Monday, December 17, 2007

Siapa Aku - My First Short Story

Aku menarik nafas panjang beberapa kali, buku yang kini ada ditanganku sudah hampir selesai kubaca. Setelah kurang lebih satu setengah jam membaca buku tersebut aku menjadi ngantuk. Aku putuskan untuk mencuci muka di belakang biar menjadi sedikit lebih segar. Aku pun bergegas menuju kamar mandi belakang kost, brrr…airnya dingin, namun dingin itu menjadi segar di wajahku. Kemudian aku berkaca pada cermin di samping kamar mandi kostku. Aku melihat sesosok yang sangat aku kenal, diriku sendiri…aku usap-usap wajahku, tanpa sadar sebuah kalimat terbesit di kepalaku.

“Ingin jadi apa aku nantinya ?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tanpa kusadari sosok yang ada di cermin itu dengan sekonyong-konyong melompat keluar dari cermin, aku kaget sekali. Kugosok-gosok mataku tanda tidak percaya, belum sempat aku bertanya menunjukkan kebingunganku dia sudah balik menjawab.

“Ya, nggak usah bingung, aku bayangan cerminmu !” ujarnya santai.

“Yuk kekamar, ntar ada yang liat lagi” dengan santainya dia menuju kamarku.

Dengan perasaan masih bimbang, apakah ini benar-benar bayanganku ataukah jin yang sedang menampilkan dirinya dalam wujud diriku, aku ikut saja mengikutinya masuk ke kamar kostku. Untung saja di kost teman-teman sudah masuk kamar semua, kalau tidak bisa berabe nih.

Saat ia masuk kamarku ia langsung berbaring di kasurku, sialan umpatku dalam hati, siapa sih yang tuan rumah. Tapi kelihatannya ia tidak canggung berada di dalam kamarku ‘eh kamarnya ?

“Eh, Mas...waduh saya panggil apa ya ?” tanyaku takut-takut.

“He..he..terserah kamulah, toh aku ya kamu juga” ujarnya tersenyum.

“Iya deh Mas, bener nih Mas bayangan saya ?” aku memastikan.

“Lho…belum percaya juga ya ? biar saya buktikan...kamu punya 2 buah gitar akustik kan, satu gitar tua dan satunya lumayan bagus tapi senarnya satu putus kan” katanya yakin.

“Kok tau ?” ujarku spontan.

“Terus warnanya apa ?” aku memastikan.

“Coklat kemerah-merahan dan kuning kecoklat-coklatan” dia tersenyum.

“Gimana ? masih nggak percaya ?” sekarang dia balik bertanya. Aku cuma mengangkat bahu saja, sambil mengerenyitkan keningku. Kemudian dia beranjak dari tempat tidurku dan langsung menuju lemari pakaianku lalu mengeluarkan gitarku, lalu membawanya menujuku. Wah, dia tahu tempat dimana aku menyimpan gitar kesayanganku.

Sesaat kemudian kamarku dipenuhi oleh suara dentingan dawai gitar yang nada-nadanya tidak asing lagi bagiku, tidak salah lagi nada tersebut adalah lagu ciptaanku sendiri yang aku sendiri kadang malu memainkannya, tapi kali ini dimainkan oleh orang lain ‘eh bayanganku sendiri.

“Kenapa kamu tidak jadi pemusik saja ?” ia bertanya.

“Kalo kamu bayanganku tentunya kamu tahu jawabannya dong” aku menguji dia.

“Tentu saja...kamu nggak jago main gitar kan…ha…ha…ha” seenaknya saja dia tertawa.

“Itu bukan kendala besar bagiku” aku tidak mau kalah.

“Terus kenapa ?” huh...kali ini dia kalah, ujarku dalam hati.

“Aku main musik hanya untuk mengusir kesepianku dikala sendiri, lagi sedih ataupun bersama teman. Lagian untuk berkarier di musik aku tidak punya jalur kesana, belum lagi orang tuaku...pasti mereka tidak setuju” aku sedikit berargumen.

“Ooo...begitu.” Ia tersenyum sembari berhenti memainkan gitarku.

“Tapi kamu kepingin kan ?” dia membelakangiku sambil memperhatikan tumpukan koleksi kasetku. Aku tidak menjawabnya.

“Wah...metal semua ya ?” katanya sambil mengambil salah satu kaset koleksiku.

“Tidak semua...aku juga suka DEWA” aku menjawabnya.

