Saturday, November 12, 2005

Segala Puji Hanya Untuk-Mu

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

- Q.S 1 Surat Al Fatihah (Pembukaan) Ayat 2 -

Tidak terasa waktu terus bergulir, tanpa sadar memasuki tahun ke-6 berada di jogja. Terasa sebentar memang, namun 6 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal dan peristiwa yang mewarnai sepanjang waktu tersebut. Tidak hanya suka, duka pun ikut menyelip dalam sela-sela rentang waktu tersebut. Sukses dan gagal juga datang silih berganti. Sukses terasa membahagiakan, sedangkan gagal sangatlah menyesakkan. Tidak hanya tawa, air mata pun pernah menetes selama di jogja.

Jogja memang menjadi salah satu titik dalam kehidupan penulis. Namun tidak hanya sekedar titik pada sebuah kalimat. Melainkan sebuah titik besar dalam sebuah lukisan yang memang berisi kumpulan titik-titik kehidupan penulis. Berwarna-warni isinya, dan titik yang satu ini menjadi salah satu titik besar dengan warna yang khas. Titik ini memiliki komposisi dan peran besar dalam lukisan kehidupan penulis. Titik ini bisa tampak indah, namun juga bisa nampak kurang nyaman dilihat. Sebagaimana layaknya lukisan, indahnya titik ini tergantung dari cara pandang penikmatnya yang tentu saja penulis sendiri. Penulis selalu mencoba mencari sudut pandang terbaik untuk melihat lukisan ini. Karena hanya dengan demikian lukisan ini menjadi nikmat untuk dilihat dan dibawa kemana saja sampai kapan pun.

Melalui tulisan ini, penulis mencoba kembali memandang lukisan kehidupan pribadi dengan sudut pandang yang nikmat. Nikmat, karena penulis akan bernostalgia dengan kenangan-kenangan indah. Bagaimana dengan kenangan pahit? Penulis akan memberikan ‘pencahayaan’ yang baik agar terlihat indah. Bukankah lukisan yang indah juga didukung oleh teknik pencahayaan yang baik. Oleh karena itu siapapun butuh pencahayaan yang baik jika ingin lukisan kehidupannya terlihat indah dan menyenangkan untuk dinikmati.

Bagaimana cara atau teknik pencahayaan dalam sebuah lukisan kehidupan? Menurut pandangan penulis caranya sangatlah sederhana, dan karena sesederhana itu menjadi sering luput dalam detik-detik (titik-titik lukisan) kehidupan kita. Coba tanyakanlah pada diri kita saat kita bangun pagi dan kembali menghirup udara, pernahkah kita saat itu juga mengucap syukur atas nikmatnya tidur, bangun, dan terus melanjutkan titik lukisan kehidupan kita? Seberapa banyak ucapan syukur dari lubuk hati dengan ikhlas kita panjatkan saat kita mendapatkan suka maupun duka? Sungguh terlalu, sekali lagi terlalu banyak kontribusi sang kuasa dalam komposisi titik-titik lukisan kehidupan kita. Karena pada hakekatnya Dialah pemegang kuas lukisan kehidupan kita.

Bersyukur atas apa yang kita dapatkan, banyak kita syukuri sedikit pun kita syukuri. Jika usaha terbaik sudah kita tuntaskan, maka akhirilah dengan rasa ikhlas akan hasil kepada-Nya. Bila ketetapan-Nya sudah ditetapkan, tetaplah sudah tak ada yang bisa merubah dan takkan bisa berubah. Penulis kira itulah teknik pencahayaan terbaik agar lukisan kehidupan kita senantiasa terlihat indah untuk dinikmati. Yakinlah dengan setitik syukur ikhlas, sebenarnya sang pemegang kuas kehidupan sedang menambahkan titik-titik dengan warna indah pada lukisan kehidupan kita dengan komposisi terbaik.

Ia-lah yang menciptakan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, tetapi sedikit saja kamu bersyukur !

- Q.S 23 Surat Al Mu’minuun (Orang Beriman) Ayat 78 -

Beberapa hari terakhir di Jogja….

0 komentar: