau “enaknya punya warnet sendiri, kalo punya ntar bikin tempatnya yang nyaman ah..” dan selentingan suara hati sejenis kerap bergema. Gema ini terus bergaung, hingga menjadi sebuah keinginan yang menggebu untuk bisa segera diwujudkan. Sewaktu mudik ke kota kelahiran, keinginan tersebut selalu membuncah. Namun prioritas menyelesaikan kuliah selalu membuat keinginan tersebut menjadi deposit saja di bank impian penulis. Tetapi yang pasti deposit ini terus berbunga setiap bertambahnya tahun.

Lulus kuliah pun tiba. Ternyata deposit impian penulis tidak hanya itu saja. Keinginan membuka toko komputer ternyata lebih besar nilai depositnya. Selain itu faktor pendukungnya lebih visible untuk segera diwujudkan. Maka toko komputer nan sederhana pun didirikan tanpa ingat dengan jelas kapan hari lahirnya, Max Computer pun lahir. Sempat juga mendirikan usaha patungan berupa rental computer yang akhirnya bubar karena masalah internal, memberikan warna tersendiri dalam pelajaran berbisnis penulis. Fokus dan konsisten (Istiqomah) dalam awal-awal usaha adalah sangat penting. Empat tahun berusaha konsisten menjalankan bisnis dengan berbasis kompetensi dan kepercayaan adalah tidak mudah. Namun perjuangan selalu membuahkan hasil tentunya dan juga dengan skalanya tersendiri.

Rupanya perjalanan waktu tersebut mungkin memang waktu yang dibutuhkan untuk deposit impian penulis sebelumnya, yaitu mendirikan warnet sendiri. Pada waktu itu faktor-faktor pendukungnya pun datang dengan sendirinya. Dengan keyakinan beserta dorongan orang-orang dekat yang juga menjadi partner usaha, maka lahirlah Mimo Internet Café. Tentu saja kali ini waktu lahirnya dicatat dan diabadikan, 4 April 2008. Kenapa namanya Mimo? Penulis sendiri tidak tahu, nama ini hanya hinggap dan kemudian mengendap di benak penulis. Setali tiga uang dengan nama Max Computer.

Perjalanan Mimo setahun ini bisa dikatakan tidak mudah. Sempat pada tahap awal konfigurasi networking dan router, penulis dengan dibantu ponakan kesulitan dalam mengerjakan setingan. Selama seminggu terjebak dalam hal tersebut, padahal perangkat lain sudah siap dioperasikan. Namun pertolongan pun datang dari seorang teman dan masalah konfigurasi pun terselesaikan dengan baik. Masalah penambahan daya listrik juga cukup menunda waktu. Sekali lagi masalah ini juga diselesaikan dengan datangnya kawan baru secara kebetulan. Dibuka perdana dengan 5 buah PC client, Mimo pun operasional. Hasilnya cukup menggembirakan dan membuat rasa optimistis terus tumbuh. Walaupun tetangga sebelah rumah terlebih dahulu membuka warnet, sehingga kompetisi head to head jelas akan terjadi. Namun penulis menyadari sejak awal, untuk menghindari hal tersebut maka spesifikasi PC client dibuat lebih tinggi sehingga ready for gaming. Keputusan ini ternyata menciptakan diferensiasi sendiri. Konsumen pun terbagi jelas dan head to head competition pun tidak terjadi secara kentara dengan tetangga, hal ini sangat baik buat kami.

