Monday, November 17, 2008

Tamu Tak Diundang

Kotaku yang tercinta ini kembali mendapatkan musibah musiman. Bagaimana tidak hampir tiap tahun tamu tak diundang ini rajin menyambangi kami. Begitu dia datang semua warga pun heboh. Dia datang begitu saja, tanpa permisi, nyelonong. Begitu masuk rumah dia akan menyentuh semua yang dilaluinya dan apabila terlalu lama dia akan merusaknya. Betapa menjengkelkan tamu yang satu ini, karena kita sulit mengelak darinya. Kita tidak bisa mengelak dengan hanya mengatakan kita tidak sedang dirumah. Dia akan menghuni rumah kita sampai dia pergi sendiri. Tamu jenis apakah ini?

Kotaku banjir kawan. Banjir inilah tamu yang menjengkelkan itu. Beberapa hari yang lalu daerah utara kotaku memang sudah terlebih dahulu mencicipi kunjungan sang tamu ini. Daerah utara memang menjadi langganan apabila curah hujan sedang tinggi dan bendungan sudah mencapai titik ambang batas daya tampungnya.

Selama bendungan tersebut tidak dibuka, daerah rumahku tidak akan mendapatkan lawatan sang tamu tersebut. Entah karena khawatir akan daya tahan bendungan ini, katanya bendungan ini dibuka dan akibatnya pun dapat ditebak. Sang tamu dengan leluasa mengunjungi daerah kami secara perlahan namun pasti. Genangan air segera memenuhi jalan-jalan, rumah-rumah yang rendah segera tergenang. Aku masih mengucap puji syukur karena didepan rumah hanya tercipta genangan, sedangkan beberapa tetangga sudah melepaskan alas kaki untuk bermain air didalam rumahnya.

Keesokan harinya frekuensi ucapan puji syukurku meningkat, hari panas dan genangan air menurun. Betapa tidak bayangan akan segala kerepotan mengamankan barang-barang dagangan perlahan pupus. Tetapi beranjak melewati siang, awan mendung tampak datang menghadang, bayang-bayang kelam pun kembali mengambang. Tak lama berselang, hujan pun turun dengan derasnya.

Menjelang malam air pun perlahan-lahan mulai beranjak naik. Aku bersama keluarga dengan segala daya upaya mencoba menahan aliran air yang mencoba masuk kedalam toko. Dengan sapu lidi ditangan, aku siap menyapu bersih setiap genangan air. Kain-kain tua yang tebal tidak terpakai, mendadak jadi sangat berguna untuk menghambat aliran air yang mencoba masuk. Ban bekas mobil milik bengkel depan rumah segera diberdayakan sebagai tanggul dadakan. Air terus bergerak naik, hingga akhirnya mama mengkomandokan bahwa kami dalam kondisi siaga darurat, perintah pun jelas, kami harus bekerja keras, barang dagangan harus segera dievakuasi.

Selanjutnya tetesan keringat pun menghiasi setiap diri kami, barang-barang sedaya upaya dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Game centerku pun juga kebanjiran. Semua PC diamankan, kabel-kabel jaringan dilepaskan. Kaki yang sejak tadi terendam air, mulai terasa gatal. Selain tamu yang mulai masuk kedalam toko dan game centerku, tamu yang lain pun juga tak ingin kalah meramaikan penderitaan kami, karena mendadak toko menjadi gelap gulita, aliran listrik padam. Hanya dua tamu ini yang datang, kami sekeluarga tak mampu menghadang.

Bangun pagi pada keesokan harinya tidak menjadi rutinitas seperti biasanya. Namun aku mengucap syukur sedalam-dalamnya, karena aku yakin dua tamu yang telah datang ini tidak hanya sekedar menawarkan musibah dan kerepotan bagi banyak orang. Tetapi aku yakin pada mereka juga terselip paket-paket kebahagiaan bagi yang jeli melihatnya dari sudut pandang lain.

Seperti pagi ini, rutinitas seperti hari biasanya berganti. Aku jadi teringat dengan buku, majalah dan tabloid baruku yang belum sempat kubaca. Segera saja aku membuat segelas kopimix hangat yang kental untuk menemani menghabiskan bacaan. Suasana santai ditemani gemericik air banjir didepan rumah, suara anak-anak yang bergembira bermain air, musik kesayangan yang mengalun melalui MP3 player. Benar-benar suasana yang berbeda dan aku sangat menikmatinya. Tiba-tiba saja keinginan untuk menulis muncul, notebook pun segera kunyalakan. Tulisan ini pun aku kerjakan dengan santai. Lelah akibat gotong royong semalam pun perlahan-lahan sirna, diganti dengan layaknya suasana liburan. Mama dan kakaku pun terlihat santai, mereka berkumpul di ruang keluarga, mengobrol sambil menjahit pakaian yang terlepas kancingnya sambil sesekali bermain bersama kucing kesayangan.

Musibah banjir ini aku jadikan sebagai ajang latihan untuk mengendalikan suasana pikiran (state of mind). Sebagai orang yang masih belajar dalam mengelola pikiran positif, aku seperti mendapatkan materi latihan yang berkualitas. Game centerku yang tergenang air, aku anggap sebagai jadwal maintenance besar-besaran, membersihkan lantai dan kabel-kabel yang berseliweran. Begitu juga dengan toko yang selama ini aku tunda-tunda untuk merapikannya. Dengan musibah banjir ini mau tidak mau aku harus segera membersihkan dan merapikannya, jika tidak ingin rejeki segera kembali mengalir. Pikiran pun kembali bisa aku beri makanannya dengan membaca buku-buku baru yang tidak sempat aku baca.

Pada sore harinya aku bersama kekasih menyusuri daerah-daerah yang terkena banjir dengan mengendarai sepeda motor. Dengan cuek motor kuterjangkan ke genangan air, perasaan cemas bercampur gembira pun terluapkan. Bagaimana tidak, perasaan takut motor mogok karena tergenang air namun gembira karena serasa mengendarai jet ski. Bergoncengan motor dengan kekasih adalah hal yang biasa. Namun pengalaman kali ini tidak menjadi biasa, tetapi menjadi perasaan harap cemas nan romantis.

Banjir tahun ini, aku bersyukur karena bisa menikmati paket-paket kebahagiaan yang terselip didalamnya, paling tidak untuk diriku sendiri. Aku berharap bisa menemukan paket-paket kebahagiaan yang terselip dikejadian-kejadian lainnya yang dihadirkan oleh yang Maha Kuasa. Insya Allah…