Monday, December 17, 2007

Siapa Aku - My First Short Story

Aku menarik nafas panjang beberapa kali, buku yang kini ada ditanganku sudah hampir selesai kubaca. Setelah kurang lebih satu setengah jam membaca buku tersebut aku menjadi ngantuk. Aku putuskan untuk mencuci muka di belakang biar menjadi sedikit lebih segar. Aku pun bergegas menuju kamar mandi belakang kost, brrr…airnya dingin, namun dingin itu menjadi segar di wajahku. Kemudian aku berkaca pada cermin di samping kamar mandi kostku. Aku melihat sesosok yang sangat aku kenal, diriku sendiri…aku usap-usap wajahku, tanpa sadar sebuah kalimat terbesit di kepalaku.

“Ingin jadi apa aku nantinya ?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tanpa kusadari sosok yang ada di cermin itu dengan sekonyong-konyong melompat keluar dari cermin, aku kaget sekali. Kugosok-gosok mataku tanda tidak percaya, belum sempat aku bertanya menunjukkan kebingunganku dia sudah balik menjawab.

“Ya, nggak usah bingung, aku bayangan cerminmu !” ujarnya santai.

“Yuk kekamar, ntar ada yang liat lagi” dengan santainya dia menuju kamarku.

Dengan perasaan masih bimbang, apakah ini benar-benar bayanganku ataukah jin yang sedang menampilkan dirinya dalam wujud diriku, aku ikut saja mengikutinya masuk ke kamar kostku. Untung saja di kost teman-teman sudah masuk kamar semua, kalau tidak bisa berabe nih.

Saat ia masuk kamarku ia langsung berbaring di kasurku, sialan umpatku dalam hati, siapa sih yang tuan rumah. Tapi kelihatannya ia tidak canggung berada di dalam kamarku ‘eh kamarnya ?

“Eh, Mas...waduh saya panggil apa ya ?” tanyaku takut-takut.

“He..he..terserah kamulah, toh aku ya kamu juga” ujarnya tersenyum.

“Iya deh Mas, bener nih Mas bayangan saya ?” aku memastikan.

“Lho…belum percaya juga ya ? biar saya buktikan...kamu punya 2 buah gitar akustik kan, satu gitar tua dan satunya lumayan bagus tapi senarnya satu putus kan” katanya yakin.

“Kok tau ?” ujarku spontan.

“Terus warnanya apa ?” aku memastikan.

“Coklat kemerah-merahan dan kuning kecoklat-coklatan” dia tersenyum.

“Gimana ? masih nggak percaya ?” sekarang dia balik bertanya. Aku cuma mengangkat bahu saja, sambil mengerenyitkan keningku. Kemudian dia beranjak dari tempat tidurku dan langsung menuju lemari pakaianku lalu mengeluarkan gitarku, lalu membawanya menujuku. Wah, dia tahu tempat dimana aku menyimpan gitar kesayanganku.

Sesaat kemudian kamarku dipenuhi oleh suara dentingan dawai gitar yang nada-nadanya tidak asing lagi bagiku, tidak salah lagi nada tersebut adalah lagu ciptaanku sendiri yang aku sendiri kadang malu memainkannya, tapi kali ini dimainkan oleh orang lain ‘eh bayanganku sendiri.

“Kenapa kamu tidak jadi pemusik saja ?” ia bertanya.

“Kalo kamu bayanganku tentunya kamu tahu jawabannya dong” aku menguji dia.

“Tentu saja...kamu nggak jago main gitar kan…ha…ha…ha” seenaknya saja dia tertawa.

“Itu bukan kendala besar bagiku” aku tidak mau kalah.

“Terus kenapa ?” huh...kali ini dia kalah, ujarku dalam hati.

“Aku main musik hanya untuk mengusir kesepianku dikala sendiri, lagi sedih ataupun bersama teman. Lagian untuk berkarier di musik aku tidak punya jalur kesana, belum lagi orang tuaku...pasti mereka tidak setuju” aku sedikit berargumen.

“Ooo...begitu.” Ia tersenyum sembari berhenti memainkan gitarku.

“Tapi kamu kepingin kan ?” dia membelakangiku sambil memperhatikan tumpukan koleksi kasetku. Aku tidak menjawabnya.

“Wah...metal semua ya ?” katanya sambil mengambil salah satu kaset koleksiku.

“Tidak semua...aku juga suka DEWA” aku menjawabnya.

“Aku tahu kok...ingat aku adalah kamu juga ” memang sialan nih bayangan.

“Udah tahu nanya” ujarku bersungut.

Ia meninggalkan tumpukan koleksi kasetku dan kembali menuju lemari pakaianku, tapi bukan untuk mencari gitarku yang satunya melainkan mengambil Helm balapku.

“Kenapa nggak jadi pembalap aja ?” mulai lagi nih si bayangan.

“Nggak mungkin, lagian aku nggak mau mati muda...cukup ngebut di jalan aja deh” sambil aku menatap langit-lagit kamarku, terbayang masa kecilku dulu yang ingin sekali menjadi pembalap. Bahkan aku sampai berjanji akan membeli motor Honda CBR dengan uangku sendiri nantinya.

Bayangan cerminku itu sedang sibuk memasang helm balapku di kepalanya, terus terang gagah sekali kelihatannya. Sosok pembalap dengan helm balap yang keren. Bayangan masa kecilku sesaat kembali menghampiriku.

“ngebut dijalan juga bisa mati muda, lho ?” nadanya kali ini sedikit mengejekku.

“ya, bedalah. Kan tidak harus ngebut banget, paling salip-salipan aja.”

“ya, kalo nyalipnya lagi sial kan bisa mati juga?” ia kembali mengejek.

“ya, terserahlah !” jawabku.

Dengan masih mengenakan helm balapku, si bayangan itu berdiri memperhatikan rak bukuku yang sudah penuh. Ia pun tampaknya sudah akan mulai bertanya lagi.

“ini buku segini banyaknya, dibaca apa nggak sih?” tanyanya sambil mengeluarkan beberapa buku dari raknya.

“ya dibaca donk !” jawabku dengan cepat.

“semuanya ?” ia bertanya singkat.

“ya...belum semuanya”

“kalo gitu percuma donk, sama aja jadi hiasan aja” ia mengembalikan buku yang dipegangnya, terus mengembalikan helm balapku ketempatnya semula.

“aku bilang kan belum semuanya, artinya belum sempat aku baca semua. Diantara buku-buku itu ada yang kubaca hanya di waktu senggang, bahkan ada buku yang minat bacanya belum muncul-muncul jadi belum aku baca sampai sekarang” aku menjelaskan.

“emang banyak-banyak punya dan baca buku buat jadi apa sih?” ia duduk sambil membaca salah satu buku kesukaanku.

“yang pasti jadi tambah pinter dan punya wawasan luas donk !” aku duduk di depan meja komputerku, aku baru sadar kalau dari tadi aku berdiri saja.

“aku tanya mau jadi apa?” ia balik bertanya lagi.

“kok tanya jadi apa terus sih, bayangan asli apa palsu nih?” kujawab begitu ia hanya tersenyum, anehnya aku merasa sangat ingin sekali menjawab pertanyaannya tadi.

“eh…aku mau jadi penulis, dulunya sih mau jadi pengarang komik, tapi kayaknya ngambar komik itu capek dan makan waktu” akhirnya aku jelaskan juga jawabanku.

“yang bener yang mana?” ia kembali bertanya.

“ya jadi penulis...eh’...iya bener jadi penulis”. Sekarang aku jadi agak sedikit bimbang.

“hahaha...bingung ya jadi mau apa?” jelas sekali kalau ia mengejekku.

“manusia memang aneh dan terkadang membingungkan. Kamu tahu kenapa? Karena mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki, terlalu banyak keinginan”. Kali ini ia berbicara dengan nada serius.

“memang salah kalau begitu?” aku juga bertanya serius.

“tidak ada yang salah dengan hal itu, itu sudah fitrah sekaligus anugrah” jawabnya dengan nada sedikit berceramah.

“jujur saja, aku sendiri juga pada dasarnya bingung mau jadi apa? Terlalu banyak pilihan” Hei...aku malah tanpa sadar berterus terang kepadanya.

“bersyukurlah karena banyak pilihan, bukan sebaliknya”.

“bukan itu masalahnya, tapi aku takut salah menentukan pilihan”.

“baguslah kalau kuatir, itu artinya kamu tidak tinggal diam saja...terbawa arus”.

“bagaimana ya caranya supaya tidak salah memilih?” tanyaku serius.

“gampang kok, ikuti saja panggilan jiwamu!” jawabnya mantap.

“panggilan jiwa?” aku jadi sedikit bingung.

“semua yang kau paparkan tadi salah satunya adalah panggilan jiwamu, atau malah ada yang lain tetapi belum muncul. Semuanya bisa berkumpul kemudian terangkum menjadi panggilan jiwamu yang sesungguhnya”.

“tapi masih saja aku bingung, kadang ingin ini kadang ingin itu...datang silih berganti”. Jelas sekali aku dalam kebingungan.

“tahukah kamu bahwa keraguan adalah awal akan sebuah keyakinan?” kali ini dia tampak seperti seorang filsuf.

“benarkah demikian?” sanggahku.

“ya...asalkan kau mengenali dirimu. Sudahkah?” tampaknya dia benar-benar menjadi seorang filsuf kali ini.

“ya...gimana ya? Be yourself gitu? Bener ya?”. Dia tertawa terbahak-bahak.

“Hei...bener apa gak?” aku sedikit tersinggung dengan tawanya.

