
Film ini sebenarnya sudah lama kunantikan. Dari info di milis aku mengetahui sejak jauh hari tanggal perdana film ini bakal tayang di bioskop. Niat untuk menikmati bersama film ini di saat lebaran pun terbayang. Namun apa daya setiap niat itu ingin ditunaikan, tiket selalu lebih dulu terbagi ketangan orang lain yg memiliki niat sama. Alhasil, lewat sebulan baru film ini dapat kusaksikan di bioskop seorang diri.
Bagi yang mengikuti novel tetralogi Laskar Pelangi, mengikuti alur cerita film ini tidaklah sukar. Karena apa yang dibaca di novel sangat rinci akan petualangan para anak-anak murid SD Muhammadiyah di Belitong tersebut. Detail akan indah dan serunya petualangan mereka tidak semua dapat ditampilkan pada bentuk filmnya. Karena film yang berdurasi sekitar 2 jam 30 menit ini, tampak sudah payah untuk memadatkan isi cerita novelnya. Namun kepadatannya tidak serta merta mereduksi pesan dan emosi yang terkandung di novelnya.
Dari film Laskar Pelangi ini, perhatianku banyak tertuju pada tokoh sang Kepala Sekolah Muhammadiyah. Entah kenapa suara dari tokoh ini benar-benar bisa merasuk kedalam hatiku. Pesan yang disampaikannya ke murid-murid para Laskar Pelangi begitu terasa. Aku merasa bahwa pesannya itulah inti dari film ini. Pesan sang Kepala Sekolah ini serupa dengan apa yang dulu sering aku ingatkan kepada diriku sendiri. Pesan yang kupatrikan saat aku memutuskan untuk berwirausaha. Berdagang tidak semata-mata mencari laba, laba hanyalah hasil ikutan, bukan tujuan utama. Berdagang adalah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya (gives more values). Apabila demikian maka yang diperoleh adalah nama baik. Bukankah tujuan dari sebuah usaha didirikan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan? Bukankah nilai perusahaan direpresentasikan oleh seberapa kuat brandnya? seberapa besar kepercayaan yang didapatkannya dari manfaat yang diberikannya?
Sang Kepala Sekolah mengatakan "hiduplah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya". Sekolah ini (Muhammadiyah) didirikan bukan untuk mengejar materialitas semata, melainkan mendidik dengan hati". Ya...aku selalu ingin bisa "berdagang dengan hati". Yaitu segala transaksi menjadi laba apabila menjadi ibadah, memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.
Tetapi tidak hanya itu yang kudapatkan dari film tersebut. Semangat akan kemauan dan kegigihan untuk terus belajar, menggapai cita-cita tanpa kenal lelah adalah juga pesan yang ingin dibagikan dan ditularkan kepada para penontonnya. Ironisme dunia pendidikan di Indonesia, ketimpangan sosial yang mengkotak-kotakkan impian dan harapan turut mewarnai kisah film ini.
Intinya, film ini masuk kategori wajib ditonton. Sebuah film dengan genre baru yang mencoba menyeruak diantara banyak film Indonesia yang hanya berisi horor, seks dan kisah roman picisan, film ini layak mendapat apresiasi. Cukup dikatakan sebagai salah satu karya kebangkitan film Indonesia disamping Ayat-Ayat Cinta dan Naga Bonar 2.
Bagi yang mengikuti novel tetralogi Laskar Pelangi, mengikuti alur cerita film ini tidaklah sukar. Karena apa yang dibaca di novel sangat rinci akan petualangan para anak-anak murid SD Muhammadiyah di Belitong tersebut. Detail akan indah dan serunya petualangan mereka tidak semua dapat ditampilkan pada bentuk filmnya. Karena film yang berdurasi sekitar 2 jam 30 menit ini, tampak sudah payah untuk memadatkan isi cerita novelnya. Namun kepadatannya tidak serta merta mereduksi pesan dan emosi yang terkandung di novelnya.
Dari film Laskar Pelangi ini, perhatianku banyak tertuju pada tokoh sang Kepala Sekolah Muhammadiyah. Entah kenapa suara dari tokoh ini benar-benar bisa merasuk kedalam hatiku. Pesan yang disampaikannya ke murid-murid para Laskar Pelangi begitu terasa. Aku merasa bahwa pesannya itulah inti dari film ini. Pesan sang Kepala Sekolah ini serupa dengan apa yang dulu sering aku ingatkan kepada diriku sendiri. Pesan yang kupatrikan saat aku memutuskan untuk berwirausaha. Berdagang tidak semata-mata mencari laba, laba hanyalah hasil ikutan, bukan tujuan utama. Berdagang adalah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya (gives more values). Apabila demikian maka yang diperoleh adalah nama baik. Bukankah tujuan dari sebuah usaha didirikan adalah untuk memaksimalkan nilai perusahaan? Bukankah nilai perusahaan direpresentasikan oleh seberapa kuat brandnya? seberapa besar kepercayaan yang didapatkannya dari manfaat yang diberikannya?
Sang Kepala Sekolah mengatakan "hiduplah untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya". Sekolah ini (Muhammadiyah) didirikan bukan untuk mengejar materialitas semata, melainkan mendidik dengan hati". Ya...aku selalu ingin bisa "berdagang dengan hati". Yaitu segala transaksi menjadi laba apabila menjadi ibadah, memberikan manfaat sebanyak-banyaknya.
Tetapi tidak hanya itu yang kudapatkan dari film tersebut. Semangat akan kemauan dan kegigihan untuk terus belajar, menggapai cita-cita tanpa kenal lelah adalah juga pesan yang ingin dibagikan dan ditularkan kepada para penontonnya. Ironisme dunia pendidikan di Indonesia, ketimpangan sosial yang mengkotak-kotakkan impian dan harapan turut mewarnai kisah film ini.
Intinya, film ini masuk kategori wajib ditonton. Sebuah film dengan genre baru yang mencoba menyeruak diantara banyak film Indonesia yang hanya berisi horor, seks dan kisah roman picisan, film ini layak mendapat apresiasi. Cukup dikatakan sebagai salah satu karya kebangkitan film Indonesia disamping Ayat-Ayat Cinta dan Naga Bonar 2.





2 komentar:
setuju, great movie :)
ga akan nyesel deh nonton film ini. sejauh ini temen2 yg dah nonton ga ada satupun yg bilang jelek.
semoga aja perfilman indonesia makin maju dgn memperbanyak film2 seperti ini
stuju!!!!
I ♥ this movie...
apalagi nonton'nya gratis karena ada event dari CLEO!!!
anak² Indonesia khususnya kudu nonton ini pelem supaya bisa lebih menghargai pendidikan yang sedang mereka kenyam...
Post a Comment