Tidak ada jalan yang tidak berkerikil dalam berbisnis, begitu pun yang terjadi dengan perjalanan Mimo. Krisis PLN membuat listrik menjadi byar pet membuat operasional Mimo tidak optimal. Keinginan untuk membeli generator dengan daya besar sempat terlintas untuk diwujudkan. Namun mengingat biaya investasi yang cukup besar, mengurungkan niat tersebut. Syukurnya masalah byar pet ini seiring waktu terus menunjukkan tren positif. Bencana banjir benar-benar menjadi tsunami buat Mimo, walau tidak separah di Aceh dan Situ Gintung tentunya. Namun cukup menguji Mimo dalam bertahan. Benar-benar berantakan, banyak perangkat yang terendam air. Kerusakan beberapa perangkat tidak dapat dihindarkan, energi pun siap dikorbankan untuk urusan kemas berkemas. Tidak hanya sekali terjadi tamu tak diundang ini datang dalam setahun untuk menguji. Tetapi dengan kebersamaan dan sikap mental positif, Mimo bisa terus beroperasi walau banyak kerusakan terjadi disana-sini. Anggaplah banjir tadi menjadi jadwal maintenance besar-besaran buat Mimo untuk menjadi lebih baik menuju usia 1 tahun pertamanya.

Alhasil inilah Mimo saat ini dengan 10 buah PC Client beserta upgrade komponen hardware PC Client untuk kinerja yang lebih baik. Semua demi kenyaman para member dan pengunjung untuk bermain game dan berselancar di dunia maya. Dengan tag line Cepat – Hemat – Nyaman, Mimo selama setahun ini terus berusaha mewujudkannya, tentu saja dengan dukungan para member setia Mimo. Memasuki tahun kedua ini Mimo sudah memiliki rencana selain pengembangan kinerja PC Client. Mimo menginginkan hubungan yang berkelanjutan dengan para membernya, dimana Mimo tidak sekedar menjadi tempat untuk bermain game online dan berselancar di dunia maya saja. Mimo menginginkan lebih dari itu. Oleh karena itu penulis atas nama Mimo,berharap dukungan dan doanya untuk bisa mewujudkan hal tersebut. Sebagaimana Max Computer melahirkan Mimo, maka tunggulah anak dari Mimo. Kita akan bersahabat dan bergembira disana dengan suasana gamer yang berpengetahuan. Akhirnya penulis mengucapkan “SELAMAT ULTAH PERTAMA MIMO”, terima kasih atas dukungannya selama ini dan selamat bergembira bersama Mimo kawan.

Monday, November 17, 2008

Tamu Tak Diundang

Kotaku yang tercinta ini kembali mendapatkan musibah musiman. Bagaimana tidak hampir tiap tahun tamu tak diundang ini rajin menyambangi kami. Begitu dia datang semua warga pun heboh. Dia datang begitu saja, tanpa permisi, nyelonong. Begitu masuk rumah dia akan menyentuh semua yang dilaluinya dan apabila terlalu lama dia akan merusaknya. Betapa menjengkelkan tamu yang satu ini, karena kita sulit mengelak darinya. Kita tidak bisa mengelak dengan hanya mengatakan kita tidak sedang dirumah. Dia akan menghuni rumah kita sampai dia pergi sendiri. Tamu jenis apakah ini?

Kotaku banjir kawan. Banjir inilah tamu yang menjengkelkan itu. Beberapa hari yang lalu daerah utara kotaku memang sudah terlebih dahulu mencicipi kunjungan sang tamu ini. Daerah utara memang menjadi langganan apabila curah hujan sedang tinggi dan bendungan sudah mencapai titik ambang batas daya tampungnya.

Selama bendungan tersebut tidak dibuka, daerah rumahku tidak akan mendapatkan lawatan sang tamu tersebut. Entah karena khawatir akan daya tahan bendungan ini, katanya bendungan ini dibuka dan akibatnya pun dapat ditebak. Sang tamu dengan leluasa mengunjungi daerah kami secara perlahan namun pasti. Genangan air segera memenuhi jalan-jalan, rumah-rumah yang rendah segera tergenang. Aku masih mengucap puji syukur karena didepan rumah hanya tercipta genangan, sedangkan beberapa tetangga sudah melepaskan alas kaki untuk bermain air didalam rumahnya.

Keesokan harinya frekuensi ucapan puji syukurku meningkat, hari panas dan genangan air menurun. Betapa tidak bayangan akan segala kerepotan mengamankan barang-barang dagangan perlahan pupus. Tetapi beranjak melewati siang, awan mendung tampak datang menghadang, bayang-bayang kelam pun kembali mengambang. Tak lama berselang, hujan pun turun dengan derasnya.

Menjelang malam air pun perlahan-lahan mulai beranjak naik. Aku bersama keluarga dengan segala daya upaya mencoba menahan aliran air yang mencoba masuk kedalam toko. Dengan sapu lidi ditangan, aku siap menyapu bersih setiap genangan air. Kain-kain tua yang tebal tidak terpakai, mendadak jadi sangat berguna untuk menghambat aliran air yang mencoba masuk. Ban bekas mobil milik bengkel depan rumah segera diberdayakan sebagai tanggul dadakan. Air terus bergerak naik, hingga akhirnya mama mengkomandokan bahwa kami dalam kondisi siaga darurat, perintah pun jelas, kami harus bekerja keras, barang dagangan harus segera dievakuasi.

Selanjutnya tetesan keringat pun menghiasi setiap diri kami, barang-barang sedaya upaya dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Game centerku pun juga kebanjiran. Semua PC diamankan, kabel-kabel jaringan dilepaskan. Kaki yang sejak tadi terendam air, mulai terasa gatal. Selain tamu yang mulai masuk kedalam toko dan game centerku, tamu yang lain pun juga tak ingin kalah meramaikan penderitaan kami, karena mendadak toko menjadi gelap gulita, aliran listrik padam. Hanya dua tamu ini yang datang, kami sekeluarga tak mampu menghadang.

Bangun pagi pada keesokan harinya tidak menjadi rutinitas seperti biasanya. Namun aku mengucap syukur sedalam-dalamnya, karena aku yakin dua tamu yang telah datang ini tidak hanya sekedar menawarkan musibah dan kerepotan bagi banyak orang. Tetapi aku yakin pada mereka juga terselip paket-paket kebahagiaan bagi yang jeli melihatnya dari sudut pandang lain.

Seperti pagi ini, rutinitas seperti hari biasanya berganti. Aku jadi teringat dengan buku, majalah dan tabloid baruku yang belum sempat kubaca. Segera saja aku membuat segelas kopimix hangat yang kental untuk menemani menghabiskan bacaan. Suasana santai ditemani gemericik air banjir didepan rumah, suara anak-anak yang bergembira bermain air, musik kesayangan yang mengalun melalui MP3 player. Benar-benar suasana yang berbeda dan aku sangat menikmatinya. Tiba-tiba saja keinginan untuk menulis muncul, notebook pun segera kunyalakan. Tulisan ini pun aku kerjakan dengan santai. Lelah akibat gotong royong semalam pun perlahan-lahan sirna, diganti dengan layaknya suasana liburan. Mama dan kakaku pun terlihat santai, mereka berkumpul di ruang keluarga, mengobrol sambil menjahit pakaian yang terlepas kancingnya sambil sesekali bermain bersama kucing kesayangan.

Musibah banjir ini aku jadikan sebagai ajang latihan untuk mengendalikan suasana pikiran (state of mind). Sebagai orang yang masih belajar dalam mengelola pikiran positif, aku seperti mendapatkan materi latihan yang berkualitas. Game centerku yang tergenang air, aku anggap sebagai jadwal maintenance besar-besaran, membersihkan lantai dan kabel-kabel yang berseliweran. Begitu juga dengan toko yang selama ini aku tunda-tunda untuk merapikannya. Dengan musibah banjir ini mau tidak mau aku harus segera membersihkan dan merapikannya, jika tidak ingin rejeki segera kembali mengalir. Pikiran pun kembali bisa aku beri makanannya dengan membaca buku-buku baru yang tidak sempat aku baca.

Pada sore harinya aku bersama kekasih menyusuri daerah-daerah yang terkena banjir dengan mengendarai sepeda motor. Dengan cuek motor kuterjangkan ke genangan air, perasaan cemas bercampur gembira pun terluapkan. Bagaimana tidak, perasaan takut motor mogok karena tergenang air namun gembira karena serasa mengendarai jet ski. Bergoncengan motor dengan kekasih adalah hal yang biasa. Namun pengalaman kali ini tidak menjadi biasa, tetapi menjadi perasaan harap cemas nan romantis.

