Saturday, November 12, 2005

The Reasons

Hari demi hari terus berlalu

Seakan memaksaku untuk terus berpacu

Berlomba untuk mencapai impianku

Namun lelahku juga ikut beradu

Kadang cemas menghantui

Kegagalan yang akan menanti

Kadang takut menyelimuti

Kerugian yang akan dialami

Tetapi…dengan memilikimu

Aku punya semangat untuk terus maju

Dengan impian untuk terus dapat bersamamu

Aku punya hasrat membatu

Dengan mencintaimu…aku punya alasan

Untuk terus dapat bertahan

Dengan menyayangimu…aku punya kekuatan

Untuk terus berjalan

Semoga kau disana juga merasakan

Betapa berat beban hasrat ini

Untuk dapat melepaskan desakan

Antara tuntutan hidup dan mencintai

Karena kau adalah keduanya

Alasan untuk tetap hidup dan dicintai

Hidup untuk mencintaimu dan…

Terus hidup untuk dicintaimu !

Firman, Menjelang Senin , 22/11/04

Segala Puji Hanya Untuk-Mu

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

- Q.S 1 Surat Al Fatihah (Pembukaan) Ayat 2 -

Tidak terasa waktu terus bergulir, tanpa sadar memasuki tahun ke-6 berada di jogja. Terasa sebentar memang, namun 6 tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal dan peristiwa yang mewarnai sepanjang waktu tersebut. Tidak hanya suka, duka pun ikut menyelip dalam sela-sela rentang waktu tersebut. Sukses dan gagal juga datang silih berganti. Sukses terasa membahagiakan, sedangkan gagal sangatlah menyesakkan. Tidak hanya tawa, air mata pun pernah menetes selama di jogja.

Jogja memang menjadi salah satu titik dalam kehidupan penulis. Namun tidak hanya sekedar titik pada sebuah kalimat. Melainkan sebuah titik besar dalam sebuah lukisan yang memang berisi kumpulan titik-titik kehidupan penulis. Berwarna-warni isinya, dan titik yang satu ini menjadi salah satu titik besar dengan warna yang khas. Titik ini memiliki komposisi dan peran besar dalam lukisan kehidupan penulis. Titik ini bisa tampak indah, namun juga bisa nampak kurang nyaman dilihat. Sebagaimana layaknya lukisan, indahnya titik ini tergantung dari cara pandang penikmatnya yang tentu saja penulis sendiri. Penulis selalu mencoba mencari sudut pandang terbaik untuk melihat lukisan ini. Karena hanya dengan demikian lukisan ini menjadi nikmat untuk dilihat dan dibawa kemana saja sampai kapan pun.

Melalui tulisan ini, penulis mencoba kembali memandang lukisan kehidupan pribadi dengan sudut pandang yang nikmat. Nikmat, karena penulis akan bernostalgia dengan kenangan-kenangan indah. Bagaimana dengan kenangan pahit? Penulis akan memberikan ‘pencahayaan’ yang baik agar terlihat indah. Bukankah lukisan yang indah juga didukung oleh teknik pencahayaan yang baik. Oleh karena itu siapapun butuh pencahayaan yang baik jika ingin lukisan kehidupannya terlihat indah dan menyenangkan untuk dinikmati.

Bagaimana cara atau teknik pencahayaan dalam sebuah lukisan kehidupan? Menurut pandangan penulis caranya sangatlah sederhana, dan karena sesederhana itu menjadi sering luput dalam detik-detik (titik-titik lukisan) kehidupan kita. Coba tanyakanlah pada diri kita saat kita bangun pagi dan kembali menghirup udara, pernahkah kita saat itu juga mengucap syukur atas nikmatnya tidur, bangun, dan terus melanjutkan titik lukisan kehidupan kita? Seberapa banyak ucapan syukur dari lubuk hati dengan ikhlas kita panjatkan saat kita mendapatkan suka maupun duka? Sungguh terlalu, sekali lagi terlalu banyak kontribusi sang kuasa dalam komposisi titik-titik lukisan kehidupan kita. Karena pada hakekatnya Dialah pemegang kuas lukisan kehidupan kita.

Bersyukur atas apa yang kita dapatkan, banyak kita syukuri sedikit pun kita syukuri. Jika usaha terbaik sudah kita tuntaskan, maka akhirilah dengan rasa ikhlas akan hasil kepada-Nya. Bila ketetapan-Nya sudah ditetapkan, tetaplah sudah tak ada yang bisa merubah dan takkan bisa berubah. Penulis kira itulah teknik pencahayaan terbaik agar lukisan kehidupan kita senantiasa terlihat indah untuk dinikmati. Yakinlah dengan setitik syukur ikhlas, sebenarnya sang pemegang kuas kehidupan sedang menambahkan titik-titik dengan warna indah pada lukisan kehidupan kita dengan komposisi terbaik.

Ia-lah yang menciptakan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, tetapi sedikit saja kamu bersyukur !

- Q.S 23 Surat Al Mu’minuun (Orang Beriman) Ayat 78 -

Beberapa hari terakhir di Jogja….

Ampuni Aku !

Betapa sedih diriku

Aku merasa tak mampu

Saat dosa mengalir bisu

Aku merasa kaku

Betapa pedih hatiku

Aku hanya tertunduk lesu

Saat dosa berlalu

Aku merasa malu

Betapa perih sukmaku

Aku lupa akan tobatku

Sedang waktu berlalu

Lalu menangis pilu

Terucap oleh lisanku

Ampunilah hambamu

Bawalah diriku oleh-Mu

Saat Aku berlumur ampun-Mu

Ahad 02:21 di Rumah kontrakan baru

YOGYA

SUPER CULTURE 21 : “ASIAMERICA”

Budaya manusia di bumi ini secara garis besar terbagi menjadi dua kutub yaitu budaya barat dan budaya asia. Sering dipertanyakan manakah antara keduannya yang lebih unggul ? dilihat dari segi teknologi, budaya barat tampak lebih unggul daripada asia. Namun apakah itu berarti budaya asia ketinggalan ? tentu saja tidak ! Dimanakah letak keunggulan masing-masing budaya tersebut ?
Dari hasil teknologinya sudah tampak kelebihan budaya barat yang cenderung berhaluan ke Amerika ini memiliki keunggulan yaitu independensi dan inovasi. Bangsa barat sejak kecil sudah ditanamkan jiwa independen yang percaya diri dan berlatih melihat segala kesempatan, serta inovasi demi perubahan yang lebih baik. Sedangkan bangsa asia memilki nilai – nilai keluarga dan kedisiplinan. Hal ini dibuktikan lebih langgengnya suatu keluarga di asia ketimbang di barat. Disamping itu orang asia yang belajar di Amerika hampir selalu lebih unggul dalam pelajaran hitungan dikarenakan orang asia memiliki kedisiplinan yang baik dalam belajar.
Sebenarnya masing-masing bangsa sudah menyadari keunggulan dan kekurangan masing-masing, dan berusaha untuk menanggulanginya. Dengan kata lain orang asia mempelajari budaya barat, dalam hal ini adalah Amerika dan sebaliknya dengan orang barat Namun dari pernyataan di atas janganlah kita menyerap mentah-mentah budaya barat tersebut karena independensi yang dimiliki budaya asia adalah kebebasan yang bertanggungjawab, sedangkan inovasi dari budaya barat inilah yang menurut penulis perlu kita cermati lebih lanjut. Kita bisa melihat terobosan-terobosan besar pada setiap produk barat baik itu elektronik sampai pada alat kebutuhan rumah tangga, mereka selalu lebih unggul. Dengan inovasi dan visi yang jelas mereka mampu melihat suatu permasalahan beserta solusinya jauh kedepan.
Lalu bagaimana dengan bangsa asia khususnya kita bangsa Indonesia untuk dapat ikut bersaing dengan negara barat dan negara maju lainnya ? dari hasil kutipan majalah straits times disebutkan suatu kebudayaan yang nantinya bakal mendominasi era globalisai adalah perpaduan dari nilai kedua budaya tersebut. Budaya itu disebut dengan Super Culture Asiamerica ! perpaduan antara keduanya adalah sangat tepat dikarenakan untuk menghadapi era globalisasi nanti diperlukan kekuatan berupa independensi dalam hal ini yaitu kemandirian dalam berusaha beserta inovasi sebagai modal pencari solusi yang lebih baik. Disamping itu untuk mencapai suatu tujuan diperlukan suatu kedisiplinan yang baik dan ketenangan batin yang diperoleh dari kebahagian suatu rumah tangga. Karena pembentukan suatu insan yang bermental positif adalah dari keluarga yang tentunya juga bermental positif.
Daya inovasi dapat ditimbulkan dengan cara membuka “gembok-gembok psikologis”. Terkadang orang yang belajar suatu ilmu akan terkurung dalam kerangka ilmu itu sendiri, mereka akan cenderung berkata “ah, itu tidak mungkin ‘kan sudah ada rumusnya, teorinya dan lain sebagainya” sebenarnya hal itu secara tidak langsung akan membatasi pola pikir inovatif kita, bahkan mungkin akan menjadi tumpul. Berbeda dengan orang yang berjiwa inovatif, mereka cenderung memikirkan suatu hal yang tidak mungkin untuk dibayangkan ataupun diselesaikan. Dari hal itu mereka terus berusaha mencari jawaban-jawabannya yang terkadang memang terasa amat sulit. Namun hasilnya adalah suatu produk yang dulunya adalah hal yang terasa mustahil bagi sebagian orang. Contoh sederhananya adalah komputer, bukankah komputer adalah hasil dari inovasi yang dulu mungkin tidak pernah terbayangkan mampunya kita untuk menciptakan barang seperti itu. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama membuka “gembok-gembok psikologis” kita yang mungkin apabila kita membukanya dapat membuat diri kita jauh lebih produktif ketimbang sebelumnya.
Akhirnya pernyataan dari Straits Times bahwa hanya orang yang memilki Asiamerica Super Culture itulah yang akan sukses pada abad 21 nantinya, dan itu adalah kita bangsa asia !

Bagaimana pendapat anda ?

Gadisku

Gadisku tersenyum manis saat kudatang

Gadisku tertawa riang saatku bercanda

Gadisku selalu mengharap telponku

Gadisku inginkan anjing berandal kecil

Gadisku menjamuku dengan kopi susu

Gadisku memasak dengan khasnya

Gadisku inginkan jaket baru

Gadisku sibuk dengan alerginya

Gadisku harapkan setiaku

Tetaplah kau begitu…

Jangan pernah berubah

Karena hanya kaulah gadisku

Temani aku dengan setiamu

Tetaplah jadi gadisku…

Rabu dini hari 01/12/04

BELI BUKU ITU MAHAL ?

Beberapa bulan yang lalu penulis baru membeli 2 buku baru. Buku yang pertama adalah buku tentang biografi kritis Muhammad Sang Nabi karya Kareen Amstrong. Buku yang kedua berjudul Mengapa Kita Berpuasa karya Agus Mustofa. Penulis membelinya karena merasa sangat tertarik dengan isi kedua buku tersebut. Beberapa hari selanjutnya kedua buku itu secara setia menemani saat-saat luang penulis. Secara bergantian buku tersebut penulis baca. Masing-masing buku memiliki “experience-nya” sendiri secara khas, dan itu mengasyikan.

Beberapa hari selanjutnya, penulis kedatangan beberapa teman lama. Mereka adalah teman-teman semasa SMP dulu. Mereka masing-masing ada yang kuliah di Jawa dan di Kalimantan. Sebagaimana layaknya teman yang lama tidak berjumpa kami pun saling bertukar cerita. Karena pada saat itu penulis sedang memegang buku Muhammad Sang Nabi, salah satu dari teman menanyakan perihal buku tersebut. Penulis pun dengan senang hati menjelaskan buku tersebut. Ternyata mereka juga antusias dengan buku tersebut, bahkan terjadi “debat kecil” mengenai buku tersebut. Kemudian mereka juga menyebutkan sejumlah judul buku yang menurut mereka layak untuk dibaca. Penulis menanyakan apakah mereka mempunyainya? Mereka jawab tidak ! jadi dari sekian judul yang mereka rekomendasikan itu tidak satu pun yang mereka miliki. Terus penulis menanyakan “ada punya buku baru gak?” jawaban mereka masih sama. Penulis tanya lagi “dalam tiga bulan ini ada beli buku baru?” sekali lagi jawaban mereka masih sama. Penulis dapat menduga jawaban mereka jika ditanya “dalam enam bulan ini ada beli buku baru?” tetapi penulis tidak menanyakan hal itu. Penulis Tanya apakah buku yang mereka rekomendasikan itu adalah buku yang bagus? Mereka jawab “Ya !” apakah buku tersebut layak untuk dibeli? Mereka juga jawab “Ya !” lho, jadi kenapa kalian satupun tidak ada yang membelinya? Jawaban mereka seragam “harganya mahal !”. “Mahalnya berapa ?” penulis penasaran. Ternyata harganya tidak jauh berbeda dari buku yang penulis baru beli.

Benarkah membeli buku itu mahal? Pasti ada yang menjawab “mahal itu relatif” tergantung jenis buku, kualitas dan sebagainya. Hal tersebut memang benar, namun kali ini bukan itu yang ingin penulis soroti. Menurut penulis sebenarnya secara sadar atau tidak, kita memiliki setting dalam pikiran kita bahwa membeli buku itu adalah biaya. Dan biaya dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang harus direduksi atau diminimalisir bahkan dihindari. Kita dari sejak kecil memang diajarkan begitu, biaya harus dihindari dan biaya biasanya datang dari kegiatan konsumsi. Sekali lagi secara sadar atau tidak kita memandang membeli buku adalah sebagian dari kegiatan konsumsi, dan itu adalah biaya.

Penulis banyak mengajukan pertanyaan ke banyak teman. Kalau ada buku harganya Rp 50.000 mahal apa tidak? Hampir semuanya menjawab mahal. Hanya sebagian kecil yang menjawab tidak atau tergantung bukunya. Berapa kisaran harga buku yang murah ? Jawabnya pasti berkisar Rp 20.000 – Rp 40.000, penulis sempat berpikir apakah karena ada pecahan uang Rp 50.000 sehingga menjadi ambang batas mahal atau tidaknya sebuah buku. Padahal rata-rata buku yang penulis beli berkisar antara Rp 35.000 hingga Rp 100.000 lebih. Selanjutnya penulis juga mengajukan pertanyaan “kalau ada sebidang tanah dipinggir jalan raya/protokol dengan luas 20 x 40 m dengan harga Rp 100 juta, mahal apa tidak? Hampir semuanya menjawab tidak mahal, bahkan menjawab harus dibeli. Nilai uang Rp 50.000 untuk buku dengan Rp 100 juta untuk tanah adalah jumlah dengan selisih yang jauh sekali. Tapi Rp 50.000 untuk buku kenapa mahal ? Tahukah kenapa demikian ? Sederhana sekali, sudut pandang !

Kita selama ini membeli buku sudut pandangnya adalah biaya, sedangkan membeli tanah adalah investasi. Investasi dalam setting pikiran kita adalah bahwa kita akan menerima imbal hasil (return) dimasa yang akan datang. Singkatnya pasti untung! Penulis selama ini tidak pernah merasa mahal membeli buku karena penulis menilainya sebagai kegiatan investasi. Memang tidak secara otomatis penulis memiliki sudut pandang demikian, ada prosesnya. Pada awalnya kegiatan membeli buku adalah sekedar hobi dan masih dinilai konsumsi. Tetapi setelah berjalan sekian lama, membeli buku menjadi kebiasaan. Sejalan dengan itu, begitu banyak manfaat yang penulis peroleh dari kegiatan membeli buku (perhatikan, disini penulis tidak menggunakan istilah “kegiatan membaca buku”) hingga akhirnya menjadi kebutuhan. Sehingga imbal hasil dari membeli buku itu bisa dengan jelas penulis rasakan atau dapatkan. Permasalahannya adalah sebagian besar dari manfaat membeli buku adalah tidak kasat mata (untangible), jadi sukar untuk menilai manfaatnya secara jelas. Berbeda dengan membeli hal lain yang manfaatnya berupa sesuatu yang kasat mata (tangible). Padahal sesuatu yang tidak kasat mata biasanya bernilai sangat besar, karena ia berbentuk sebagai potensi dan potensi dapat menjadi tidak terbatas apabila terus dikembangkan. Sama saja dengan kegiatan sekolah, kenapa kita mau membayar mahal untuk sekolah/kuliah? Karena kita mengharapkan imbal hasil pada masa yang akan datang, ya investasi itu tadi. Walaupun kita tidak bisa melihat manfaatnya secara langsung/kasat mata. Tapi kita tahu bahwa dengan sekolah/kuliah kita sebenarnya sedang mengembangkan potensi kita. Demikian juga dengan membeli buku, kita sedang mengolah potensi.

Jadi sebenarnya tidak ada alasan membeli buku itu mahal atau tidak. Sebagaimana penilaian dalam proses investasi, yang ada hanyalah layak atau tidak layak buku tersebut untuk dibeli. Prosesnya pun tidak sebatas membeli saja, tetapi bagaimana memanfaatkan buku tersebut. Sama saja dengan membeli tanah tadi, apabila tanah tersebut kita banguni rumah hunian atau bahkan pusat perbelanjaan, maka hasilnya akan berlipat ganda.

Membeli buku menurut penulis manfaatnya adalah mendapatkan informasi, menguatkan atau menghilangkan keragu-raguan akan suatu hal (konfirmasi) dan mendapatkan motivasi. Khusus manfaat yang terakhir, kita ketahui bahwa motivasi dalam diri kita bergerak naik turun seperti grafik saham. Sedangkan motivasi memegang peranan penting dalam hal kesuksesan seseorang. Ingat, yang memaksimalkan potensi dalam diri kita bukanlah kekuatan fisik atau tingkat kecerdasan kita (IQ), melainkan seberapa besar motivasi yang menggerakan diri kita.

Jadi pertanyaan terakhir penulis adalah “dalam 3 bulan ini buku apa yang kamu beli?”

Bacalah ! Tuhanmulah Yang Maha Pemurah ! Yang mengajar dengan kalam. Mengajar Manusia apa yang tiada ia tahu.

- Q.S Surat Al ‘Alaq (Segumpal Darah) Ayat 3-5 -

Cukup Nama Lengkap Saja !

Apakah tujuan kuliah selama ini? Apakah hanya untuk mendapatkan gelar kesarjanaan saja? Tentu saja jawabannya tidak! Tetapi kenapa kita butuh dengan gelar tersebut? Jawaban salah satunya karena mungkin pekerjaan mensyaratkan hal tersebut. Haruskah demikian? Mengapa harus? Sebenarnya bagaimanakah dampak gelar kesarjanaan bagi psikologis seseorang?

Saya seorang sarjana ekonomi sahut seseorang, yang lainnya mengaku seorang sarjana teknik atau yang dulunya kita kenal dengan sebutan insinyur. Tentu saja nada bangga yang terdengar dari suara mereka. Karena bagi mereka tidak mudah dan tidak semua orang mampu untuk meraihnya. Sampai manakah kebanggaan mereka itu? Tentu saja sampai ke jenjang gelar kesarjanaan selanjutnya, S2. Begitu yang dihadapi mereka seorang S2, tunduklah percaya diri mereka. Begitu pekerjaan mensyaratkan S2, lewatlah peluang mereka yang hanya memiliki gelar S1.

Berkaca dari pengalaman pribadi, penulis merasa gelar kesarjanaan adalah sarana untuk dapat berbangga diri sekaligus alat penciut percaya diri. Pandangan penulis, gelar kesarjanaan sangatlah mudah untuk menjebak seseorang untuk membatasi dirinya secara tidak sadar. Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? berangkat dari pengalaman, penulis mencoba mengurainya. Penulis sebelum memiliki gelar sarjana S1, menyandang gelar ahli madya atau dengan kata lain hanya seorang lulusan D3. “Apa sih yang dapat dilakukan oleh seorang lulusan D3?”, kalimat sinis ini sering terdengar di telinga kita. Terus terang saja, dengung suara demikian juga tergaung di batin penulis sendiri saat menyandang gelar tersebut. Akibatnya gelar tersebut tidak pernah ikut mendampingi nama lengkap penulis. Alasan sederhananya adalah buat apa, wong cuma D3. Akibatnya gelar itu terlupakan sejalan dengan waktu.

Melupakan gelar tersebut ternyata tanpa disadari membuat penulis merasa tetap menjadi diri sendiri secara “utuh”. Utuh dalam pengertian tanpa membatasi kemampuan diri sendiri secara psikologis. Begitu penulis merasa ada perkembangan intelektual, saat itu juga percaya diri secara akademis meningkat. Singkatnya, karena jika hanya berpatokan dengan gelar D3, penulis tidak akan pernah merasa mampu untuk menulis sebuah buku. Apa kata orang nanti, buku hanya dari seorang lulusan D3. Pasti isinya tidak mutu dan juga tidak bakal dilirik orang. Apakah faktanya juga demikian? Ternyata tidak tuh ! Dengan bermodalkan pengetahuan yang didapat selama kuliah D3, seminar, pelatihan, banyak membaca dan mendengar berbagai sumber informasi, penulis mampu untuk meramu sebuah buku analisis teknikal saham dan menjadi buku yang cukup laris. Bahkan buku tersebut adalah buku pertama di negeri ini dalam kategorinya. Sebenarnya hal tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, tetapi hal yang ingin ditekankan disini adalah keberanian secara mental akademis. Penulis berani jamin tidak semua orang percaya diri dan berani untuk me-launching sebuah buku di bidang akademisnya pada jenjang awal. Mengapa? Karena secara tidak sadar mereka telah membatasi kepercayaan diri mereka secara psikologis. Suara-suara seperti “Ah, saya belum apa-apa, saya kan cuma S1, bisa apa?”, “Apa nanti kata orang, kan sudah ada professor si anu”, “mereka lebih ahli daripada saya” dan seterusnya!.

Kembali lagi pada pengalaman. Pada pertengahan studi S1 penulis mendapat tawaran untuk memberikan pelatihan satu hari kepada dosen-dosen ekonomi UI. Apabila anda adalah seorang mahasiswa yang berada di pertengahan masa kuliah S1, diminta untuk mengajar para dosen? Apa reaksi anda? tentu saja penolakan. Bukan karena tidak mau, tetapi merasa ada peran yang terbalik. Seharusnya merekalah yang mengajar kita. Sekali lagi secara tidak sadar kita membatasi diri kita karena gelar kesarjanaan yang dan akan kita miliki. Padahal sekarang yang penting bukan lamanya studi, melainkan seberapa cepat seseorang melakukan percepatan dalam studi. Oleh karena itulah saat ini terjadi pergeseran peran antara seorang mahasiswa dengan dosennya. Sekarang peran sebagai mitra belajar lebih relevan dibanding antara guru dengan siswa. Hal tersebut memungkinkan karena semakin terbuka dan mudahnya akses informasi dan pengetahuan. Alhasil, tawaran untuk memberikan pelatihan kepada dosen pun diterima. Dan para dosen pun mengangguk-ngangguk pertanda paham saat penulis menyampaikan materi. Persis bagaimana kita saat berada dikelas mereka.

Sekali lagi karena pengalaman, penulis menyarankan raihlah gelar kesarjanaan dengan baik dan penuh tanggungjawab lalu segeralah untuk “melupakannya”. Jangan batasi mental dan kemampuan anda hanya karena bangga dengan beberapa huruf yang menyertai nama anda. Sekarang cukuplah berbangga dengan nama lengkap anda sendiri, bukannya tidak percaya diri dengan gelar tersebut, melainkan karena percaya dengan diri sendiri. Penulis sadar apa yang selama ini penulis raih, karena sedikitpun tidak bersandar dengan gelar tersebut. Buktikanlah !

Sabtu, 1 Mei 2004