
Semenjak aku memutuskan untuk menjadi wirausahawan, banyak pendapat dan kritik yang aku terima. Dari sekian banyak pendapat dan masukan yang aku terima adalah mengapa memutuskan untuk menjadi wirausaha, bukannya bekerja kantoran. Berawal dari pertanyaan tersebut maka diskusi pun berlangsung, bahkan cenderung menjadi perdebatan. Dengan argumennya masing-masing, kami pun mencoba mempertahankan pemikiran masing-masing. Entah kenapa, pemikiranku akhirnya selalu dapat diterima dalam setiap perdebatan tersebut. Tetapi ujung dari perdebatan tersebut selalu ada satu faktor yang seolah menghambat teman diskusi menerima sepenuhnya pemikiranku. Hal tersebut yaitu kendala modal dan risiko. Mereka selalu mengatakan, mereka memilih menjadi karyawan kantoran karena tidak memiliki modal dan menghindari risiko.
Sebenarnya apa sih modal itu? Jika kita melihat dalam persamaan akuntansi maka modal adalah selisih dari aktiva terhadap utang. Dengan kata lain semua klaim kita dikurangi seluruh kewajiban adalah modal. Dalam hal ini biasanya dalam benak kita modal adalah dalam satuan moneter atau berbentuk kas/uang. Hal ini tanpa disadari melekat dalam persepsi kita, bahwa modal adalah uang. Tentu saja hal tersebut tidak salah, tetapi dalam konteks untuk memulai usaha, definisi dari persamaan akuntansi tersebut sangatlah sempit bahkan cenderung mengekang persepsi seseorang. Modal dalam bentuk uang selalu menjadi pertimbangan utama dalam memulai sebuah usaha. Sekali lagi, tentu saja hal tersebut tidak salah. Tetapi apakah benar hanya dalam bentuk uang saja?
Berbekal dari banyak bacaan tentang para pengusaha sukses yang mengawali usahanya dari nol, modal dalam bentuk uang ternyata bukanlah faktor utama. Merangkum dari banyak bacaan tersebut, aku mendapatkan bentuk-bentuk lain dari modal yang ternyata lebih berperan dalam mengantar kesuksesan para pengusaha-pengusaha tersebut. Bentuk pertama yaitu ilmu (knowledge), tanpa ilmu semua yang dijalankan hanya akan berujung pada kehancuran. Sudah banyak contoh dimana para pengusaha yang sukses biasanya kerajaan bisnisnya akan tenggelam pada generasi ketiga. Karena pada generasi ketiga adalah generasi dimana mereka hidup dalam kondisi kemewahan, sehingga mereka melupakan pentingnya pendidikan. Seberapa banyaknya pun uang, tetapi berada ditangan orang yang tidak memiliki ilmu maka tunggu saja tutup bukunya. Aku sangat banyak memiliki teman yang keluarganya terjebak dalam hal seperti itu. Mereka hidup dengan gaya mewahnya, tidak menghargai proses dalam belajar, sombong dan biasanya mengedepankan gengsi. Begitu orang tua mereka meninggal/bangkrut, maka seiring waktu hidup mereka pun berbalik 180 derajat. Modal dalam bentuk ilmu tidak akan lekang dimakan waktu.
Bentuk modal yang kedua adalah keluarga (family). Siapapun patut bersedih apabila berada dalam keluarga yang tidak harmonis. Ayah dan anak tidak bertegur sapa, kakak dan adik selalu bertengkar, dirumah serasa berada dalam neraka. Mau kemana lagi mereka? Siapa yang dapat lebih dipercaya kecuali keluarga kita. Siapa yang mau mendukung dengan ikhlas dan penuh pengorbanan pada awalnya selain keluarga kita? Ada satu sosok sentral dalam sebuah keluarga menurut penulis yang menentukan kesuksesan seseorang, yaitu Ibu. Karena apa?, ridha Allah ditentukan oleh ridha Ibu. Oleh karena itu, sebelum menentukan langkah maka pastikan mendapat ridha dari Ibu dan tentu saja Ayah.
Bentuk modal yang ketiga adalah teman/sahabat (friends). Seorang bijaksana mengatakan sahabat terbaikmu adalah dirimu yang berada dalam tubuh yang lain. Beruntunglah jika memiliki banyak sahabat, karena sahabat adalah orang lain yang rela membantu kita dengan ikhlas setelah keluarga kita. Selain itu sahabat adalah orang yang juga kita percaya untuk berbagi banyak hal, dan sahabat yang baik adalah yang berada di samping kita baik suka dan duka. Jenis yang terakhir tersebut adalah jenis yang langka. Sukar untuk menemukannya, namun apabila menemukannya maka biasanya akan berjalan dengan langgeng. Jenis terbanyak adalah yang ada disisi kita jika hanya ada perlu, begitu kebutuhannya terpenuhi maka mereka pun pergi seolah melupakan kita dan jenis demikian tidak layak menyandang sebutan sahabat. Memiliki sahabat jenis langka adalah modal yang sangat besar untuk dapat memulai usaha apapun. Karena mereka selalu ingin memberikan yang terbaik untuk kita. Oleh karena itu teruslah untuk senantiasa menjalin tali silaturahmi. Menyambung silaturahmi akan mendatangkan rejeki, percayalah!.
Modal bentuk keempat adalah keyakinan (faith). Banyak orang yang memiliki modal bentuk pertama, kedua, ketiga bahkan uang, tetapi mereka tidak memulai usaha mereka sendiri. Mengapa demikian? Karena mereka tidak memiliki keyakinan, yaitu yakin akan berhasil. Mereka selalu menghantui diri mereka dengan kegagalan. Menunggu waktu yang benar-benar tepat, yang sebenarnya adalah bentuk lain dari ketidakyakinan mereka. Menurutku, modal bentuk keempat inilah yang menggerakan modal bentuk-bentuk sebelumnya. Tanpa adanya keyakinan, modal lainnya hanya akan diam ditempat. Mungkin pertanyaannya, bagaimana untuk menumbuhkan keyakinan? Keyakinan akan datang setelah menguasai ilmu dan tidak sebaliknya. Begitupun dengan keyakinan beragama, jangan menyakini sebuah agama sebelum anda mempelajarinya (ilmu) dan hal itu setali tiga uang dengan memulai sebuah usaha.
Modal dalam bentuk uang adalah bentuk ikutan. Uang akan datang apabila anda memiliki modal dalam bentuk-bentuk sebelumnya dan tidak sebaliknya. Dengan cara pandang demikian maka sebenarnya tidak ada lagi alasan untuk mengatakan tidak ada modal. Yang sebenarnya terjadi adalah kita belum memaksimalkan modal dalam berbagai bentuk yang selama ini kita miliki. Orang yang sukses adalah orang yang mampu mengolah dan mengkonversi kombinasi modal bentuk pertama, kedua, ketiga dan keempat menjadi produk dan atau jasa yang menghasilkan uang. Untuk dapat mengkonversi bentuk modal-modal tersebut, maka dibutuhkan modal bentuk lain yaitu kemampuan berkomunikasi (communication skill). Kemampuan berbicara, menyampaikan pendapat, menulis, negosiasi, menyakinkan orang lain adalah faktor yang membedakan seseorang dapat memaksimalkan modal yang ada pada dirinya. Kemampuan berkomunikasi dapat dilatih dan dikembangkan, dan tentu saja butuh proses. Selanjutnya supaya dapat menjual produk maka modal dalam bentuk ilmu kembali berperan, yaitu ilmu marketing. Memiliki produk dan jasa yang baik saja tidaklah cukup tanpa melengkapinya dengan ilmu pemasaran.
Kalau dilihat kembali bentuk modal-modal tersebut, penulis menduga banyak dari kita yang mungkin sedikit ‘melupakannya’. Tanpa kita sadari pun kita sebenarnya sudah memiliki modal untuk bergerak maju, hanya saja kita belum maksimal memberdayakannya. Dengan modal-modal tersebut, risiko yang ada pun bisa kita kelola. Jadi bagi yang ingin berwiraswasta, yakinlah kita sudah memiliki modal minimal keyakinan yang kuat. Aku rasa modal itulah yang paling kuat melandasi pilihan penulis disamping dukungan keluarga, sahabat dan sedikit ilmu untuk memilih berwiraswasta.