Beberapa bulan yang lalu penulis baru membeli 2 buku baru. Buku yang pertama adalah buku tentang biografi kritis Muhammad Sang Nabi karya Kareen Amstrong. Buku yang kedua berjudul Mengapa Kita Berpuasa karya Agus Mustofa. Penulis membelinya karena merasa sangat tertarik dengan isi kedua buku tersebut. Beberapa hari selanjutnya kedua buku itu secara setia menemani saat-saat luang penulis. Secara bergantian buku tersebut penulis baca. Masing-masing buku memiliki “experience-nya” sendiri secara khas, dan itu mengasyikan.
Beberapa hari selanjutnya, penulis kedatangan beberapa teman lama. Mereka adalah teman-teman semasa SMP dulu. Mereka masing-masing ada yang kuliah di Jawa dan di Kalimantan. Sebagaimana layaknya teman yang lama tidak berjumpa kami pun saling bertukar cerita. Karena pada saat itu penulis sedang memegang buku Muhammad Sang Nabi, salah satu dari teman menanyakan perihal buku tersebut. Penulis pun dengan senang hati menjelaskan buku tersebut. Ternyata mereka juga antusias dengan buku tersebut, bahkan terjadi “debat kecil” mengenai buku tersebut. Kemudian mereka juga menyebutkan sejumlah judul buku yang menurut mereka layak untuk dibaca. Penulis menanyakan apakah mereka mempunyainya? Mereka jawab tidak ! jadi dari sekian judul yang mereka rekomendasikan itu tidak satu pun yang mereka miliki. Terus penulis menanyakan “ada punya buku baru gak?” jawaban mereka masih sama. Penulis tanya lagi “dalam tiga bulan ini ada beli buku baru?” sekali lagi jawaban mereka masih sama. Penulis dapat menduga jawaban mereka jika ditanya “dalam enam bulan ini ada beli buku baru?” tetapi penulis tidak menanyakan hal itu. Penulis Tanya apakah buku yang mereka rekomendasikan itu adalah buku yang bagus? Mereka jawab “Ya !” apakah buku tersebut layak untuk dibeli? Mereka juga jawab “Ya !” lho, jadi kenapa kalian satupun tidak ada yang membelinya? Jawaban mereka seragam “harganya mahal !”. “Mahalnya berapa ?” penulis penasaran. Ternyata harganya tidak jauh berbeda dari buku yang penulis baru beli.
Benarkah membeli buku itu mahal? Pasti ada yang menjawab “mahal itu relatif” tergantung jenis buku, kualitas dan sebagainya. Hal tersebut memang benar, namun kali ini bukan itu yang ingin penulis soroti. Menurut penulis sebenarnya secara sadar atau tidak, kita memiliki setting dalam pikiran kita bahwa membeli buku itu adalah biaya. Dan biaya dalam kehidupan kita adalah sesuatu yang harus direduksi atau diminimalisir bahkan dihindari. Kita dari sejak kecil memang diajarkan begitu, biaya harus dihindari dan biaya biasanya datang dari kegiatan konsumsi. Sekali lagi secara sadar atau tidak kita memandang membeli buku adalah sebagian dari kegiatan konsumsi, dan itu adalah biaya.
Penulis banyak mengajukan pertanyaan ke banyak teman. Kalau ada buku harganya Rp 50.000 mahal apa tidak? Hampir semuanya menjawab mahal. Hanya sebagian kecil yang menjawab tidak atau tergantung bukunya. Berapa kisaran harga buku yang murah ? Jawabnya pasti berkisar Rp 20.000 – Rp 40.000, penulis sempat berpikir apakah karena ada pecahan uang Rp 50.000 sehingga menjadi ambang batas mahal atau tidaknya sebuah buku. Padahal rata-rata buku yang penulis beli berkisar antara Rp 35.000 hingga Rp 100.000 lebih. Selanjutnya penulis juga mengajukan pertanyaan “kalau ada sebidang tanah dipinggir jalan raya/protokol dengan luas 20 x 40 m dengan harga Rp 100 juta, mahal apa tidak? Hampir semuanya menjawab tidak mahal, bahkan menjawab harus dibeli. Nilai uang Rp 50.000 untuk buku dengan Rp 100 juta untuk tanah adalah jumlah dengan selisih yang jauh sekali. Tapi Rp 50.000 untuk buku kenapa mahal ? Tahukah kenapa demikian ? Sederhana sekali, sudut pandang !
Kita selama ini membeli buku sudut pandangnya adalah biaya, sedangkan membeli tanah adalah investasi. Investasi dalam setting pikiran kita adalah bahwa kita akan menerima imbal hasil (return) dimasa yang akan datang. Singkatnya pasti untung! Penulis selama ini tidak pernah merasa mahal membeli buku karena penulis menilainya sebagai kegiatan investasi. Memang tidak secara otomatis penulis memiliki sudut pandang demikian, ada prosesnya. Pada awalnya kegiatan membeli buku adalah sekedar hobi dan masih dinilai konsumsi. Tetapi setelah berjalan sekian lama, membeli buku menjadi kebiasaan. Sejalan dengan itu, begitu banyak manfaat yang penulis peroleh dari kegiatan membeli buku (perhatikan, disini penulis tidak menggunakan istilah “kegiatan membaca buku”) hingga akhirnya menjadi kebutuhan. Sehingga imbal hasil dari membeli buku itu bisa dengan jelas penulis rasakan atau dapatkan. Permasalahannya adalah sebagian besar dari manfaat membeli buku adalah tidak kasat mata (untangible), jadi sukar untuk menilai manfaatnya secara jelas. Berbeda dengan membeli hal lain yang manfaatnya berupa sesuatu yang kasat mata (tangible). Padahal sesuatu yang tidak kasat mata biasanya bernilai sangat besar, karena ia berbentuk sebagai potensi dan potensi dapat menjadi tidak terbatas apabila terus dikembangkan. Sama saja dengan kegiatan sekolah, kenapa kita mau membayar mahal untuk sekolah/kuliah? Karena kita mengharapkan imbal hasil pada masa yang akan datang, ya investasi itu tadi. Walaupun kita tidak bisa melihat manfaatnya secara langsung/kasat mata. Tapi kita tahu bahwa dengan sekolah/kuliah kita sebenarnya sedang mengembangkan potensi kita. Demikian juga dengan membeli buku, kita sedang mengolah potensi.
Jadi sebenarnya tidak ada alasan membeli buku itu mahal atau tidak. Sebagaimana penilaian dalam proses investasi, yang ada hanyalah layak atau tidak layak buku tersebut untuk dibeli. Prosesnya pun tidak sebatas membeli saja, tetapi bagaimana memanfaatkan buku tersebut. Sama saja dengan membeli tanah tadi, apabila tanah tersebut kita banguni rumah hunian atau bahkan pusat perbelanjaan, maka hasilnya akan berlipat ganda.
Membeli buku menurut penulis manfaatnya adalah mendapatkan informasi, menguatkan atau menghilangkan keragu-raguan akan suatu hal (konfirmasi) dan mendapatkan motivasi. Khusus manfaat yang terakhir, kita ketahui bahwa motivasi dalam diri kita bergerak naik turun seperti grafik saham. Sedangkan motivasi memegang peranan penting dalam hal kesuksesan seseorang. Ingat, yang memaksimalkan potensi dalam diri kita bukanlah kekuatan fisik atau tingkat kecerdasan kita (IQ), melainkan seberapa besar motivasi yang menggerakan diri kita.
Jadi pertanyaan terakhir penulis adalah “dalam 3 bulan ini buku apa yang kamu beli?”
Bacalah ! Tuhanmulah Yang Maha Pemurah ! Yang mengajar dengan kalam. Mengajar Manusia apa yang tiada ia tahu.
- Q.S Surat Al ‘Alaq (Segumpal Darah) Ayat 3-5 -