“kasian deh loe, masa udah jadi mahasiswa belum tahu siapa dirinya. Sekolah tinggi-tinggi tapi gak bisa tahu siapa dirinya sesungguhnya, gak diajarin ya dikampus?” kali ini dia benar-benar mengejekku. Tapi anehnya kali ini ejekannya tidak membuat aku tersinggung, aku malah termenung. Sekolah-sekolah yang selama ini kujalani hingga duduk dibangku kuliah yang notabene aku banggakan akan prestisiusnya, sederet prestasiku selama sekolah, banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mata kuliah dapat kujawab, tidak sedikit yang menghasilkan nilai A dan seterusnya. Tetapi mengapa menjawab satu soal ini aku seperti orang yang tidak pernah kuliah? Ya...memang soal yang satu ini tidak pernah diajarkan disekolah-sekolahku bahkan kampusku. Apa karena jurusan kuliahku? Ah..itu mencari alasan namanya. Siapakah diriku? Tiba-tiba aku merasa krisis, krisis identitas diri.

“tahukah kamu bahwa dengan mengenal dirimu kamu akan mengenal tuhanmu?” dia menepuk pundakku, bukan untuk mengejutkanku tapi lebih kepada menggugah kesadaranku. Dia menambah beban lagi dipikiranku, padahal soal pertama belum ketemu jawabannya.

Pertanyannya kali ini tidak saja menambah beban kepalaku, tetapi juga serasa melepas semua keyakinanku selama ini. Padahal selama ini aku merasa mengenal sekali tuhanku, agamaku, ibadahku. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya. Sekonyong-konyong deretan pertanyaan berjatuhan layaknya hujan meteor. Pertanyaan yang samar dengan jawaban-jawaban pasti, pertanyaan yang tidak untuk dijawab, pertanyaan untuk direnungkan, dirasakan, diresapi. Karena panca inderaku serasa tumpul berhadapan dengan pertanyaan yang satu ini beserta turunannya. Siapakah diriku?

Kepalaku terasa bertambah berat, pandanganku menjadi kabur, bayanganku pun tampak berpendar, layaknya sinar mentari di pagi hari, kesadaranku pun menguap laksana setetes air di gurun pasir. Aku berada diantara sadar dan tidak. Tanganku berusaha menggapai bayanganku yang berpendar didepanku, tapi ia menjauh. Ia tidak lagi tampak seperti diriku, ia kelihatan lebih berumur. Bukan lagi tampak seperti diriku. Kepalanya tampak botak, tapi tidak dibagian sisinya, kelihatan gondrong malah. Berjanggut tebal dan berkumis, ia tampak bijak dengan jubah wolnya. Aku berusaha menggapainya, tetapi aku merasa tidak berdaya. Orang itu yang tadinya bayanganku mengatakan sesuatu.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” ujarnya seraya berpendar silau. Kata-kata itu terasa berat, menekan kesadaranku yang sudah diambang batas kemampuanku. Aku pun limbung dan ...

Kriiiiiiiiiiiiiiiing...!!!!!!

Aku tersentak kaget, astagfirullah...ternyata aku bermimpi. Alarm jam wekerku berbunyi tepat pukul dua dini hari. Aku teringat niatku akan sholat tahajud. Rupanya aku tertidur saat membaca buku. Kepalaku terasa berat, mimpi tadi terasa sangat nyata. Aku bengong sesaat. Aku meletakan buku “Mengenal Al-Ghazali” yang belum selesai kuhabiskan hingga tertidur tadi. Aku bergegas menuju tempat wudhu dibelakang kostku. Air wudhu terasa segar mengisi kembali akan kesadaranku, sejuknya serasa menyentuh kalbu. Selesai wudhu aku bercermin disamping kamar mandi kostku. Aku mengusap-usap wajahku, sesaat aku mengalami dejavu, kejadian yang kurasakan sudah terjadi. Tetapi dengan kesadaran yang berbeda, paling tidak itulah yang kurasakan. Aku sadar bahwa wajah yang tampak dicermin itu adalah diriku dan tanpa sadar aku mengucap... “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” tapi aku tetap sadar dan yakin bayanganku tidak akan melompat keluar dari cermin.

Usai tahajud aku beranjak tidur dan berdoa. Aku tidak berharap mimpi bertemu dengan bayanganku lagi, tetapi aku ingin bertemu dengan sosok bijak dengan jubah wolnya itu. Aku ingin bertanya siapa dirinya dan berharap dia bisa menjawabnya, sehingga aku pun bisa menjawab siapa diriku. Tak lupa kutanyakan “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”.

Kesadaranku pun kembali terbang, dipegang kembali oleh Sang pemilik jiwa manusia untuk kemudian dikembalikannya pada jasad yang “mati sementara” itu, apabila ia mengijinkan.

Bismikka Allahumma Ahya Waamut

0 komentar: