Sunday, May 18, 2008

Ke Puncak Merbabu - Part 1


Aku bersama Lena sudah tidak sabar menanti teman-teman yang lain. Aku sedikit ragu sekaligus malu setelah sekian lama menunggu dipelataran dikampus. Sekian pasang mata menatap agak heran kepada kami berdua. Tidak ada yang aneh memang pada kami, kecuali bawaan kami yang cukup heboh untuk ukuran orang kuliah, bahkan untuk mengikuti mata kuliah terberat pun. Bawaan kami memang berat. Aku membawa carrier pendaki gunung yang biasa kugunakan untuk pulang mudik. Sedangkan Lena memakai ransel yang dibagian bawahnya terselip rapi sebuah tikar gulung biru. Cukuplah dikenali jika kami sebagai pendaki gunung amatiran. Ya...memang siang ini kami berjanji berkumpul dikampus untuk merealisasikan ide perbincangan dikelas untuk mendaki gunung Merbabu. Perbincangan untuk mendaki itu cukup seru dibahas dikelas. Namun setelah sekian lama menunggu, tampaknya perbicangan seru itu tidak seramai pasang mata yang menatap kami berdua saat ini.

Aku tersenyum saat melihat Dodi datang juga dengan perlengkapan seperti kami berdua. Dodi datang berdua bersama temannya, temannya ini agak gempal tubuhnya. Dari perlengkapan yang dikenakannya aku yakin ia ikut bergabung dalam pendakian ini. Tak lama kemudian Fauzi juga datang. Kami pun saling menanyakan keberadaan kawan-kawan yang lain. Sepertinya pendakian ini memang tidak seramai pembahasannya di kelas kemarin. Sekarang telah berkumpul 5 orang pendaki amatiran yang menunggu seorang yang sangat penting. Seseorang ini adalah pemandu pendakian kami, penunjuk jalan, jalan yang berliku. Dia adalah teman sekelas kami Mahdi, bukan Imam Mahdi loh...kiamat masih jauh kawan. Sepertinya sejarah memang berulang, budaya memang terjadi berulang, bahwa orang penting akan datang belakangan. Mahdi adalah contohnya saat itu, sang penunjuk jalan datang disaat semangat mendaki pupus dipelataran kampus. Mahdi pun membawa satu rekan Mapala-nya dalam pendakian ini.

Rombongan kami menggunakan bus umum untuk menuju terminal, setelah itu kami menuju utara Jogja yaitu kota Magelang. Sudah sifatku yang jarang bertanya, perjalanan selanjutnya aku tidak tahu menuju arah mana. Yang pasti perjalanan selanjutnya itu cukup melelahkan. Bus kecil yang mengangkut kami terus berjalan menanjak. Bus penuh penumpang ini terus bergoyang dan mengerang menaklukan setiap tanjakkan. Perjalanan dengan bus kecil ini pun berhenti di sebuah tanjakkan. Saat aku melompat keluar dari bus ini terhirup udara khas pegunungan, segar sekaligus dingin. Kami merenggangkan badan setelah sekian lama porsi perjalanan kami adalah duduk bersandar. Ternyata tidak rombongan kami saja yang akan mendaki sore itu. Beberapa kelompok yang sudah lebih dulu sampai tampak memulai acara utama, menapaki jalan menuju kaki gunung Merbabu. Kami tidak segera menyusul mereka. Kami akan menunaikan sholat Ashar berjamaah dahulu di Masjid dekat kami turun dari bus kecil tadi.
Aku sempat takjub melihat megahnya gunung Merbabu dari tingkat 2 Masjid dengan menggunakan binocular milik Mahdi. Aku meluaskan pandangan akan sekitar pemandangan puncak Merbabu seraya menunggu giliran untuk berwudhu. Saat tanganku terkena percikan air wudhu, aku benar-benar terkejut, airnya dingin sekali, seperti air es. Alhasil, mungkin inilah sholat berjamaah kami dengan barisan yang sangat rapat, tanpa diperingatkan sang Iman tentunya. Bukan karena apa-apa, sangat dingin kawan.

Setelah menunaikan sholat Ashar berjamaah, kami pun mulai merapikan barang bawaan sekaligus memeriksa kembali semua perbekalan. Setelah yakin semua siap, kami pun menyeberangi jalan aspal untuk berjalan menuju jalur pendakian.