“Aku tahu kok...ingat aku adalah kamu juga ” memang sialan nih bayangan.

“Udah tahu nanya” ujarku bersungut.

Ia meninggalkan tumpukan koleksi kasetku dan kembali menuju lemari pakaianku, tapi bukan untuk mencari gitarku yang satunya melainkan mengambil Helm balapku.

“Kenapa nggak jadi pembalap aja ?” mulai lagi nih si bayangan.

“Nggak mungkin, lagian aku nggak mau mati muda...cukup ngebut di jalan aja deh” sambil aku menatap langit-lagit kamarku, terbayang masa kecilku dulu yang ingin sekali menjadi pembalap. Bahkan aku sampai berjanji akan membeli motor Honda CBR dengan uangku sendiri nantinya.

Bayangan cerminku itu sedang sibuk memasang helm balapku di kepalanya, terus terang gagah sekali kelihatannya. Sosok pembalap dengan helm balap yang keren. Bayangan masa kecilku sesaat kembali menghampiriku.

“ngebut dijalan juga bisa mati muda, lho ?” nadanya kali ini sedikit mengejekku.

“ya, bedalah. Kan tidak harus ngebut banget, paling salip-salipan aja.”

“ya, kalo nyalipnya lagi sial kan bisa mati juga?” ia kembali mengejek.

“ya, terserahlah !” jawabku.

Dengan masih mengenakan helm balapku, si bayangan itu berdiri memperhatikan rak bukuku yang sudah penuh. Ia pun tampaknya sudah akan mulai bertanya lagi.

“ini buku segini banyaknya, dibaca apa nggak sih?” tanyanya sambil mengeluarkan beberapa buku dari raknya.

“ya dibaca donk !” jawabku dengan cepat.

“semuanya ?” ia bertanya singkat.

“ya...belum semuanya”

“kalo gitu percuma donk, sama aja jadi hiasan aja” ia mengembalikan buku yang dipegangnya, terus mengembalikan helm balapku ketempatnya semula.

“aku bilang kan belum semuanya, artinya belum sempat aku baca semua. Diantara buku-buku itu ada yang kubaca hanya di waktu senggang, bahkan ada buku yang minat bacanya belum muncul-muncul jadi belum aku baca sampai sekarang” aku menjelaskan.

“emang banyak-banyak punya dan baca buku buat jadi apa sih?” ia duduk sambil membaca salah satu buku kesukaanku.

“yang pasti jadi tambah pinter dan punya wawasan luas donk !” aku duduk di depan meja komputerku, aku baru sadar kalau dari tadi aku berdiri saja.

“aku tanya mau jadi apa?” ia balik bertanya lagi.

“kok tanya jadi apa terus sih, bayangan asli apa palsu nih?” kujawab begitu ia hanya tersenyum, anehnya aku merasa sangat ingin sekali menjawab pertanyaannya tadi.

“eh…aku mau jadi penulis, dulunya sih mau jadi pengarang komik, tapi kayaknya ngambar komik itu capek dan makan waktu” akhirnya aku jelaskan juga jawabanku.

“yang bener yang mana?” ia kembali bertanya.

“ya jadi penulis...eh’...iya bener jadi penulis”. Sekarang aku jadi agak sedikit bimbang.

“hahaha...bingung ya jadi mau apa?” jelas sekali kalau ia mengejekku.

“manusia memang aneh dan terkadang membingungkan. Kamu tahu kenapa? Karena mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki, terlalu banyak keinginan”. Kali ini ia berbicara dengan nada serius.

“memang salah kalau begitu?” aku juga bertanya serius.

“tidak ada yang salah dengan hal itu, itu sudah fitrah sekaligus anugrah” jawabnya dengan nada sedikit berceramah.

“jujur saja, aku sendiri juga pada dasarnya bingung mau jadi apa? Terlalu banyak pilihan” Hei...aku malah tanpa sadar berterus terang kepadanya.

“bersyukurlah karena banyak pilihan, bukan sebaliknya”.

“bukan itu masalahnya, tapi aku takut salah menentukan pilihan”.

“baguslah kalau kuatir, itu artinya kamu tidak tinggal diam saja...terbawa arus”.

“bagaimana ya caranya supaya tidak salah memilih?” tanyaku serius.

“gampang kok, ikuti saja panggilan jiwamu!” jawabnya mantap.

“panggilan jiwa?” aku jadi sedikit bingung.

“semua yang kau paparkan tadi salah satunya adalah panggilan jiwamu, atau malah ada yang lain tetapi belum muncul. Semuanya bisa berkumpul kemudian terangkum menjadi panggilan jiwamu yang sesungguhnya”.

“tapi masih saja aku bingung, kadang ingin ini kadang ingin itu...datang silih berganti”. Jelas sekali aku dalam kebingungan.

“tahukah kamu bahwa keraguan adalah awal akan sebuah keyakinan?” kali ini dia tampak seperti seorang filsuf.

“benarkah demikian?” sanggahku.

“ya...asalkan kau mengenali dirimu. Sudahkah?” tampaknya dia benar-benar menjadi seorang filsuf kali ini.

“ya...gimana ya? Be yourself gitu? Bener ya?”. Dia tertawa terbahak-bahak.

“Hei...bener apa gak?” aku sedikit tersinggung dengan tawanya.

“kasian deh loe, masa udah jadi mahasiswa belum tahu siapa dirinya. Sekolah tinggi-tinggi tapi gak bisa tahu siapa dirinya sesungguhnya, gak diajarin ya dikampus?” kali ini dia benar-benar mengejekku. Tapi anehnya kali ini ejekannya tidak membuat aku tersinggung, aku malah termenung. Sekolah-sekolah yang selama ini kujalani hingga duduk dibangku kuliah yang notabene aku banggakan akan prestisiusnya, sederet prestasiku selama sekolah, banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mata kuliah dapat kujawab, tidak sedikit yang menghasilkan nilai A dan seterusnya. Tetapi mengapa menjawab satu soal ini aku seperti orang yang tidak pernah kuliah? Ya...memang soal yang satu ini tidak pernah diajarkan disekolah-sekolahku bahkan kampusku. Apa karena jurusan kuliahku? Ah..itu mencari alasan namanya. Siapakah diriku? Tiba-tiba aku merasa krisis, krisis identitas diri.

“tahukah kamu bahwa dengan mengenal dirimu kamu akan mengenal tuhanmu?” dia menepuk pundakku, bukan untuk mengejutkanku tapi lebih kepada menggugah kesadaranku. Dia menambah beban lagi dipikiranku, padahal soal pertama belum ketemu jawabannya.

Pertanyannya kali ini tidak saja menambah beban kepalaku, tetapi juga serasa melepas semua keyakinanku selama ini. Padahal selama ini aku merasa mengenal sekali tuhanku, agamaku, ibadahku. Tapi aku sendiri tidak tahu siapa aku sebenarnya. Sekonyong-konyong deretan pertanyaan berjatuhan layaknya hujan meteor. Pertanyaan yang samar dengan jawaban-jawaban pasti, pertanyaan yang tidak untuk dijawab, pertanyaan untuk direnungkan, dirasakan, diresapi. Karena panca inderaku serasa tumpul berhadapan dengan pertanyaan yang satu ini beserta turunannya. Siapakah diriku?

Kepalaku terasa bertambah berat, pandanganku menjadi kabur, bayanganku pun tampak berpendar, layaknya sinar mentari di pagi hari, kesadaranku pun menguap laksana setetes air di gurun pasir. Aku berada diantara sadar dan tidak. Tanganku berusaha menggapai bayanganku yang berpendar didepanku, tapi ia menjauh. Ia tidak lagi tampak seperti diriku, ia kelihatan lebih berumur. Bukan lagi tampak seperti diriku. Kepalanya tampak botak, tapi tidak dibagian sisinya, kelihatan gondrong malah. Berjanggut tebal dan berkumis, ia tampak bijak dengan jubah wolnya. Aku berusaha menggapainya, tetapi aku merasa tidak berdaya. Orang itu yang tadinya bayanganku mengatakan sesuatu.

Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” ujarnya seraya berpendar silau. Kata-kata itu terasa berat, menekan kesadaranku yang sudah diambang batas kemampuanku. Aku pun limbung dan ...

Kriiiiiiiiiiiiiiiing...!!!!!!

Aku tersentak kaget, astagfirullah...ternyata aku bermimpi. Alarm jam wekerku berbunyi tepat pukul dua dini hari. Aku teringat niatku akan sholat tahajud. Rupanya aku tertidur saat membaca buku. Kepalaku terasa berat, mimpi tadi terasa sangat nyata. Aku bengong sesaat. Aku meletakan buku “Mengenal Al-Ghazali” yang belum selesai kuhabiskan hingga tertidur tadi. Aku bergegas menuju tempat wudhu dibelakang kostku. Air wudhu terasa segar mengisi kembali akan kesadaranku, sejuknya serasa menyentuh kalbu. Selesai wudhu aku bercermin disamping kamar mandi kostku. Aku mengusap-usap wajahku, sesaat aku mengalami dejavu, kejadian yang kurasakan sudah terjadi. Tetapi dengan kesadaran yang berbeda, paling tidak itulah yang kurasakan. Aku sadar bahwa wajah yang tampak dicermin itu adalah diriku dan tanpa sadar aku mengucap... “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” tapi aku tetap sadar dan yakin bayanganku tidak akan melompat keluar dari cermin.

Usai tahajud aku beranjak tidur dan berdoa. Aku tidak berharap mimpi bertemu dengan bayanganku lagi, tetapi aku ingin bertemu dengan sosok bijak dengan jubah wolnya itu. Aku ingin bertanya siapa dirinya dan berharap dia bisa menjawabnya, sehingga aku pun bisa menjawab siapa diriku. Tak lupa kutanyakan “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu”.

Kesadaranku pun kembali terbang, dipegang kembali oleh Sang pemilik jiwa manusia untuk kemudian dikembalikannya pada jasad yang “mati sementara” itu, apabila ia mengijinkan.

Bismikka Allahumma Ahya Waamut

Wednesday, December 12, 2007

Menjadi Tanaman Terindah


Beberapa waktu yang lalu disela-sela kesibukan menjaga toko, aku kedatangan seorang teman. Dia datang rupanya tidak untuk membeli sesuatu, melainkan untuk mengajak mengobrol denganku. Hal ini bukanlah hal baru lagi, karena memang tokoku kerap dikunjungi pelanggan, teman bahkan orang yang baru pertama kali datang ketokoku bukan untuk membeli perangkat komputer, melainkan untuk ngobrol. Biasanya obrolannya tidak jauh seputar masalah dunia komputer, perkembangan teknologi informasi terkini, game komputer terbaru ataupun keluhan masalah komputer yang ngadat karena terjangkiti virus dan lain sebagainya. Namun tidak jarang obrolan juga merembet ke masalah-masalah yang bersifat pribadi, keluhan suasana kantor, persaingan bisnis dan sejenisnya. Apabila yang datang mahasiswa keluhannya pribadinya seputar masalah tugas akhir, rencana masa depan setelah lulus kuliah dan lain-lain. Tokoku kadang mirip dengan warung jenggo, tempat ngumpul buat ngobrol-ngobrol. Tapi semuanya biasanya berangkat dari satu kesamaan, yaitu orang-orangnya adalah “penikmat komputer”.

Kembali ke temanku tadi. Dia juga termasuk penikmat komputer, tapi tidak sedang ingin ngobrol masalah komputer. Dia membawa sebuah buku, dia baru membelinya dan sudah selesai membacanya. Dia memperlihatkan cover buku itu, dia bertanya apakah aku sudah membacanya. Dari covernya…Oh, sudah baca tuh…tapi softcopy dari teman dimilis. Ya, tidak salah lagi judul buku itu “Siapa Bilang Jadi Karyawan Nggak Bisa Kaya?” karya Safir Senduk. Wah, dia tampak semangat sekali ingin mendiskusikannya. Maka segera larutlah kami dalam sebuah diskusi. Sebuah diskusi yang memisahkan kami dalam dua kubu yang berseberangan, kebetulan dia seorang karyawan sebuah perusahaan swasta. Dengan buku itu, dia seperti merasa memegang sebuah senjata dengan penuh amunisi untuk memberondongkannya kepadaku. Dia menyakinkan bahwa selama ini dia tidak salah memilih pilihan jalan hidup. Memang sebelumnya kami pernah terlibat dengan diskusi sejenis, dimana pada waktu itu mungkin akulah yang memberondongkan senjata kearahnya. Nah, mungkin inilah baginya saat untuk menembak balik!

Aku saat itu tidak segera menimpalinya, tidak segera membalas dengan tembakan senjata yang sama. Saling tembak! Wah, bisa mati konyol berdua alias tidak menjadi sebuah solusi bagi kami. Aku jadi teringat dengan tulisan-tulisanku dimilis kelas mengenai masalah ini, jadi pengusaha vs karyawan. Memang tampaknya topik ini selalu dapat menjadi hal yang asyik untuk diperbincangkan. Persis dalam dunia komputer, pilih prosessor Intel atau AMD. Aku bilang itu pilihan masing-masing dimana pilihan itu tergantung dari kondisi kita masing-masing, juga berkaitan dengan masalah panggilan jiwa. Tapi tampaknya dia kurang puas dengan jawabanku, tampaknya ia menginginkan sebuah serangan balik. Karena tidak ingin saling tembak tadi, aku sarankan dia untuk kembali 1 minggu lagi untuk berdiskusi. Aku akan mencari hal yang mencerahkan hal ini bagi kami berdua.

Oleh karena itu beberapa waktu yang lalu aku sempat menanyakan komentar mengenai isi dari buku karya Safir Senduk itu dimilis ini. Aku juga secara pribadi berdoa supaya “pencerahan” itu segera tiba ditanganku untuk kemudian dibagikan kepada sang teman tadi. Aku pun pergi ke Gramedia untuk melihat-lihat buku baru. Dari sekian buku yang dipajang, ada satu buku yang sebenarnya sudah lama ingin dibeli tetapi tidak jadi dibeli. Jadi saat itu aku membawa pulang buku itu, berharap isinya berguna bagiku.

Lembar demi lembar halaman pun mulai ditelusuri, dinikmati, dirasakan experience-nya. Benar saja, buku itu sangat bagus isinya dan terlebih lagi ada bagian yang kurasa bisa menjadi jembatan bagi kubu pikiran teman sang karyawan dengan aku yang berwirausaha. Buku itu mengisahkan seorang karyawan dengan segala pengalamannya menangani perusahaan yang bergerak dibidang pers. Dia dibimbing oleh seorang guru yang kebetulan seorang Ustad. Ustad itu sebelumnya pernah menjadi eksekutif sukses dalam bisnis, tetapi panggilan jiwanya kembali membimbingnya ke dunia asalnya yaitu spiritualitas. Lewat bimbingan Ustad itu, sang karyawan yang penulis buku itu meminta petunjuk apabila mendapat suatu masalah. Hal itu berlanjut sampai karyawan itu memutuskan untuk berwirausaha. Nah, bagian berikut adalah petikan dialog antara Ustad dengan penulis buku itu, yang penulis rasa dapat menjadi jembatan itu :

Ibarat Tanaman

Ketika saya mendiskusikan hal ini dengan Bapak Ustad, saya mendapat jawaban yang jelas. Allah SWT menganugerahi mental dan karakter seseorang itu ibarat tanaman. Ada yang mentalnya seperti pohon jati : kuat, tangguh dan berkualitas tinggi.

“Pohon jati sifatnya mandiri, setelah tumbuh tak usah disiram juga terus tumbuh kuat”, tuturnya. Orang yang punya mental seperti pohon jati akan secara otomatis punya naluri bisnis yang tinggi. Kalaupun dia menjadi karyawan, itu hanya untuk sementara, nantinya pasti akan banting setir dan beralih menjadi pengusaha dengan sendirinya.

Hal ini berbeda dengan orang yang punya mental seperti bunga. Bunga itu kan penghias ruangan dan secara periodik harus disirami. Kalau tidak disiram, ia akan mati. Bunga tidak berani hidup di alam bebas sendirian. Mental karyawan umumnya seperti bunga. Dia senang bekerja di gedung ber-AC, punya status dan gaji rutin setiap bulan.

“Seperti halnya bunga, karyawan takut kalau tempatnya digeser. Jangan-jangan di tempat baru nanti tidak ada yang menyirami atau siramannya berkurang. Karena itu, jangan heran kalau ada rencana mutasi di suatu perusahaan, banyak karyawan yang kasak-kusuk”, urai Bapak Ustad.

Tanaman pun bermacam-macam. Ada pohon jati, kelapa, palem dan lain-lain. Begitu juga bunga, ada melati, mawar, sedap malam, ada pula anggrek. Pengusaha yang punya mental dan karakter seperti pohon jati, dia kukuh, kuat dan harganya pun mahal. Pengusaha semacam ini kalau punya produk pasti berkualitas tinggi dan low profile seperti bentuk pohon jati yang biasa-biasa saja.

Berbeda pula dengan pohon kelapa. Orang yang punya mental seperti pohon kelapa, apa pun yang dia lakukan pasti menghasilkan. Pohon kelapa dari akar sampai daunnya bermanfaat. Daunnya untuk janur, serabutnya untuk keset, batok kelapanya jadi arang, dagingnya untuk santan atau dicampur es menjadi minuman yang segar dan batangnya untuk kayu.

Nah, pengusaha yang punya mental dan karakter seperti pohon kelapa, biasanya dikenal jujur, kreatif, pantang mundur, berani menghadapi kesulitan dan terlalu percaya kepada orang lain.

“Karena itu, musuh berat pohon kelapa itu satu : bajing alias tupai. Karena sifat terlalu percaya itulah, banyak bajingan yang mendekat, “ seloroh Bapak Ustad.

Kalau pohon palem lain lagi. Masih menurut Bapak Ustad, palem ditanam untuk dilihat keindahannya. Pengusaha yang punya karakter seperti pohon palem, biasanya suka pada penampilan, jenis usahanya pun selalu berbau wah, glamour dan menarik.

Begitu pula dengan karakter dan mental seperti bunga. Misalnya, bunga melati. Karyawan yang punya karakter seperi bungan ini umumnya rapi, bersih dan wangi dalam berpakaian. Tetapi, namanya bunga melati, harganya tidak mahal. Artinya, gaji karyawan tipe bunga melati ini tidak bisa tinggi karena kemampuannya yang begitu-begitu saja.

Berbeda dengan bungan sedap malam. Bunga ini kalau siang tidak berbau harum, tetapi pada malam hari wanginya bukan main. Karyawan jenis ini, omongannya besar tapi giliran disuruh kerja tidak bisa apa-apa.

Yang paling bagus bunga anggrek. Karyawan yang punya tipe bunga anggrek ini kalau potensinya dikembangkan, dia bisa menjadi hebat. Hebat sebagai karyawan. Tetapi, kalau berani coba-coba keluar dari perusahaan, dia akan mati karena tidak ada yang menyirami. Harga anggrek bisa murah dan bisa mahal bergantung perawatan dan persilangannya. Begitu pula gaji karyawan tipe anggrek, ada yang kecil dan ada yang besar.

“Karena itu, jangan heran kalau ada manajer atau direktur yang gajinya Rp 1 miliar setahun, meskipun dia hanya karyawan, “ tambah Bapak Ustad.

“Apa bisa orang yang punya mental seperi bunga berpindah menjadi pohon?” Tanya saya.

“Hampir tidak mungkin,” sambarnya. “Itulah anugerah Allah SWT, dalam memutar roda kehidupan di dunia ini. Allah punya komposisi yang pas dalam mengatur jumlah orang yang harus menjadi karyawan dan menjadi pengusaha,” jawabnya. “Yang bisa dilakukan manusia adalah meningkatkan kemampuan diri,” tambahnya.

“Kalau tidak berani jadi pengusaha, jadilah karyawan yang hebat dan bergaji tinggi. Lebih baik menjadi karyawan yang gajinya Rp50 juta sebulan ketimbang menjadi pengusaha yang tidak mau meningkatkan diri sehingga omzetnya saja hanya Rp20 juta sebulan,” katanya.

Begitu pula kalau menjadi pengusaha, haruslah kreatif, inovatif dan berani menghadapi risiko. “Pengusaha yang sukses adalah pengusaha yang berani mengambil risiko. Asal jangan ambil risiko soal memilih agama, karena di akhirat nanti tidak ada yang bisa diulang dan tidak ada ampun lagi bagi orang yang berdosa, “ ujarnya.

“Apa mental dan karakter bunga atau pohon itu bisa diketahui sejak masih kanak-kanak?” Tanya saya penasaran.

“Inysa Allah bisa,” jawab Bapak Ustad pendek. Caranya, orangtua harus rajin shalat tahajud dan istikharah untuk meminta petunjuk Allah SWT tentang mental dan karakter anaknya.

Mungkin bisa juga melalui psikotes tentang kecenderungan minat dan keberanian si anak mengambil risiko. Penelusuran mental dan karakter anak ini penting bagi pengusaha yang berencana mewariskan perusahaan kepada anaknya.

Dengan mengetahui secara dini, orangtua bisa menyiapkan langkah-langkah sesuai rencana. Misalnya, jika pengusaha punya anak laki-laki bertipe bunga, ia sebaiknya mencarikan anaknya istri yang bertipe pohon agar bisa saling mengisi kekurangan. Jangan sampai si anak yang bertipe bunga memiliki istri yang juga bertipe bunga sehingga warisan perusahaan yang dikelola oleh mereka sulit maju.

Setelah temanku membaca kutipan diatas, dia pun tersenyum. Wajahnya cerah saat itu, sepertinya ia juga merasa puas. Ia berkata kagum, betapa banyak fenomena alam menjelaskan dinamika kehidupan manusia. Pendapat temanku itu tepat sekali, karena alam sekitar kita juga merupakan ayat-ayat Tuhan yang esa bagi hambanya yang berpikir*. Kedatangannya yang berikut kami tidak lagi mendiskusikan pilihan wirausaha vs karyawan, tetapi bagaimana kami masing-masing dapat menjadi tanaman yang terindah.

* Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran : 190)

* Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia ; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.

(QS. Al Ankabuut : 43)

Saturday, December 08, 2007

I love novel...and games !!!



Hari sabtu...

Cuaca cerah tapi mati lampu, apa lagi yg asyik selain jalan keluar. Yup, seperti biasa ke Gramedia...ngecek buku baru ah. Hhmmm...beberapa susunan buku berubah, suasana natal. Oke langsung ke bagian novel, berburu tetralogi Laskar Pelangi. Wow...wow...tumpukan novel apa nih, banyak banget, dari warnanya gak asing lagi...yup, Laksar Pelangi dengan tetraloginya. Langsung ambil, Edensor...(clingak-clinguk)...mana nih Maryamah Karvop???

Tanyakan ama petugas deh..."belum terbit mas...segera" Ow...gitu ya, oke deh. Liat-liat lagi kebagian novel islami...hei ini dia yang ditunggu-tunggu...Ketika Cinta Bertasbih 2. Wah betapa asyiknya nih bulan Desember, akhir tahun bersama novel-novel hebat. Seperti mendapat bekal untuk menuju sebuah perjalanan. Layaknya mendapat suntikkan imunisasi saat balita, agar mendapat perlindungan tubuh prima. Sepertinya tahun baru ini gak kekurangan darah motivasi deh.

Senyum mengembang membawa novel incaran, terbayang segelas kopimix, sepotong twist pizza menemani saat-saat membaca novel. Hanyut dalam aliran kata demi kata sastrawan hebat Indonesia, Andrea Hirata dan Habiburrahman...hanyut dalam aliran sungai penuh hikmah dan pengalaman penuh imajinasi dan inspirasi. Hhmmm...kenyang perut juga kepala (baca: jiwa). Langsung ingat sebuah lagu "What a wonderful world" ya...My life is beautiful :D

Oya jadi ingat...sabtu malam jadwalnya ngegame, game-game hebat juga menunggu untuk dimainkan, ough...24 jam terasa terlalu singkat untuk novel dan game hebat...umur (segera) 28 terasa singkat untuk sebuah kehidupan yg indah dan penuh gairah...Alhamdulillah

Saturday, December 01, 2007

Karena ini duniaku...inilah pilihanku !!!


Beberapa hari yang lalu, dalam satu hari aku mendapat 3 pertanyaan yang sama, yaitu saat aku menjaga toko. Pertanyaan ini muncul karena orang melihat penampilanku dan (mungkin) keseharianku. Apa sih pertanyaannya? pertanyaanya yaitu : "Kemaren kuliah ya?" (capee dee) dan kedua "Koq gak cari kerja mas?" (What the fuck...) dan ketiga..."loh kamu kan kuliah di *** , ekonomi kan, koq gak kerja di bank?"...sweat deh.

Pertanyaan ini muncul karena paradigma orang pada umumnya adalah sama. Paradigma yang bagaimana sih? paradigma yang beredar ini adalah "jadul", alias kuno,IMO. Oke kita bahasa satu-persatu. Paradigma orang pada umumnya, sehabis kuliah adalah berkerja kantoran, kalo gak bekerja kantoran berarti dia bisa dikatakan gagal dalam bersaing atau lulusan yang tidak qualified.

Orang yang kesehariannya hanya dirumah (tokoku dirumah soalnya), apalagi numpang toko ortu maka kelihatannya tidak bekerja, mungkin harus berseragam kali biar bisa dikatakan "karyawan" (jadi karyawan koq bangga banget sih hehehe...no offense bro). Alhasil, banyak tetangga yang berkata "koq gak nyoba ngelamar-ngelamar, jadi PNS gitu" haiya...

Orang yang berwiraswasta, apalagi yang membangun dari nol, maksudnya tidak tampak menggunakan modal besar alias dimulai dari kecil-kecilan, single fighter...maka akan banyak yang mengira anda bukanlah seorang sarjana. Ada pengalaman lucu, waktu jaga toko ada seorang yang tampaknya seorang pegawai negeri (ternyata emang bener)...menanyakan komponen komputer yg baru (sebenarnya belum masuk pasar Indonesia) lagaknya mau beli padahal tau cuman nanya doank, biar kelihatan pinter dan gak kelihatan gaptek. Kulayanin aja sih, terus nanya spesifikasi komputerku...hehehe belum tau sih kalo aku PC gamer. Jadi malu sendiri dia begitu tahu spesifikasi komputerku, tapi karena gak mau kalah dia cerita dia dijakarta sering liat komputer dgn spesifikasi tinggi, hei man...gua juga lama di jakarta nih. Trus dia langsung menyorongkan tangan mengenalkan diri seraya menyebutkan bahwa dia adalah alumni sebuah universitas swasta terkemuka di Jakarta, eit...kamu belum menang, kepaksa deh aku juga sebutkan alumni mana hehehe. Asli muka dia berubah, soalnya aku yakin dia gak nyangka seperti itu. Well...jangan nilai orang hanya dari seragamnya, kalo gak pengen terkejut nantinya.

Aku memilih menjadi seorang pedagang karena aku bisa memilih menjadi seorang pedagang. Tidak semua orang bisa memilih dia mau menjadi apa. Banyak orang hidup dengan profesinya bukan karena pilihannya, tetapi lebih karena terpaksa, terpaksa karena tidak mau menganggur...memilih karena untuk mencari uang. Ciri-cirinya adalah mereka banyak mengeluh mengenai pekerjaannya, selalu bercerita akan segera pindah kerja dan keluhan lainnya. Orang seperti ini masih mending, malah banyak orang yang gak tahu seharusnya dia kerja apa? dengan kata lain sebenarnya orang ini belum tahu "siapa dia" sebenarnya.

Pilihan yang kuambil ini memang menjadi pilihan yang "tidak populer", apalagi dari ngerintis awalnya. Paling tidak dari status, bisa dipandang sebelah mata, apalagi dari lawan jenis hehehe. Kayaknya cowok kantoran dengan pakaian seragam yang necis tentu lebih menarik dibanding pedagang dengan pakaian seadanya. Pilihan yang kuambil ini melepaskan semua gelar professional yang telah kudapatkan di universitas, pengalaman akademisiku dan gelar/prestasi lainnya. Tapi sekali lagi, karena ini adalah sebuah pilihan. Tampak melawan arus memang...orang yg "dikatakan" aneh hanya sampai dia membuktikan impiannya.

Profesiku sekarang ini adalah sudah merangkum hampir semua hobiku, bermain pc game, utak-atik pc, mengikuti perkembangan dunia TI, berdagang, menulis, mereview produk. Aku tidak suka dengan jam kerja yang diatur-atur oleh orang lain. Aku relatif memiliki lebih banyak waktu senggang, sehingga aku bisa baca banyak buku-buku & novel, bisa meninggalkan toko kapan aku mau (konsekuensi yg nyari aku gak ktemu hehehe)...dan kedepannya aku berharap aku bisa lebih banyak punya waktu bersama orang-orang yang kucintai. Bukankah hal itu sangat berharga? Selain itu aku terhindar dari praktik-praktik mark-up, korupsi, dan sejenisnya karena "operational under my control". Aku terhindari dari "dunia kepura-puraan" layaknya para politikus, lagaknya berjuang untuk rakyat...padahal mereka menggerogoti uang rakyat, huh mereka lebih jelek daripada tikus got. Aku juga senang dgn ungkapan terima kasih dan kepuasan klienku saat komputernya sudah beres kuperbaiki, perasaan puas itu melebihi nilai dari uang yang aku terima...hanya ucapan "Alhamdulillah" yg bisa mewakilinya.

So...itulah duniaku, jadi itulah yang kupilih...dari pertanyaan terakhir yg kuterima kujawab "aku gak kerja koq...aku bersenang-senang dengan hobiku heheheh" alhasil barang mewah yg kumiliki sekarang adalah idealisme-ku.

* Janganlah bekerja semata-mata karena uang, garong juga bekerja karena uang. Bekerjalah dimana dengan profesi itu menjadikan kita menjadi individu yg lebih baik dan berguna. Bekerjalah karena itu adalah panggilan jiwamu...dan bahagialah hidup bersamanya.