Monday, March 31, 2008

Hakikat Cinta


Cinta kepada dunia...
Cinta kepada makhluk...

adalah cinta sesaat yang panjang
yang kadang membuat kita sesat sesaat yang panjang...

Cinta yang abadi adalah mencintai yang kekal...
Cinta yang indah adalah mencintai yang terindah...
Cinta sejati adalah mencintai cinta...
dan cinta itu adalah sang pemilik cinta...
Hanya dari-Nya dan kepada-Nya cinta dari cinta akan berlabuh untuk selamanya...

Cinta yang luasnya lebih dari 7 lautan, bahkan apabila ditambah dengan 7 lautan lagi...
Mampukah manusia merengkuh luasnya...
Jika tidak dengan ridha-Nya

Antara Buku Pintar, Astrologi dan Ego


Sejak kecil aku gemar membaca. Sewaktu masih duduk di bangku SD, ada satu buku yang sangat sering aku baca berulang-ulang. Buku itu dikirim oleh abangku yang saat itu sedang kuliah di Jogja. Buku itu bisa dikatakan fenomenal saat itu. Judulnya hebat dan memiliki efek psikologis yang reaktif bahkan kompulsif untuk anak-anak seusiaku saat itu. Fisik buku itu tidak kalah sangar, hampir sama tebalnya dengan Al Qur'an, apalagi yang kumiliki adalah edisi hard covernya. Buku Pintar, itulah yang tercetak besar dan tebal di sampul depannya. Sangat hebat judulnya, percaya diri dan provokatif. Buku Pintar ini disusun oleh Iwan Gayo, nama yang selalu membuatku tersenyum saat itu, entah kenapa.

Selayaknya anak-anak SD pada umumnya, tentu saja tidak serta merta buku itu menemani hari-hariku. Walaupun masih SD, aku tidak terprovokasi dengan teknik branding
sejenis Buku Pintar atau Cerebrofit, yang hanya sekedar meminum suplemen itu dan glek...kita menjadi anak pintar, membeli buku itu hupla...database otak bertambah encer. Buku Pintar sebenarnya tidak jauh berbeda dengan buku Himpunan Pengetahuan Umum (HPU). Buku HPU ini hampir hapal luar kepala oleh abangku. Sering buku HPU ini menjadi bahan permainan cerdas cermat semasa kecil. Buku Pintar disusun dengan lebih "advance" dan cakupan bahasan lebih luas, karena jumlah halamannya juga jauh berbeda.

Buku Pintar ini menjadi banyak menguras perhatianku sejak aku menemukan bahasan tentang astrologi. Awalnya aku hanya mengamati simbol-simbol zodiak tersebut, tanpa mengerti maksud penjelasan dari masing-masing zodiak. Baru setelah mendapat penjelasan dari kakaku, zodiak ini menjadi sangat menarik.

Postingku ini sebenarnya tidak membahas Buku Pintar oleh Iwan Gayo (aku tersenyum lagi, entah kenapa) melainkan zodiak dan shio. Setelah mendapat penjelasan singkat dan cara menentukan zodiak serta shio, astrologi adalah "mainan" mengasyikkan. Aku mulai rajin menanyakan tanggal lahir anggota keluarga, menentukan zodiak dan shio apa, untuk kemudian mencocok-cocokkan sifat dan kakater mereka. Bisa dimaklumi sejauh mana kemampuan analisis psikologis anak SD, yang pasti bagiku saat itu aku merasa bisa mengenali seseorang lebih jauh dengan astrologi. Astrologi ala Buku Pintar tentunya, yang cukup pintar untuk membuat anak SD merasa cukup pintar membedah karakter seseorang.

Ego adalah bagian dari diri yang selalu minta dipuaskan, walaupun kita tahu ego takkan pernah puas. Itulah yang terjadi pada diriku saat itu. Buku Pintar dan bahasan astrologinya terus aku baca berulang-ulang. Ego part itu adalah, bintang Leo dan shio Monyet, itulah diriku berdasarkan astrologi. Leo adalah pemarah namun cepat sekali menjadi berbalik 180 derajat menjadi penyayang, egois, setia dan berbakat pemimpin. Bershio monyet adalah seseorang yang populer dalam komunitasnya, pandai menghibur apabila tidak ingin dikatakan seorang "performing arts" serta menawarkan kelucuan. Itulah aku ala astrologi buku pintar. Ego anak kecil yang sudah merasa cukup pintar pun melambung dengan bebasnya. Selalu ingin berdiri pada puncak dan mengatakan aku adalah Leo dan Monyet yang sempurna, and the others is nothing...benar-benar' benar kata astrologi Buku Pintar, pria Leo adalah egois. Aku sendiri saat itu adalah contoh sempurnanya...


- Bersambung ke Monyet yang pandai mencari uang
(saat akhir mengetik post ini, playlist di Winamp memainkan lagu Sempurna by Andra & The Backbone)

Tuesday, March 18, 2008

Brain of My Spider


Yep inilah prosessor 4 inti pertamaku, AMD Phenom 9500. Memang banyak kabar kurang sedap mengenai produk awal 4 inti ini. Tapi itu tidak masalah bagiku, karena harganya masih aku anggap wajar untuk dapat mencicipi sebuah prosessor 4 inti. Phenom 9500 memiliki clock speed 2.2 Ghz dan merupakan prosessor 4 inti pertama yang didesain secara native quad core. Berbeda dengan generasi awal quad core dari intel yg hanya menggabungkan 2 prosessor dual dalam 1 die.

Masing-masing inti memiliki L1 cache sebesar 64KB dan 512KB L2 cache (2MB L2 Cache dan 512KB L1 cache untuk totalnya per prosessor). Antara L1 dan L2 cache ini dihubungan dengan lebar memori interface sebesar 256 bits. Untuk mendongkrak kinerja, memory controller dioptimalkan agar sepenuhnya dapat memberdayakan bandwith memori DDR2 hingga kecepatan 1066Mhz. Phenom juga sudah mendukung HyperTransport 3.0.

Phenom adalah prosessor AMD pertama yang menggunakan socket AM2+. Walau begitu, Phenom juga kompatibel dengan motherboard dengan soket AM2, hanya saja tidak akan mendapatkan keuntungan dari teknologi HyperTransport 3.0. Phenom diproduksi dengan teknologi manufaktur 65-nm dengan SOI. Didalamnya tertanam sekitar 450 juta transistor pada sebuah die dengan ukuran 285 milimeter persegi. Phenom memiliki TDP sebesar 95W.

Dengan tertanamnya 4 inti didalam Phenom, maka konsumsi daya menjadi perhatian penting dari AMD. Untuk mengurangi konsumsi daya, maka 4 inti Phenom dapat berjalan pada kecepatan dan voltase masing-masing secara independen. Artinya apabila kita menjalankan sebuah aplikasi "single-threaded" yang hanya menggunakan 1 inti, maka 3 inti yang lain akan berjalan pada kecepatan terendahnya begitu pula dengan voltasenya. Memory controller juga akan bekerja serupa dengan menurunkan penggunaan daya secara dinamis.

Ya begitulah data teknis Phenom 9500, dalam waktu dekat aku akan menguji kinerjanya (benchmark). Aku harap kinerjanya sesuai dengan ekspektasiku...

Sunday, March 09, 2008

House for My Spider



Pengalaman bersama casing Cooler Master CM Stacker kemarin, membuatku enggan untuk menggunakan casing generic untuk rig baruku. Memang harganya jauh lebih mahal dan belum termasuk Power Supply Unit (PSU). Tetapi kualitas material, desain, sirkulasi udara, kemudahan instalasi dan beberapa fitur lainnya membuat harga yang dibayar menjadi wajar. Dan tentu saja eksklusivitas, karena tidak pasaran. Oleh karena itu untuk "rumah" baru rig Spiderku pilihanku jatuh pada casing Raidmax Smilodon. Aku suka tampilannya yang gagah. Tampilan depan dihiasi dengan 3 taring yang menyala biru saat rig dalam kondisi On. Panel samping transparan juga menarik dengan sebuah palang yg terpasang sebuah fan dengan led biru. Panel samping kiri dan kanan bisa dibuka dengan sistem full-down, hanya dengan membuka tuasnya saja. Hal ini memudahkan untuk mengakses komponen dan motherboard secara langsung.

Pada bagian dalam casing ini cukup luas dan nyaman. Semua komponen seperti ODD dan HDD dipasang dengan tool-less. Ruang HDD dapat digeser ke arah samping. Dibawah ruang tersebut terdapat box kecil tempat peralatan casing ini tersimpan.


Pada panel depan terdapat satu buah intake fan 120mm yang langsung menghembuskan udara luar ke arah ruang HDD terpasang. Fan intake lainnya terdapat pada panel sisi kiri, yaitu 2 fan 80mm. Sedangkan 1 buah exhaust pada bagian belakang. Bagian exhaust ini juga dibantu oleh 120mm fan PSU yang kugunakan yaitu AcBell 750 Watt Modular.

Sepertinya Raidmax Smilodon ini akan menjadi rumah yang nyaman buat rig Spiderku.

Friday, March 07, 2008

My New Rig...Spider !


Perkembangan PC games dengan next gen engine grafis menjanjikan pengalaman visual bermain game dengan lebih memukau. Chipset video card dari ATi dengan seri HD38xx menawarkan perbandingan price/performance yang menggiurkan, teknologi DirectX 10.1, smoother edges, advanced lightning techniques, high quality motion blur dan lain-lain. Belum lagi fitur-fitur multimedianya seperti Universal Video Decoding (UVD) untuk kebutuhan menonton film-film berkualitas High Definition, membuat video card seri ini menarik untuk membangun sebuah rig baru. Selain itu AMD menawarkan prosessor baru mereka dengan 4 inti (Quad Core) yaitu Phenom. Memang terasa masih dini untuk memakai prosessor dengan 4 inti saat ini, namun teknologi baru selalu saja mengundang rasa penasaran akan kinerja yang dijanjikan. Harga yang ditawarkan AMD juga menarik, dibanding Quad Core dari Intel. Chipset untuk mainboard dari AMD yaitu chipset AMD seri 7xx juga menawarkan skalabilitas menarik untuk membangun sebuah rig baru.

Hal-hal diatas membuat aku tergiur untuk segera membangun rig baru buat gaming. Sebagai pengguna AMD dan fanATics tentu saja aku akan menggunakan solusi dari AMD - ATi, yaitu Spider. Spider adalah platform baru dari AMD, yaitu PC yang dibangun dari 3 komponen utama dari AMD. Tiga komponen itu adalah prosessor AMD Phenom Series, video card HD38xx series dan motherboard dengan chipset AMD 7XX series. Untuk itu perburuan hardware pun dimulai...