Aku menarik nafas panjang beberapa kali, buku yang kini ada ditanganku sudah hampir selesai kubaca. Setelah kurang lebih satu setengah jam membaca buku tersebut aku menjadi ngantuk. Aku putuskan untuk mencuci muka di belakang biar menjadi sedikit lebih segar. Aku pun bergegas menuju kamar mandi belakang kost, brrr…airnya dingin, namun dingin itu menjadi segar di wajahku. Kemudian aku berkaca pada cermin di samping kamar mandi kostku. Aku melihat sesosok yang sangat aku kenal, diriku sendiri…aku usap-usap wajahku, tanpa sadar sebuah kalimat terbesit di kepalaku.
“Yuk kekamar, ntar ada yang liat lagi” dengan santainya dia menuju kamarku.
“He..he..terserah kamulah, toh aku ya kamu juga” ujarnya tersenyum.
“Iya deh Mas, bener nih Mas bayangan saya ?” aku memastikan.
“Lho…belum percaya juga ya ? biar saya buktikan...kamu punya 2 buah gitar akustik
“Kok tau ?” ujarku spontan.
“Terus warnanya apa ?” aku memastikan.
“Coklat kemerah-merahan dan kuning kecoklat-coklatan” dia tersenyum.
“Gimana ? masih nggak percaya ?” sekarang dia balik bertanya. Aku cuma mengangkat bahu saja, sambil mengerenyitkan keningku. Kemudian dia beranjak dari tempat tidurku dan langsung menuju lemari pakaianku lalu mengeluarkan gitarku, lalu membawanya menujuku. Wah, dia tahu tempat dimana aku menyimpan gitar kesayanganku.
“Kalo kamu bayanganku tentunya kamu tahu jawabannya dong” aku menguji dia.
“Tentu saja...kamu nggak jago main gitar
“Itu bukan kendala besar bagiku” aku tidak mau kalah.
“Terus kenapa ?” huh...kali ini dia kalah, ujarku dalam hati.
“Aku main musik hanya untuk mengusir kesepianku dikala sendiri, lagi sedih ataupun bersama teman. Lagian untuk berkarier di musik aku tidak punya jalur kesana, belum lagi
“Ooo...begitu.” Ia tersenyum sembari berhenti memainkan gitarku.
“Tapi kamu kepingin
“Wah...metal semua ya ?” katanya sambil mengambil salah satu kaset koleksiku.
“Tidak semua...aku juga suka DEWA” aku menjawabnya.
“Aku tahu kok...ingat aku adalah kamu juga ” memang sialan nih bayangan.
“Udah tahu nanya” ujarku bersungut.
Ia meninggalkan tumpukan koleksi kasetku dan kembali menuju lemari pakaianku, tapi bukan untuk mencari gitarku yang satunya melainkan mengambil Helm balapku.
“Kenapa nggak jadi pembalap aja ?” mulai lagi nih si bayangan.
“Nggak mungkin, lagian aku nggak mau mati muda...cukup ngebut di jalan aja deh” sambil aku menatap langit-lagit
“ya, bedalah.
“ya, kalo nyalipnya lagi sial
“ya, terserahlah !” jawabku.
“ini buku segini banyaknya, dibaca apa nggak sih?” tanyanya sambil mengeluarkan beberapa buku dari raknya.
“ya dibaca donk !” jawabku dengan cepat.
“semuanya ?” ia bertanya singkat.
“ya...belum semuanya”
“kalo gitu percuma donk, sama aja jadi hiasan aja” ia mengembalikan buku yang dipegangnya, terus mengembalikan helm balapku ketempatnya semula.
“aku bilang
“emang banyak-banyak punya dan baca buku buat jadi apa sih?” ia duduk sambil membaca salah satu buku kesukaanku.
“yang pasti jadi tambah pinter dan punya wawasan luas donk !” aku duduk di depan meja komputerku, aku baru sadar kalau dari tadi aku berdiri saja.
“aku tanya mau jadi apa?” ia balik bertanya lagi.
“kok tanya jadi apa terus sih, bayangan asli apa palsu nih?” kujawab begitu ia hanya tersenyum, anehnya aku merasa sangat ingin sekali menjawab pertanyaannya tadi.
“eh…aku mau jadi penulis, dulunya sih mau jadi pengarang komik, tapi kayaknya ngambar komik itu capek dan makan waktu” akhirnya aku jelaskan juga jawabanku.
“yang bener yang mana?” ia kembali bertanya.
“ya jadi penulis...eh’...iya bener jadi penulis”. Sekarang aku jadi agak sedikit bimbang.
“hahaha...bingung ya jadi mau apa?” jelas sekali kalau ia mengejekku.
“manusia memang aneh dan terkadang membingungkan. Kamu tahu kenapa? Karena mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki, terlalu banyak keinginan”. Kali ini ia berbicara dengan nada serius.
“memang salah kalau begitu?” aku juga bertanya serius.
“tidak ada yang salah dengan hal itu, itu sudah fitrah sekaligus anugrah” jawabnya dengan nada sedikit berceramah.
“jujur saja, aku sendiri juga pada dasarnya bingung mau jadi apa? Terlalu banyak pilihan” Hei...aku malah tanpa sadar berterus terang kepadanya.
“bersyukurlah karena banyak pilihan, bukan sebaliknya”.
“bukan itu masalahnya, tapi aku takut salah menentukan pilihan”.
“baguslah kalau kuatir, itu artinya kamu tidak tinggal diam saja...terbawa arus”.
“bagaimana ya caranya supaya tidak salah memilih?” tanyaku serius.
“gampang kok, ikuti saja panggilan jiwamu!” jawabnya mantap.
“panggilan jiwa?” aku jadi sedikit bingung.
“semua yang kau paparkan tadi salah satunya adalah panggilan jiwamu, atau malah ada yang lain tetapi belum muncul. Semuanya bisa berkumpul kemudian terangkum menjadi panggilan jiwamu yang sesungguhnya”.
“tapi masih saja aku bingung, kadang ingin ini kadang ingin itu...datang silih berganti”. Jelas sekali aku dalam kebingungan.
“tahukah kamu bahwa keraguan adalah awal akan sebuah keyakinan?” kali ini dia
“benarkah demikian?” sanggahku.
“ya...asalkan kau mengenali dirimu. Sudahkah?” tampaknya dia benar-benar menjadi seorang filsuf kali ini.
“ya...gimana ya? Be yourself gitu? Bener ya?”. Dia tertawa terbahak-bahak.
“Hei...bener apa gak?” aku sedikit tersinggung dengan tawanya.
“kasian deh loe, masa udah jadi mahasiswa belum tahu siapa dirinya. Sekolah tinggi-tinggi tapi gak bisa tahu siapa dirinya sesungguhnya, gak diajarin ya dikampus?” kali ini dia benar-benar mengejekku. Tapi anehnya kali ini ejekannya tidak membuat aku tersinggung, aku malah termenung. Sekolah-sekolah yang selama ini kujalani hingga duduk dibangku kuliah yang notabene aku banggakan akan prestisiusnya, sederet prestasiku selama sekolah, banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mata kuliah dapat kujawab, tidak sedikit yang menghasilkan nilai A dan seterusnya. Tetapi mengapa menjawab satu soal ini aku seperti orang yang tidak pernah kuliah? Ya...memang soal yang satu ini tidak pernah diajarkan disekolah-sekolahku bahkan kampusku. Apa karena jurusan kuliahku? Ah..itu mencari alasan namanya. Siapakah diriku? Tiba-tiba aku merasa krisis, krisis identitas diri.
“tahukah kamu bahwa dengan mengenal dirimu kamu akan mengenal tuhanmu?” dia menepuk pundakku, bukan untuk mengejutkanku tapi lebih kepada menggugah kesadaranku. Dia menambah beban lagi dipikiranku, padahal soal pertama belum ketemu jawabannya.







