Wednesday, December 12, 2007

Menjadi Tanaman Terindah


Beberapa waktu yang lalu disela-sela kesibukan menjaga toko, aku kedatangan seorang teman. Dia datang rupanya tidak untuk membeli sesuatu, melainkan untuk mengajak mengobrol denganku. Hal ini bukanlah hal baru lagi, karena memang tokoku kerap dikunjungi pelanggan, teman bahkan orang yang baru pertama kali datang ketokoku bukan untuk membeli perangkat komputer, melainkan untuk ngobrol. Biasanya obrolannya tidak jauh seputar masalah dunia komputer, perkembangan teknologi informasi terkini, game komputer terbaru ataupun keluhan masalah komputer yang ngadat karena terjangkiti virus dan lain sebagainya. Namun tidak jarang obrolan juga merembet ke masalah-masalah yang bersifat pribadi, keluhan suasana kantor, persaingan bisnis dan sejenisnya. Apabila yang datang mahasiswa keluhannya pribadinya seputar masalah tugas akhir, rencana masa depan setelah lulus kuliah dan lain-lain. Tokoku kadang mirip dengan warung jenggo, tempat ngumpul buat ngobrol-ngobrol. Tapi semuanya biasanya berangkat dari satu kesamaan, yaitu orang-orangnya adalah “penikmat komputer”.

Kembali ke temanku tadi. Dia juga termasuk penikmat komputer, tapi tidak sedang ingin ngobrol masalah komputer. Dia membawa sebuah buku, dia baru membelinya dan sudah selesai membacanya. Dia memperlihatkan cover buku itu, dia bertanya apakah aku sudah membacanya. Dari covernya…Oh, sudah baca tuh…tapi softcopy dari teman dimilis. Ya, tidak salah lagi judul buku itu “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?” karya Safir Senduk. Wah, dia tampak semangat sekali ingin mendiskusikannya. Maka segera larutlah kami dalam sebuah diskusi. Sebuah diskusi yang memisahkan kami dalam dua kubu yang berseberangan, kebetulan dia seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Dengan buku itu, dia seperti merasa memegang sebuah senjata dengan penuh amunisi untuk memberondongkannya kepadaku. Dia menyakinkan bahwa selama ini dia tidak salah memilih pilihan jalan hidup. Memang sebelumnya kami pernah terlibat dengan diskusi sejenis, dimana pada waktu itu mungkin akulah yang memberondongkan senjata kearahnya. Nah, mungkin inilah baginya saat untuk menembak balik!

Aku saat itu tidak segera menimpalinya, tidak segera membalas dengan tembakan senjata yang sama. Saling tembak! Wah, bisa mati konyol berdua alias tidak menjadi sebuah solusi bagi kami. Aku jadi teringat dengan tulisan-tulisanku dimilis kelas mengenai masalah ini, jadi pengusaha vs karyawan. Memang tampaknya topik ini selalu dapat menjadi hal yang asyik untuk diperbincangkan. Persis dalam dunia komputer, pilih prosessor Intel atau AMD. Aku bilang itu pilihan masing-masing dimana pilihan itu tergantung dari kondisi kita masing-masing, juga berkaitan dengan masalah panggilan jiwa. Tapi tampaknya dia kurang puas dengan jawabanku, tampaknya ia menginginkan sebuah serangan balik. Karena tidak ingin saling tembak tadi, aku sarankan dia untuk kembali 1 minggu lagi untuk berdiskusi. Aku akan mencari hal yang mencerahkan hal ini bagi kami berdua.

Oleh karena itu beberapa waktu yang lalu aku sempat menanyakan komentar mengenai isi dari buku karya Safir Senduk itu dimilis ini. Aku juga secara pribadi berdoa supaya “pencerahan” itu segera tiba ditanganku untuk kemudian dibagikan kepada sang teman tadi. Aku pun pergi ke Gramedia untuk melihat-lihat buku baru. Dari sekian buku yang dipajang, ada satu buku yang sebenarnya sudah lama ingin dibeli tetapi tidak jadi dibeli. Jadi saat itu aku membawa pulang buku itu, berharap isinya berguna bagiku.

