
Beberapa waktu yang lalu disela-sela kesibukan menjaga toko, aku kedatangan seorang teman. Dia datang rupanya tidak untuk membeli sesuatu, melainkan untuk mengajak mengobrol denganku. Hal ini bukanlah hal baru lagi, karena memang tokoku kerap dikunjungi pelanggan, teman bahkan orang yang baru pertama kali datang ketokoku bukan untuk membeli perangkat komputer, melainkan untuk ngobrol. Biasanya obrolannya tidak jauh seputar masalah dunia komputer, perkembangan teknologi informasi terkini, game komputer terbaru ataupun keluhan masalah komputer yang ngadat karena terjangkiti virus dan lain sebagainya. Namun tidak jarang obrolan juga merembet ke masalah-masalah yang bersifat pribadi, keluhan suasana kantor, persaingan bisnis dan sejenisnya. Apabila yang datang mahasiswa keluhannya pribadinya seputar masalah tugas akhir, rencana masa depan setelah lulus kuliah dan lain-lain. Tokoku kadang mirip dengan warung jenggo, tempat ngumpul buat ngobrol-ngobrol. Tapi semuanya biasanya berangkat dari satu kesamaan, yaitu orang-orangnya adalah “penikmat komputer”.
Kembali ke temanku tadi. Dia juga termasuk penikmat komputer, tapi tidak sedang ingin ngobrol masalah komputer. Dia membawa sebuah buku, dia baru membelinya dan sudah selesai membacanya. Dia memperlihatkan cover buku itu, dia bertanya apakah aku sudah membacanya. Dari covernya…Oh, sudah baca tuh…tapi softcopy dari teman dimilis. Ya, tidak salah lagi judul buku itu “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?” karya
Aku saat itu tidak segera menimpalinya, tidak segera membalas dengan tembakan senjata yang sama. Saling tembak! Wah, bisa mati konyol berdua alias tidak menjadi sebuah solusi bagi kami. Aku jadi teringat dengan tulisan-tulisanku dimilis kelas mengenai masalah ini, jadi pengusaha vs karyawan. Memang
Oleh karena itu beberapa waktu yang lalu aku sempat menanyakan komentar mengenai isi dari buku karya
Lembar demi lembar halaman pun mulai ditelusuri, dinikmati, dirasakan experience-nya. Benar saja, buku itu sangat bagus isinya dan terlebih lagi ada bagian yang kurasa bisa menjadi jembatan bagi kubu pikiran teman sang karyawan dengan aku yang berwirausaha. Buku itu mengisahkan seorang karyawan dengan segala pengalamannya menangani
Ibarat Tanaman
Ketika saya mendiskusikan hal ini dengan Bapak Ustad, saya mendapat jawaban yang jelas. Allah SWT menganugerahi mental dan karakter seseorang itu ibarat tanaman.
“Pohon jati sifatnya mandiri, setelah tumbuh tak usah disiram juga terus tumbuh kuat”, tuturnya. Orang yang punya mental seperti pohon jati akan secara otomatis punya naluri bisnis yang tinggi. Kalaupun dia menjadi karyawan, itu hanya untuk sementara, nantinya pasti akan banting setir dan beralih menjadi pengusaha dengan sendirinya.
Hal ini berbeda dengan orang yang punya mental seperti bunga. Bunga itu
“Seperti halnya bunga, karyawan takut kalau tempatnya digeser. Jangan-jangan di tempat baru nanti tidak ada yang menyirami atau siramannya berkurang. Karena itu, jangan heran kalau ada rencana mutasi di suatu perusahaan, banyak karyawan yang kasak-kusuk”, urai Bapak Ustad.
Tanaman pun bermacam-macam.
Berbeda pula dengan pohon kelapa. Orang yang punya mental seperti pohon kelapa, apa pun yang dia lakukan pasti menghasilkan. Pohon kelapa dari akar sampai daunnya bermanfaat. Daunnya untuk janur, serabutnya untuk keset, batok kelapanya jadi arang, dagingnya untuk santan atau dicampur es menjadi minuman yang segar dan batangnya untuk kayu.
Nah, pengusaha yang punya mental dan karakter seperti pohon kelapa, biasanya dikenal jujur, kreatif, pantang mundur, berani menghadapi kesulitan dan terlalu percaya kepada
“Karena itu, musuh berat pohon kelapa itu satu : bajing alias tupai. Karena sifat terlalu percaya itulah, banyak bajingan yang mendekat, “ seloroh Bapak Ustad.
Kalau pohon palem lain lagi. Masih menurut Bapak Ustad, palem ditanam untuk dilihat keindahannya. Pengusaha yang punya karakter seperti pohon palem, biasanya suka pada penampilan, jenis
Begitu pula dengan karakter dan mental seperti bunga. Misalnya, bunga melati. Karyawan yang punya karakter seperi bungan ini umumnya rapi, bersih dan wangi dalam berpakaian. Tetapi, namanya bunga melati, harganya tidak mahal. Artinya, gaji karyawan tipe bunga melati ini tidak bisa tinggi karena kemampuannya yang begitu-begitu saja.
Berbeda dengan bungan sedap malam. Bunga ini kalau siang tidak berbau harum, tetapi pada malam hari wanginya bukan main. Karyawan jenis ini, omongannya besar tapi giliran disuruh kerja tidak bisa apa-apa.
Yang paling bagus bunga anggrek. Karyawan yang punya tipe bunga anggrek ini kalau potensinya dikembangkan, dia bisa menjadi hebat. Hebat sebagai karyawan. Tetapi, kalau berani coba-coba keluar dari
“Karena itu, jangan heran kalau ada manajer atau direktur yang gajinya Rp 1 miliar setahun, meskipun dia hanya karyawan, “ tambah Bapak Ustad.
“Apa bisa
“Hampir tidak mungkin,” sambarnya. “Itulah anugerah Allah SWT, dalam memutar roda kehidupan di dunia ini. Allah punya komposisi yang pas dalam mengatur jumlah
“Kalau tidak berani jadi pengusaha, jadilah karyawan yang hebat dan bergaji tinggi. Lebih baik menjadi karyawan yang gajinya Rp50 juta sebulan ketimbang menjadi pengusaha yang tidak mau meningkatkan diri sehingga omzetnya saja hanya Rp20 juta sebulan,” katanya.
Begitu pula kalau menjadi pengusaha, haruslah kreatif, inovatif dan berani menghadapi risiko. “Pengusaha yang sukses adalah pengusaha yang berani mengambil risiko. Asal jangan ambil risiko soal memilih agama, karena di akhirat nanti tidak ada yang bisa diulang dan tidak ada ampun lagi bagi
“Apa mental dan karakter bunga atau pohon itu bisa diketahui sejak masih
“Inysa Allah bisa,” jawab Bapak Ustad pendek. Caranya,
Mungkin bisa juga melalui psikotes tentang kecenderungan minat dan keberanian si anak mengambil risiko. Penelusuran mental dan karakter anak ini penting bagi pengusaha yang berencana mewariskan
Dengan mengetahui secara dini,
Setelah temanku membaca kutipan diatas, dia pun tersenyum. Wajahnya cerah saat itu, sepertinya ia juga merasa puas. Ia berkata kagum, betapa banyak fenomena alam menjelaskan dinamika kehidupan manusia. Pendapat temanku itu tepat sekali, karena alam sekitar kita juga merupakan ayat-ayat Tuhan yang esa bagi hambanya yang berpikir*. Kedatangannya yang berikut kami tidak lagi mendiskusikan pilihan wirausaha vs karyawan, tetapi bagaimana kami masing-masing dapat menjadi tanaman yang terindah.
* Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran : 190)
* Dan
(QS. Al Ankabuut : 43)





0 komentar:
Post a Comment