Beberapa hari ini aku mengisi sela-sela kesibukan keseharianku dengan membaca Edensor, seri ke-3 dari Tetralogi Laskar Pelangi. Edensor berkisah tentang perjalanan Ikal dan Arai dalam mewujudkan impian mereka untuk berkeliling Eropa hingga Afrika. Penuh nuansa lika-liku dalam mewujudkan impian mereka itu.
Aku juga memiliki impian serupa, yang tentu saja tidak sehebat impian mereka berdua. Sejak aku mengenal sepeda motor dan bisa mengendarainya, yaitu kelas 2 SMP saat itu. Sejak saat itulah aku mengenal sebuah rasa kebebasan lain, yaitu memacu kendaraan secepat-secepatnya tanpa harus mengeluarkan tenaga, yaitu seperti memacu sepeda. Aku ingin mengelilingi pulau jawa dengan sebuah motor sport, yaitu Honda NSR saat itu (kalau sekarang tentu saja Honda CBR) sendirian ataupun bersama teman yang memiliki impian serupa. Aku ingin melihat keindahan kota-kota yang ada di Jawa. Kenapa Jawa?, kenapa tidak Kaltim saja? alasan sederhana, karena jalan darat di Kaltim...payah !!!
Impian itu kupupuk dari SMP, SMA hingga akhirnya aku benar-benar pergi ke Jawa untuk melanjutkan studi dan kuliah disana. Sampai sana pun impian itu kian dekat dalam genggaman, karena sampai disana aku dibelikan sebuah motor baru oleh abangku. Suzuki Shogun 110 warna hitam, tentu saja tidak dapat disandingkan dengan Honda CBR dengan tidak berwarna sekalipun. Tetapi paling tidak media utamanya sudah ada. Secara pelan-pelan aku mengumpulkan semua keperluan untuk memulai petualangan itu. Uang saku yang pas-pasan aku sisihkan untuk membeli peta, alat tambal ban instan, jaket, pelindung hujan dan lain-lain. Juga waktu dimulainya perjalanan, rute yang akan ditempuh, objek-objek menarik yang akan disinggahi sudah aku ditentukan. Aku membayangkan saat pulang perjalanan itu, sebuah peta pulau Jawa ukuran besar akan aku pajang dikamar kost. Semua kota yang aku lalui akan aku tandai dengan pin-pin berwarna, yang masing-masing warna ada maknanya tersendiri. Juga tidak ketinggalan tentunya foto-foto menarik dari kunjungan tersebut. Aku juga sudah mempersiapkan sebuah buku diary untuk merekam semua kejadian yang aku lalui dalam perjalanan tersebut. Aku berpikir, siapa tau kelak buku diary tersebut akan bisa diterbitkan dan dibaca orang banyak. Karena salah satu impianku adalah menjadi seorang penulis.
Teman perjalanan pun aku dapatkan di awal-awal kuliah. Kebetulan motor kami berdua juga sama, tetapi dia lebih butut. Kami sudah bertekad akan melangsungkan perjalanan ini saat liburan semester pendek yang akan datang. Namun belum mencapai semester pendek, calon teman perjalananku ini ketiban sial saat menikung dipertigaan jalan Taman Siswa. Dia ditabrak atau lebih tepatnya dia yang menabrak angkot. Motor shogunnya merangkak masuk dilindas dan terseret oleh mobil angkot yang tidak kalah bututnya dengan shogun kesayangannya itu. Untung saja temanku itu tidak ikut menjadi butut dilindas angkot, karena dia terlempar ke trotoar jalanan.
Syukur temanku ini hanya mendapat cindera mata lecet disana-sini. Namun buntutnya, karena kasih sayang ibunya yang sangat kuatir, maka temanku ini harus merelakan impian petualangannya berkeliling pulau jawa dengan motor plus menyelesaikan kuliahnya di Jogja. Ibunya meminta dia untuk kembali pulang ke Lampung.
Aku berpikir siapa lagi teman yang cukup naif untuk mau menemaniku bersepeda motor ria mengelilingi pulau Jawa. Target waktu perjalanan saat semester pendek pun terlewatkan, karena aku merasa tidak siap bertualang sendirian. Semester pendek aku ambil untuk mempercepat masa kuliah. Maksudnya agar bisa segera mewujudkan impian menjelang kelulusan nanti.
Tidak lama setelah semester pendek, giliran aku yang mendapat musibah. Tidak berupa kecelakaan, namun sebuah kehilangan, kehilangan besar...motorku raib dikampus saat kakaku meninggalkannya di lahan parkir fakultas Filsafat. Motor baru yang masih berstatus kreditan belum lunas itupun berpindah tangan dengan instan. Tanpa perlu persyaratan slip gaji, KTP dan surat pernyataan kemampuan untuk menyicilnya sebesar Rp 350.000 per bulannya. Kehilangan ini seperti siraman seember air untuk memadamkan api pada sebatang lilin yang kecil. Padam dan basah kuyup begitu saja. Bagaimana tidak, jangankan berkeliling jawa. Menuju tempat favoritku ditengah kota yaitu toko buku Gramedia saja menjadi jauh sekali dan tidak mungkin lagi aku kunjungi pada saat malam hari. Karena di jogja bus angkutan umum hanya sampai jam 6 sore saja.
Begitulah nasib impianku untuk keliling jawa dengan sepeda motor, tetapi benarkah begitu saja...adakah hikmah dari semua musibah ini? tidak ada sebuah kebetulan...
Aku juga memiliki impian serupa, yang tentu saja tidak sehebat impian mereka berdua. Sejak aku mengenal sepeda motor dan bisa mengendarainya, yaitu kelas 2 SMP saat itu. Sejak saat itulah aku mengenal sebuah rasa kebebasan lain, yaitu memacu kendaraan secepat-secepatnya tanpa harus mengeluarkan tenaga, yaitu seperti memacu sepeda. Aku ingin mengelilingi pulau jawa dengan sebuah motor sport, yaitu Honda NSR saat itu (kalau sekarang tentu saja Honda CBR) sendirian ataupun bersama teman yang memiliki impian serupa. Aku ingin melihat keindahan kota-kota yang ada di Jawa. Kenapa Jawa?, kenapa tidak Kaltim saja? alasan sederhana, karena jalan darat di Kaltim...payah !!!
Impian itu kupupuk dari SMP, SMA hingga akhirnya aku benar-benar pergi ke Jawa untuk melanjutkan studi dan kuliah disana. Sampai sana pun impian itu kian dekat dalam genggaman, karena sampai disana aku dibelikan sebuah motor baru oleh abangku. Suzuki Shogun 110 warna hitam, tentu saja tidak dapat disandingkan dengan Honda CBR dengan tidak berwarna sekalipun. Tetapi paling tidak media utamanya sudah ada. Secara pelan-pelan aku mengumpulkan semua keperluan untuk memulai petualangan itu. Uang saku yang pas-pasan aku sisihkan untuk membeli peta, alat tambal ban instan, jaket, pelindung hujan dan lain-lain. Juga waktu dimulainya perjalanan, rute yang akan ditempuh, objek-objek menarik yang akan disinggahi sudah aku ditentukan. Aku membayangkan saat pulang perjalanan itu, sebuah peta pulau Jawa ukuran besar akan aku pajang dikamar kost. Semua kota yang aku lalui akan aku tandai dengan pin-pin berwarna, yang masing-masing warna ada maknanya tersendiri. Juga tidak ketinggalan tentunya foto-foto menarik dari kunjungan tersebut. Aku juga sudah mempersiapkan sebuah buku diary untuk merekam semua kejadian yang aku lalui dalam perjalanan tersebut. Aku berpikir, siapa tau kelak buku diary tersebut akan bisa diterbitkan dan dibaca orang banyak. Karena salah satu impianku adalah menjadi seorang penulis.
Teman perjalanan pun aku dapatkan di awal-awal kuliah. Kebetulan motor kami berdua juga sama, tetapi dia lebih butut. Kami sudah bertekad akan melangsungkan perjalanan ini saat liburan semester pendek yang akan datang. Namun belum mencapai semester pendek, calon teman perjalananku ini ketiban sial saat menikung dipertigaan jalan Taman Siswa. Dia ditabrak atau lebih tepatnya dia yang menabrak angkot. Motor shogunnya merangkak masuk dilindas dan terseret oleh mobil angkot yang tidak kalah bututnya dengan shogun kesayangannya itu. Untung saja temanku itu tidak ikut menjadi butut dilindas angkot, karena dia terlempar ke trotoar jalanan.
Syukur temanku ini hanya mendapat cindera mata lecet disana-sini. Namun buntutnya, karena kasih sayang ibunya yang sangat kuatir, maka temanku ini harus merelakan impian petualangannya berkeliling pulau jawa dengan motor plus menyelesaikan kuliahnya di Jogja. Ibunya meminta dia untuk kembali pulang ke Lampung.
Aku berpikir siapa lagi teman yang cukup naif untuk mau menemaniku bersepeda motor ria mengelilingi pulau Jawa. Target waktu perjalanan saat semester pendek pun terlewatkan, karena aku merasa tidak siap bertualang sendirian. Semester pendek aku ambil untuk mempercepat masa kuliah. Maksudnya agar bisa segera mewujudkan impian menjelang kelulusan nanti.
Tidak lama setelah semester pendek, giliran aku yang mendapat musibah. Tidak berupa kecelakaan, namun sebuah kehilangan, kehilangan besar...motorku raib dikampus saat kakaku meninggalkannya di lahan parkir fakultas Filsafat. Motor baru yang masih berstatus kreditan belum lunas itupun berpindah tangan dengan instan. Tanpa perlu persyaratan slip gaji, KTP dan surat pernyataan kemampuan untuk menyicilnya sebesar Rp 350.000 per bulannya. Kehilangan ini seperti siraman seember air untuk memadamkan api pada sebatang lilin yang kecil. Padam dan basah kuyup begitu saja. Bagaimana tidak, jangankan berkeliling jawa. Menuju tempat favoritku ditengah kota yaitu toko buku Gramedia saja menjadi jauh sekali dan tidak mungkin lagi aku kunjungi pada saat malam hari. Karena di jogja bus angkutan umum hanya sampai jam 6 sore saja.
Begitulah nasib impianku untuk keliling jawa dengan sepeda motor, tetapi benarkah begitu saja...adakah hikmah dari semua musibah ini? tidak ada sebuah kebetulan...





0 komentar:
Post a Comment