Lembar demi lembar halaman pun mulai ditelusuri, dinikmati, dirasakan experience-nya. Benar saja, buku itu sangat bagus isinya dan terlebih lagi ada bagian yang kurasa bisa menjadi jembatan bagi kubu pikiran teman sang karyawan dengan aku yang berwirausaha. Buku itu mengisahkan seorang karyawan dengan segala pengalamannya menangani perusahaan yang bergerak dibidang pers. Dia dibimbing oleh seorang guru yang kebetulan seorang Ustad. Ustad itu sebelumnya pernah menjadi eksekutif sukses dalam bisnis, tetapi panggilan jiwanya kembali membimbingnya ke dunia asalnya yaitu spiritualitas. Lewat bimbingan Ustad itu, sang karyawan yang penulis buku itu meminta petunjuk apabila mendapat suatu masalah. Hal itu berlanjut sampai karyawan itu memutuskan untuk berwirausaha. Nah, bagian berikut adalah petikan dialog antara Ustad dengan penulis buku itu, yang penulis rasa dapat menjadi jembatan itu :

Ibarat Tanaman

Ketika saya mendiskusikan hal ini dengan Bapak Ustad, saya mendapat jawaban yang jelas. Allah SWT menganugerahi mental dan karakter seseorang itu ibarat tanaman. Ada yang mentalnya seperti pohon jati : kuat, tangguh dan berkualitas tinggi.

“Pohon jati sifatnya mandiri, setelah tumbuh tak usah disiram juga terus tumbuh kuat”, tuturnya. Orang yang punya mental seperti pohon jati akan secara otomatis punya naluri bisnis yang tinggi. Kalaupun dia menjadi karyawan, itu hanya untuk sementara, nantinya pasti akan banting setir dan beralih menjadi pengusaha dengan sendirinya.

Hal ini berbeda dengan orang yang punya mental seperti bunga. Bunga itu kan penghias ruangan dan secara periodik harus disirami. Kalau tidak disiram, ia akan mati. Bunga tidak berani hidup di alam bebas sendirian. Mental karyawan umumnya seperti bunga. Dia senang bekerja di gedung ber-AC, punya status dan gaji rutin setiap bulan.

“Seperti halnya bunga, karyawan takut kalau tempatnya digeser. Jangan-jangan di tempat baru nanti tidak ada yang menyirami atau siramannya berkurang. Karena itu, jangan heran kalau ada rencana mutasi di suatu perusahaan, banyak karyawan yang kasak-kusuk”, urai Bapak Ustad.

Tanaman pun bermacam-macam. Ada pohon jati, kelapa, palem dan lain-lain. Begitu juga bunga, ada melati, mawar, sedap malam, ada pula anggrek. Pengusaha yang punya mental dan karakter seperti pohon jati, dia kukuh, kuat dan harganya pun mahal. Pengusaha semacam ini kalau punya produk pasti berkualitas tinggi dan low profile seperti bentuk pohon jati yang biasa-biasa saja.

Berbeda pula dengan pohon kelapa. Orang yang punya mental seperti pohon kelapa, apa pun yang dia lakukan pasti menghasilkan. Pohon kelapa dari akar sampai daunnya bermanfaat. Daunnya untuk janur, serabutnya untuk keset, batok kelapanya jadi arang, dagingnya untuk santan atau dicampur es menjadi minuman yang segar dan batangnya untuk kayu.

Nah, pengusaha yang punya mental dan karakter seperti pohon kelapa, biasanya dikenal jujur, kreatif, pantang mundur, berani menghadapi kesulitan dan terlalu percaya kepada orang lain.

“Karena itu, musuh berat pohon kelapa itu satu : bajing alias tupai. Karena sifat terlalu percaya itulah, banyak bajingan yang mendekat, “ seloroh Bapak Ustad.

Kalau pohon palem lain lagi. Masih menurut Bapak Ustad, palem ditanam untuk dilihat keindahannya. Pengusaha yang punya karakter seperti pohon palem, biasanya suka pada penampilan, jenis usahanya pun selalu berbau wah, glamour dan menarik.