Banjir tahun ini, aku bersyukur karena bisa menikmati paket-paket kebahagiaan yang terselip didalamnya, paling tidak untuk diriku sendiri. Aku berharap bisa menemukan paket-paket kebahagiaan yang terselip dikejadian-kejadian lainnya yang dihadirkan oleh yang Maha Kuasa. Insya Allah…

Tuesday, October 28, 2008

Film Laskar Pelangi


Film ini sebenarnya sudah lama kunantikan. Dari info di milis aku mengetahui sejak jauh hari tanggal perdana film ini bakal tayang di bioskop. Niat untuk menikmati bersama film ini di saat lebaran pun terbayang. Namun apa daya setiap niat itu ingin ditunaikan, tiket selalu lebih dulu terbagi ketangan orang lain yg memiliki niat sama. Alhasil, lewat sebulan baru film ini dapat kusaksikan di bioskop seorang diri.

Bagi yang mengikuti novel tetralogi Laskar Pelangi, mengikuti alur cerita film ini tidaklah sukar. Karena apa yang dibaca di novel sangat rinci akan petualangan para anak-anak murid SD Muhammadiyah di Belitong tersebut. Detail akan indah dan serunya petualangan mereka tidak semua dapat ditampilkan pada bentuk filmnya. Karena film yang berdurasi sekitar 2 jam 30 menit ini, tampak sudah payah untuk memadatkan isi cerita novelnya. Namun kepadatannya tidak serta merta mereduksi pesan dan emosi yang terkandung di novelnya.

Dari film Laskar Pelangi ini, perhatianku banyak tertuju pada tokoh sang Kepala Sekolah Muhammadiyah. Entah kenapa suara dari tokoh ini benar-benar bisa merasuk kedalam hatiku. Pesan yang disampaikannya ke murid-murid para Laskar Pelangi begitu terasa. Aku merasa bahwa pesannya itulah inti dari film ini. Pesan sang Kepala Sekolah ini serupa dengan apa yang dulu sering aku ingatkan kepada diriku sendiri. Pesan yang kupatrikan saat aku memutuskan untuk berwirausaha. Berdagang tidak semata-mata mencari laba, laba hanyalah hasil ikutan, bukan tujuan utama. Berdagang adalah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya (gives more values). Apabila demikian maka yang diperoleh adalah nama baik. Bukankah tujuan dari sebuah usaha didirikan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan? Bukankah nilai perusahaan direpresentasikan oleh seberapa kuat brandnya? seberapa besar kepercayaan yang didapatkannya dari manfaat yang diberikannya?

Sang Kepala Sekolah mengatakan "hiduplah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya". Sekolah ini (Muhammadiyah) didirikan bukan untuk mengejar materialitas semata, melainkan mendidik dengan hati". Ya...aku selalu ingin bisa "berdagang dengan hati". Yaitu segala transaksi menjadi laba apabila menjadi ibadah, memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.

Tetapi tidak hanya itu yang kudapatkan dari film tersebut. Semangat akan kemauan dan kegigihan untuk terus belajar, menggapai cita-cita tanpa kenal lelah adalah juga pesan yang ingin dibagikan dan ditularkan kepada para penontonnya. Ironisme dunia pendidikan di Indonesia, ketimpangan sosial yang mengkotak-kotakkan impian dan harapan turut mewarnai kisah film ini.

Intinya, film ini masuk kategori wajib ditonton. Sebuah film dengan genre baru yang mencoba menyeruak diantara banyak film Indonesia yang hanya berisi horor, seks dan kisah roman picisan, film ini layak mendapat apresiasi. Cukup dikatakan sebagai salah satu karya kebangkitan film Indonesia disamping Ayat-Ayat Cinta dan Naga Bonar 2.

Tuesday, September 09, 2008

Permainan Anak-anak


Dalam beberapa hari ini aku dekat sekali dengan anak-anak. Kami bersama dari pagi sampai siang, bahkan hingga malam hari. Kami bermain, tertawa, saling ejek, saling bantu hingga saling tembak. Menembak pun tidak tanggung-tanggung, kami selalu berusaha menembak kepala lawan tanpa ampun..Headshot!!!

Yup...kami bermain game Counter Strike bersama-sama. Bersama anak-anak SD hingga SMP. Aku kagum dengan mereka. Betapa mereka cepat sekali menguasai game tersebut. Rata-rata mereka hanya butuh main 2 hingga 3 jam, dan mereka pun mahir mengendalikan jagoan mereka. Tidak hanya Counter Strike yang mereka mainkan, tetapi juga Seal Online, Rising Force (RF) Online yang masing-masing bergenre Massive Multiplayer Online Role Playing Game (MMORPG).

Aku jadi ingat di masa kecilku dulu, video game yang bergenre Role Playing Game hanyalah Zelda. Itupun item-item yang digunakan hanya sedikit dan kombinasi itemnya sangat minim. Masa kecilku dulu seumuran mereka, aku bersama teman-teman lebih banyak menghabiskan waktu bermain permainan tradisional. Permainan yang bersifat murah, massal dan lebih banyak mengandalkan aktivitas fisik. Bermain petak umpet, Ular Naga, Benteng, Kelereng, Gobak Sodor, Wayang, Lompat tali karet, Asin (taplak meja) dan permainan mengasyikan lainnya. Sekarang sangatlah langka menyaksikan segerombolan anak-anak berlarian mengejar layang-layang yg putus. Sekarang yang kusaksikan adalah mereka berlarian berebut PC yang kosong pada Game Center. Mereka bergerak, berlari, menjelajah, memukul dan berperang. Bergerak aktif dan dinamis, walaupun sejatinya mereka hanya duduk diam. Karena yang bergerak adalah karakter-karakter yang mereka mainkan di dunia maya, dunia digital, video games.

Zaman memang sudah berkembang sedemikian pesat, permainan anak-anak sekarang semakin canggih. Namun aku merindukan permainan tradisionalku dulu. Mungkinkah kelak anak-anakku akan memainkannya?


Sunday, August 31, 2008

Agustus


Ultah
Bulan agustus selalu menjadi bulan yang istimewa dalam perjalanan hidupku. Begitupun dengan agustus tahun ini, penuh warna. Aku dilahirkan di bulan agustus yang berarti aku berulang tahun, tapi tidak hanya aku, melainkan juga Mama, kakak dan ponakanku. Ada yang istimewa dalam ulang tahunku kali ini. Aku mendapatkan serangan tengah malam dan mengejutkan. Bagaimana tidak, tepat tengah malam aku mendapatkan kado ultah dari yang tersayang, sekaligus mendapatkan lemparan tart pada wajahku. Alhasil jadilah wajah awal di umur 28 tahun persis layaknya seperti hooligan. Mandi tengah malam untuk membersihkan diri pun menjadi menu utama. Yup...mengawali 28 tahun dengan Cinta. Thanks honey, your present is unforgetable.

AMD Road Show
Pertengahan agustus ada satu undangan dari AMD Indonesia dalam rangka promosi ke Samarinda. Aku juga turut sebagai undangan. Acaranya cukup meriah dan menarik. Tidak rugi datang, soalnya selain bisa bertemu dengan banyak orang, malam itu pun aku membawa banyak hadiah, termasuk door prizenya. Yah, aku berharap diwaktu yang akan datang door prizenya bernilai lebih besar. Great works AMD -ATI.

Konflik dan Pelik
Disela-sela kebahagiaan, tidak luput duka, konflik yang juga pelik ikut menyelip disela-sela bulan agustus tahun ini. Kadang aku masih merasa lemah, rapuh dan terkadang putus asa. Namun keinginan untuk bisa terus bertahan, bisa membuat diri ini bangkit dan terus berusaha. Ya, terus berusaha. Aku memang belum menjadi pribadi yang sepenuhnya dewasa dan matang. Namun aku menuju ke arah itu dengan pasti. Insya Allah...

Selamat datang usia 28 tahun, aku akan terus melanjutkan lukisan kehidupanku.