Begitu pula dengan karakter dan mental seperti bunga. Misalnya, bunga melati. Karyawan yang punya karakter seperi bungan ini umumnya rapi, bersih dan wangi dalam berpakaian. Tetapi, namanya bunga melati, harganya tidak mahal. Artinya, gaji karyawan tipe bunga melati ini tidak bisa tinggi karena kemampuannya yang begitu-begitu saja.

Berbeda dengan bungan sedap malam. Bunga ini kalau siang tidak berbau harum, tetapi pada malam hari wanginya bukan main. Karyawan jenis ini, omongannya besar tapi giliran disuruh kerja tidak bisa apa-apa.

Yang paling bagus bunga anggrek. Karyawan yang punya tipe bunga anggrek ini kalau potensinya dikembangkan, dia bisa menjadi hebat. Hebat sebagai karyawan. Tetapi, kalau berani coba-coba keluar dari perusahaan, dia akan mati karena tidak ada yang menyirami. Harga anggrek bisa murah dan bisa mahal bergantung perawatan dan persilangannya. Begitu pula gaji karyawan tipe anggrek, ada yang kecil dan ada yang besar.

“Karena itu, jangan heran kalau ada manajer atau direktur yang gajinya Rp 1 miliar setahun, meskipun dia hanya karyawan, “ tambah Bapak Ustad.

“Apa bisa orang yang punya mental seperi bunga berpindah menjadi pohon?” Tanya saya.

“Hampir tidak mungkin,” sambarnya. “Itulah anugerah Allah SWT, dalam memutar roda kehidupan di dunia ini. Allah punya komposisi yang pas dalam mengatur jumlah orang yang harus menjadi karyawan dan menjadi pengusaha,” jawabnya. “Yang bisa dilakukan manusia adalah meningkatkan kemampuan diri,” tambahnya.

“Kalau tidak berani jadi pengusaha, jadilah karyawan yang hebat dan bergaji tinggi. Lebih baik menjadi karyawan yang gajinya Rp50 juta sebulan ketimbang menjadi pengusaha yang tidak mau meningkatkan diri sehingga omzetnya saja hanya Rp20 juta sebulan,” katanya.

Begitu pula kalau menjadi pengusaha, haruslah kreatif, inovatif dan berani menghadapi risiko. “Pengusaha yang sukses adalah pengusaha yang berani mengambil risiko. Asal jangan ambil risiko soal memilih agama, karena di akhirat nanti tidak ada yang bisa diulang dan tidak ada ampun lagi bagi orang yang berdosa, “ ujarnya.

“Apa mental dan karakter bunga atau pohon itu bisa diketahui sejak masih kanak-kanak?” Tanya saya penasaran.

“Inysa Allah bisa,” jawab Bapak Ustad pendek. Caranya, orangtua harus rajin shalat tahajud dan istikharah untuk meminta petunjuk Allah SWT tentang mental dan karakter anaknya.

Mungkin bisa juga melalui psikotes tentang kecenderungan minat dan keberanian si anak mengambil risiko. Penelusuran mental dan karakter anak ini penting bagi pengusaha yang berencana mewariskan perusahaan kepada anaknya.

Dengan mengetahui secara dini, orangtua bisa menyiapkan langkah-langkah sesuai rencana. Misalnya, jika pengusaha punya anak laki-laki bertipe bunga, ia sebaiknya mencarikan anaknya istri yang bertipe pohon agar bisa saling mengisi kekurangan. Jangan sampai si anak yang bertipe bunga memiliki istri yang juga bertipe bunga sehingga warisan perusahaan yang dikelola oleh mereka sulit maju.

Setelah temanku membaca kutipan diatas, dia pun tersenyum. Wajahnya cerah saat itu, sepertinya ia juga merasa puas. Ia berkata kagum, betapa banyak fenomena alam menjelaskan dinamika kehidupan manusia. Pendapat temanku itu tepat sekali, karena alam sekitar kita juga merupakan ayat-ayat Tuhan yang esa bagi hambanya yang berpikir*. Kedatangannya yang berikut kami tidak lagi mendiskusikan pilihan wirausaha vs karyawan, tetapi bagaimana kami masing-masing dapat menjadi tanaman yang terindah.

* Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran : 190)

* Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia ; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

(QS. Al Ankabuut : 43)

0 komentar: